Dulu, kau adalah nama yang selalu datang bersama ketenangan. Seseorang yang hadir bukan hanya saat senang, tetapi juga ketika hidupku sedang berantakan. Kita pernah berdiri
Dulu, kau adalah nama yang selalu datang bersama ketenangan. Seseorang yang hadir bukan hanya saat senang, tetapi juga ketika hidupku sedang berantakan. Kita pernah berdiri
Satu hentak yang tersentak Satu sibak yang terkuak Satu tapak menghantar serempak Satu sepak mencetak serentak Hei, pelumat tanpa pilah Telan lewati kunyah Fungsi
Di masa ketika langit terasa rendah, dan langkah-langkah dibatasi arah, ilmu bukan milik setiap jiwa, ia dijaga, dipagari, dan dijauhkan dari mata yang ingin tahu.
Di antara hari-hari yang terasa sama, ada langkah kecil yang sering kita abaikan. Bukan tentang seberapa cepat sampai, tetapi tentang berani untuk tetap berjalan, meski
Aku kira menghafal Al-Qur’an itu sesuatu yang mudah, cukup membaca lalu menyimpannya di kepala. Namun ternyata tidak sesederhana itu. Ada ayat yang hilang dari ingatan,
Langit sore memberi warna. Pada hari yang kelabu rasanya.’ Pada matahari yang menyembunyikan sinarnya. Ikut bersedih menyaksikan deritanya. Harum semerbak bunga tak menarik lagi baginya.
Berat jejak nestapa Kubopong di bukit raga Dibisiki siulan malam Mengarah persinggahan jiwa Tertatih-tatih ku menapakkan jejak Memenuhi seruan batin di persinggahan Mengentak duri
Di balik senyum yang kau pasang setiap hari, ada badai yang tak pernah kau ceritakan. Langkahmu tegak, seakan dunia tak mampu menggoyahkan, padahal hatimu