Puisi

Kurban dan Kemanusiaan

Selepas azan Maghrib di ujung senjaTakbir menggema dengan syahdunyaMembawa sendu dalam gertakan kalbuKurban apa di Idul Adha-ku..? Bagaimana jika sembelih saja perilaku kekerasan?Mengorbankan kefanatikan demi kedamaianMengorbankan kesombongan demi keikhlasanMengorbankan kepatriarkian demi kesetaraan “Atas izinNya, Nabi Ismail tak jadi disembelihkan? “Simbolik dari pentingnya menjaga darah,dan jiwa manusia atas dasar kemanusiaanSimbolik dari larangan,akan adanya pertumpahan darahdari, oleh, dan untuk manusia manapun Mari kita jaga kekuatan keimanan  dan kemanusiaanSepanjang nafas masih dapat kita

Petualangan Jiwa di Pelukan Halaman

Disudut sunyi ruang yang tenangSeorang jiwa tenggelam dalam tulisan terangMembuka lembar demi lembar dengan senyuman,Buku adalah sahabat dalam perjalanan harian. Pagi di mulai dengan desiran kataMenyapa hari dengan penuh maknasetiap huruf menari di depan mataMembawa dunia baru dalam setiap raga. Di antara baris, dia menemukan dunia,Petualangan, cinta, dan sejarah tua,Di setiap halaman, dia memberi mimpi,Menyusuri alur dengan hati yang penuh kasih. Siang menjelang, waktu tetap berlalu, Namun buku di tangannya tak

Pulang untuk pergi

Bukankah definisi pulang itu untuk selamanya?Lantas kenapa disebut pulang jika akan pergi kembali? Aku bertanya-tanyaHingga suatu ketika aku merasakannya Iya,,, merasakan pulang untuk pergi,,, lagi,,, Ternyata dibalik itu ada banyak makna yang mungkin tak semuanya bisa terlontar oleh kata dan tertuang menjadi aksara Rasanya begitu berat,Meninggalkan tempat dengan jutaan kenyamanan nyaOrang-orang yang disayang dengan ribuan ceritanya Ulasan senyuman yang dipaksakan sebagai bentuk penenangNyatanya sirna dan tergantikan oleh tangisan kala salam

Tuntutan Hati Mati

Tak adil kataku, Kau tetap diamIngkar janji kecamku, Kau masih tak bergemingPembohong teriakku, kosongAku mulai ragu kau mengerti bahasa manusiaAku kesal, siluet-Mu saja bahkan tak terlihat sekarang Katanya semua akan dipermudahTapi mengapa aku tetap dapat gundah?Katanya semua pertanyaan mendapat jawabanBuktinya suratku tak pernah dapat balasan?Katanya semua permintaan dikabulkanMenuku bahkan tak berkurangLantas apakah aku harus tetap percaya? katanya jika lelah aku harus pulangAku sudah pulang, tapi tak kurasakan sambutanKau ini bagaimana?Atau

Ku Sebut Mereka sebagai “Rumah”

Di tengah bisingnya kota SemarangTernyata masih saja ada seorang anak yang tak tahu diriMenembus bisingnya kota besar dengan tangisan yang begitu rintih|Tersedu-sedu tak tahu malu Ada kecemasan dan banyak rasa takut berhinggapanIa terlalu takut menghadapi duniaDunia yang ternyata telah membawanya pada sebuah kenyataanDunia yang memaksanya untuk sadar Takdir bermain begitu jenakaMembawanya pada belahan bumi yang sekarang ia pijak, “ini di mana” katanyaTakut, cemas, dan banyak rasa khawatir menggerus pikirannyaSeorang anak kecil

Kembali

Hingar bingar kehidupan kota yang memuakan|Suara bising yang setiap saat telinga ini dengarSungguh aku muak, Sungguh aku letihSungguh aku ingin berhenti pada titik ini Tuhan, Lihat aku, tolong aku..Aku terjerembap dalam kubangan kesalahanAku kian terperosok semakin dalamAku tidak tahu bagaimana caranya Kembali ke permukaan, aku terlalu dalam Tuhan..Aku terlalu malu hanya untuk sekedar menyebut namamuAku terlalu malu hanya untuk Kembali menengadahkan kedua tangankuAku terlalu jauh, aku terlalu sombong Tuhan..Harus ke

Bisa Kah Ku Tenang?

Deru suara alam kian benderangSuara hewan, gemercik air kian terdengar terangKatanya di sana ada ketenanganNamun apakah itu benar? Untaian kata tenang, kian menjadi jadiSemua berlari lari untuk tenangTenang, selalu menjadi harapan kian banyak orangOh apa dan bagaimana sebenarnya tenang Sungguh siapa yang tahuSeperti apa dan bagaimanaTenangLetih jiwa terus berperang Berlebihan kah jika ku katakan tenang itu tak adaAtaukah aku telah salah mendefinisikannya?Seketika aku diserang, kau lah yang tidak tahu katanyaSebentar,

Siapa Yang Tau

Lahir seperti manusia pada umumnya,Alhamdulillah, terlahir sempurna.Hidup di keluarga sederhana, jauh dari gemerlap kota,Namun, siapa yang tahu dari keluarga mana aku berasal? Waktu terus berjalan,Awalnya tak memiliki kemampuan apa pun,Tak mampu bicara,Namun, siapa yang tahu kini aku bisa berkata-kata? Aku adalah seorang anak desa,Sungguh, tak paham betapa luasnya dunia.Mengenai meninggalkan desa, tak pernah terbayangkan,Namun, siapa yang tahu kini aku hidup di hiruk pikuk ibu kota? Jujur kuungkapkan dalam untaian kata-kata,Meskipun

Berbahagialah Karena Tuhan Sedang Memujimu

Di mana bisa kutemukan bahagia?Di balik dinding rumah megah nan mewah?Atau cukup di sudut bilik kecil yang sederhana?Tolong, beritahu aku di mana bahagia berada. Bagaimana cara mencapai bahagia?Saat aku tak memiliki apapun.Bagaimana caranya merasakan bahagia?Ketika aku hanya bisa pasrah pada keadaan yang ada. Oh Tuhan, bahagia seperti apa yang Engkau maksudkan?Tuhan, mampukah aku merasakan bahagia?Sementara langkahku tertatih-tatih, dipenuhi luka.Tuhan, mengapa Engkau diam tanpa kata? Perjalanan demi perjalanan ku tempuh,Mengaitkan arti-arti

Ahlan Kawan

Kawan lama telah tiba,Sambutannya hangat, pelita hati bercahaya.Gema keagungannya memayungi dunia,Buah tangan berlipat membawa berkah,Jiwa yang haus pahala bersuka cita. Kawan lama telah tiba,Terkadang ia datang dalam kelaparan dan dahaga.Namun, aku tak cemburu,Sebab di sanalah kemenangan menanti,Sundara akan tercipta dalam kemenangan akhirnya. Kawan lama telah tiba,Kehadirannya menghidupkan lintang malam gulitaMenjelma penuh keindahan anupamaSahut menyahut penuh syahdu iramaSemakin berseri naluri, “Pintu syurga terbuka” bisiknya Kawan lama telah tiba,Segala kebaikan disyukuri bersamaAh,