
Ada satu hal yang membuat saya terus memikirkan video seorang ibu yang mendatangi barak narkoba seorang diri. Bukan karena keberaniannya yang luar biasa, melainkan karena muncul satu pertanyaan sederhana: mengapa seorang ibu harus melakukan itu?
Kita terbiasa menyebut seorang ibu sebagai penjaga rumah, tempat pulang yang paling aman bagi anak-anaknya. Namun, dalam video yang beredar beberapa waktu lalu, sosok itu justru berjalan menuju tempat yang seharusnya dihindari banyak orang. Tanpa seragam, tanpa perlengkapan keamanan, tanpa jaminan bahwa ia akan pulang dengan selamat. Ia datang bukan untuk mencari sensasi, melainkan karena merasa ada sesuatu yang harus dihentikan.
Keberanian seperti itu memang pantas dihargai. Tidak semua orang berani berdiri di hadapan sesuatu yang diduga menjadi pusat peredaran narkoba. Namun, semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa kisah ini bukan tentang keberanian. Ini adalah kisah tentang keadaan yang memaksa seseorang menjadi berani.
Sebab dalam masyarakat yang sistem perlindungannya berjalan baik, keberanian seperti itu seharusnya tidak diperlukan.
Yang membuat hati terasa berat justru bukan aksi sang ibu, melainkan alasan mengapa aksi itu terjadi. Ketika seseorang merasa harus turun tangan sendiri menghadapi persoalan sebesar peredaran narkoba, ada sinyal bahwa rasa aman mulai terkikis. Masyarakat perlahan kehilangan keyakinan bahwa persoalan yang mereka hadapi akan segera ditangani oleh pihak yang memang diberi kewenangan.
Ironisnya, setelah video itu viral, aparat bergerak. Barak dibongkar, barang bukti ditemukan, tetapi dugaan bandar yang menjadi sumber persoalan belum juga tertangkap. Sulit untuk tidak bertanya: apakah sebuah masalah harus lebih dulu menjadi tontonan publik agar mendapatkan perhatian? Jika benar demikian, lalu bagaimana dengan persoalan-persoalan lain yang tidak sempat direkam kamera?
Peristiwa ini juga memperlihatkan satu kenyataan yang sering luput kita sadari. Narkoba bukan hanya merusak mereka yang mengonsumsinya. Ia merampas rasa aman seluruh warga. Ketika sebuah lingkungan telah dikuasai rasa takut, bahkan seorang ibu bisa merasa bahwa diam bukan lagi pilihan. Padahal, melawan jaringan narkoba bukanlah tanggung jawab warga biasa. Itu adalah tugas negara melalui aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan, perlindungan, dan perangkat yang memadai.
Bukan berarti masyarakat tidak boleh peduli. Justru kepedulian warga adalah modal utama dalam menjaga lingkungan. Namun kepedulian itu seharusnya diwujudkan melalui saluran yang aman yaitu melapor, bekerja sama, dan mengawasi. Bukan dengan mempertaruhkan nyawa seorang diri. Tidak ada keluarga yang seharusnya cemas karena ibunya memilih menghadapi risiko yang seharusnya dipikul oleh negara.
Barangkali inilah yang perlu menjadi bahan renungan bersama. Kita memang patut mengapresiasi keberanian sang ibu. Tetapi akan lebih baik lagi jika kita membangun sistem yang membuat keberanian seperti itu tidak lagi dibutuhkan. Sebab ukuran keberhasilan sebuah negara bukanlah seberapa banyak warga yang berani melawan kejahatan sendirian, melainkan seberapa yakin warganya bahwa ketika mereka meminta pertolongan, negara akan hadir sebelum mereka terpaksa bertindak sendiri.
Penulis: Tim Literasi PSDM CSSMoRA Nasional
Editor: Konah Wulanah (PSDM CSSMoRA Nasional)



