WARGA ACEH PATUNGAN MEMPERBAIKI JALAN NEGARA

Sumber: Kumparan NEWS

Ketua Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menyatakan bahwa dengan adanya peristiwa warga yang patungan hingga Rp1 miliar untuk memperbaiki jembatan menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dalam masyarakat Indonesia. Di tengah keterbatasan dan lambatnya respons pemerintah, masyarakat mampu bersatu untuk menyelesaikan masalah bersama.

Namun, di sisi lain, kejadian ini juga menjadi kritik terhadap pemerintah, karena pembangunan infrastruktur pada dasarnya merupakan tanggung jawab negara. Fakta bahwa jembatan tersebut belum memenuhi standar keamanan dan hanya layak untuk kendaraan ringan menunjukkan bahwa perbaikan swadaya tidak dapat menggantikan peran negara secara penuh.

Dalam Islam, gotong royong merupakan nilai yang sangat dianjurkan. Allah berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2). Namun demikian, pemimpin tetap memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Nabi SAW bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari).

Aksi warga patut diapresiasi sebagai bentuk solidaritas, tetapi tidak boleh menjadi alasan bagi negara untuk lepas tangan. Pemerintah tetap harus hadir secara optimal untuk menjamin keamanan, kualitas, dan keadilan dalam pembangunan infrastruktur.

Latar Belakang

Setelah terjadinya banjir bandang di Aceh. Masih banyak fasilitas yang belum diperbaiki sampai sekarang. Terutama di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Warga yang telah lama menunggu perbaikan jalan rusak selama berbulan-bulan, membuat warga frustasi dan mulai bergerak sendiri untuk memperbaiki jalan yang rusak. Pada Mei 2026, warga mengambil langkah berani dan warga sepakat menggalang dana swadaya untuk memperbaiki sendiri jembatan tersebut.

Dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat, Sahrial Abadi, warga mulai mengumpulkan donasi dari berbagai kalangan. Gerakan ini mendapat sambutan luas. Dana yang terkumpul tembus hingga Rp 1 miliar lebih. Dengan dana terkumpul tersebut, warga Alur Cincin dan Alur Gading mulai memperbaiki Jembatan Enang-Enang dan juga digunakan untuk pengaspalan dan pembangunan dinding penahan jalan. Setelah fasilitas sudah diperbaiki pada Kamis (2/7), warga meresmikan Jembatan Enang-Enang secara simbolis.

Sumber: Berbagai Sumber

Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional

Editor: Thariq Afdhala

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *