Dulu, kau adalah nama yang selalu datang bersama ketenangan. Seseorang yang hadir bukan hanya saat senang, tetapi juga ketika hidupku sedang berantakan. Kita pernah berdiri
Dulu, kau adalah nama yang selalu datang bersama ketenangan. Seseorang yang hadir bukan hanya saat senang, tetapi juga ketika hidupku sedang berantakan. Kita pernah berdiri
Di masa ketika langit terasa rendah, dan langkah-langkah dibatasi arah, ilmu bukan milik setiap jiwa, ia dijaga, dipagari, dan dijauhkan dari mata yang ingin tahu.
Aku kira menghafal Al-Qur’an itu sesuatu yang mudah, cukup membaca lalu menyimpannya di kepala. Namun ternyata tidak sesederhana itu. Ada ayat yang hilang dari ingatan,
Langit sore memberi warna. Pada hari yang kelabu rasanya.’ Pada matahari yang menyembunyikan sinarnya. Ikut bersedih menyaksikan deritanya. Harum semerbak bunga tak menarik lagi baginya.
Berat jejak nestapa Kubopong di bukit raga Dibisiki siulan malam Mengarah persinggahan jiwa Tertatih-tatih ku menapakkan jejak Memenuhi seruan batin di persinggahan Mengentak duri
Lagu ini dibuka dengan gambaran yang sangat personal dan emosional: “Merenungi alam semesta, merintih ke langit / Di sumbu bumi yang sesak, jiwaku dipeluk.” Ghea
Bayang-bayang istidraj menghantui kuBerbagai pertanyaan muncul di benakkuMengapa jalan ku begitu mulusSeolah semua yang aku panjatkan diberikan oleh-NYAApakah ini bentuk kasih sayangAtau jalan menuju kebinasaanMerasa