
Sore itu langit kelabu, dia enggan untuk memberi warna jingga pada kotaku. Aku duduk termenung, mengingat lagi bagaimana aku bisa berjalan sejauh ini. dalam benakku pun turut berkata “sebenarnya semua ini untuk apa”. Aku terlarut dalam pikiranku tentang semua kebahagiaan yang terasa seperti mimpi ini, hingga tak menyadari bahwa Lampu kota mulai menyala di setiap sisinya, menerangi malam yang tak lupa aku sisipkan doa di antara sepinya. oh Tuhan, bagaimana aku bisa pergi dari kota ini nantinya, kota yang memberikan beribu rasa baru kepada hati yang selalu ragu.
Alam sadarku menarik diri, aku memperhatikan sekitarku yang begitu ramai kala itu, setiap sudut di isi tawa, setiap bahagia memberikan ketenangan, setiap kebersamaan memberikan kehangatan. Aku mulai bergabung bersama mereka, bernyanyi bersama, bercanda tawa, dan menyambung rasa yang telah mengikatku begitu lama, karena nyatanya rasa syukurku tak pernah pantas dan cukup atas semua yang aku miliki sekarang. Lihatlah wajah baru yang sekarang menjadi hari hariku, lihatlah representasi ilmu yang saling beradu. Mereka menunjukkan kepadaku makna hidup yang sebenarnya. Memberikan banyak pelajaran baru di setiap langkah kakiku. Aku pun turut larut dalam warna baru yang kupunya, mengambil pelajaran di setiap langkahnya, mengisi hati dengan kebahagiaan yang sempurna. Namun di tengah riuh bahagia hatiku ini aku berucap kepada mereka “bagaimana aku bisa meninggalkan kalian nantinya”. Mereka tak menjawab dengan hal yang rumit “ Lalu aku berucap lagi kepada mereka “aku sangat beruntung punya kalian di kota ini”.
Salah seorang di antara mereka menjawab dengan hal yang paling sederhana, dia berkata “kita jauh dari keluarga, dan di sini kita buat keluarga baru, keluarga kecil” oh Tuhan, betapa terenyuhnya hatiku saat itu. lihatlah keluarga kecilku, di kota besar ini aku punya tempat pulang, yang bukan hanya untuk berbagi kebahagiaan namun juga sedih dan lelahnya diri yang terus memaksa untuk kuat dan bertahan di setiap hari. Aku melangkah dengan ringan, berbahagia dengan sederhana yang tak mampu orang lain pahami, merengkuh kehangatan yang hatiku rasakan. Tiada yang bilang semua langkah ini akan terasa mudah bila bersama mereka, tawaku tak pernah di anggap remeh, dan tangisku tak berarti aku kalah. Di depan mereka aku bisa menjadi diriku sendiri.
Namun jika seseorang bertanya, “apakah setelah semua penerimaan itu, tak pernah ada badai di hidupmu” tentu saja tidak kawan, pernah suatu malam aku menangis, meraung, merasa semua ini begitu melelahkan. Namun seseorang datang kepadaku dan berkata “Tak apa-apa, menangislah. Namun ingat kami selalu disini, teruslah kuat ya”. Setelahnya tangisku bukan untuk meratapi takdir yang melelahkan ini, namun tentang bagaimana Tuhan bisa menghadirkan begitu banyak kebaikan yang berwujud orang dan ketenangan begitu melegakan untuk jiwa yang rawan layu ini. Mereka begitu mudah membuatku merasa di pahami malam itu. Namun, esok harinya mereka kembali menarikku masuk ke dalam tawa yang perlahan menyembuhkan semua rasa takut itu.
Di kota seribu pintu ini aku menjelajahi beribu pemikiran yang tak sempat aku bayangkan, menjalani apa yang memang seharusnya aku lakukan. Aku pun setuju dengan perkataan mereka “kita semua adalah orang terpilih dari kota kita masing-masing’’ Walaupun aku tak menyangkal bahwa banyak badai yang harus kita hadapi, perbedaan itu memang menimbulkan berbagai perdebatan yang sayangnya semua pemikiran adalah benar. Aku mulai belajar, bukan untuk menjadi orang yang “selalu merasa benar’’ namun menjadi orang yang dapat “mengakui kebenaran”. Mereka menyadarkanku bahwa perbedaan bukanlah halangan, justru itulah letak di mana kita bisa saling menyempurnakan apa yang kurang dan membenarkan apa yang salah. Sebelumnya aku sering berpikir untuk menyerah, aku selalu takut akan gagal, aku menangis di setiap lelah yang tak pernah aku perkirakan, aku pun selalu menimbang rasa kalah yang tak pernah aku pahami. Namun setelah mengenal mereka, resahku tiada arti, rumah yang ku miliki membuatku sekuat ini. Karena CSSMoRA lah aku bisa sekuat ini. Karena CSSMoRA lah di kehidupan yang sekali ini, aku merasa di hargai.
Liar angin masih selalu menemani diriku yang terkadang di rundung pilu, lalu rumahku datang, lagi dan lagi dia menenangkan badai yang ada di kepalaku. Aku sempat berpikir, bisa apa aku di kota ini tanpa adanya mereka. Mungkin setiap hari akan di isi dengan kehampaan yang tiada tanding. Entah bagaimana CSSMoRA mengubah warna ini menjadi begitu indah.
CSSMoRA adalah representasi perbedaan yang selalu menyatukan, perbedaan bukanlah halangan untuk kita berjalan bersama, ketidaktahuan bukan berarti kita tidak bisa berjalan. Representasi bhineka tunggal ika sejatinya adalah CSSMoRA. Dengan mereka satu persatu makna baru aku pelajari, dengan mereka bayangan menyeramkan itu hilang dari fikiranku. Aku selalu berpikir langkahku nanti akan terasa sulit, tapi ternyata dengan CSSMoRA semua angan itu adalah fatamorgana. Aku mulai belajar bagaimana cara menyelesaikan kesalahpahaman, aku belajar bagaimana membangun kepercayaan, aku belajar semua yang dulu aku anggap begitu sulit ternyata mudah atas bimbingan mereka. Dari mereka aku belajar memahami bahwa tidak semua “perbedaan’’ berujung “perdebatan”, justru yang aku temui adalah perasaan “saling menerima” atas semua perbedaan itu. Terimakasih karena telah hadir dalam kisah ini CSSMoRA ku. Terimakasih karena walaupun kita berbeda ras, suku, dan budaya namun semua itu bukanlah penghalang untuk kita saling mengasihi. Teruslah menjadi tempat ternyaman untuk aku pulang.
Langkah ini bukan hanya kemenangan biasa untuk diriku, aku merasa menang besar atas takdir yang mempertemukan aku dengan kata dan makna CSSMoRA. Masih dan akan selalu aku ingat, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini, aku hanya terus berdoa semoga aku bisa sekuat yang ada dalam bayanganku, namun di sisi hatiku yang lain aku memiliki ketakutan yang begitu besar “nanti aku sama siapa” terus membayangi langkahku. Namun Tuhan takkan pernah salah dalam menaruh arah. Dan ternyata arah itu membawaku bertemu mereka. Masih ku ingat, bagaimana reaksi hati ini ketika mendengar lagu CSSMoRA, saat itu aku benar-benar di buat merinding. Rasanya seperti janji sakral satu untuk selamanya bersama CSSMoRA. Teringat setiap moment baru bersama mereka, rasa tak percaya selalu saja muncul dalam benak ini, KTPT pertama, Temreg pertama, dan semua first experience bersama nya adalah hal tak dapat di duakan. Karena lah aku selalu suka kegiatan apapun itu asal bersama mereka. Karena jikalaupun seribu orang bertanya kepadaku, “apa yang membuatmu sebegitunya pada CSSMoRA?”. Maka aku akan selalu menjawabnya “ karena di kota ini, aku tidak lagi pulang ke bangunan, tapi kepada orang-orang yang membuatku bertahan” dan itulah mereka.
Penulis: Maftukha Khoiriyyah ( CSSMoRA UNWAHAS Angkatan 2024)
Editor: Konah Wulanah (PSDM CSSMoRA Nasional)

