Sumber: Tribunnews.com
Ketua Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, turut prihatinan dan rasa duka yang mendalam terhadap apa yang dialami oleh tiga santri tersebut, CSSMoRA menyampaikan belasungkawa atas peristiwa tragis yang menimpa para santri di salah satu pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, yang mengakibatkan korban luka berat hingga meninggal dunia.
Peristiwa ini bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi refleksi serius bagi seluruh elemen pendidikan pesantren di Indonesia. Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, serta menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam setiap interaksi antar santri maupun pengelola. CSSMoRA percaya bahwa pesantren adalah pilar penting dalam membangun peradaban bangsa. Oleh karena itu, menjaga marwah dan integritas pesantren merupakan tanggung jawab bersama.
Peristiwa ini hendaknya menjadi momentum evaluasi kolektif untuk memperbaiki sistem, memperkuat nilai, serta memastikan bahwa tidak ada lagi santri yang menjadi korban kekerasan di lingkungan pendidikan. Semoga Allah SWT memberikan ketabahan kepada keluarga korban, serta menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga bagi kita semua.
Latar belakang
Peristiwa ini terjadi pada tanggal Sabtu, 13 Desember 2025 pukul 13.00 Wita di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW pada saat jam istirahat. Berawal saat tersangka berinisial MR menyuruh korban SS untuk membeli satu liter bensin yang ada di luar kawasan pondok pesantren. Niat awal tujuan menyuruh membeli bahan bakar eceran tersebut adalah sebagai ganti dari tiner untuk campuran cat. Kemudian, tersangka mengajak korban mencari kayu untuk membuat ketapel dan berkumpul di salah satu ruangan.
Ruangan tersebut jauh dari pengamatan, tertutup, terhalang pandangan dari luar karena berada persis di belakang salah satu gedung tidak terpakai yang berada di area pondok pesantren. Saat lima santri berkumpul berada di dua posisi, tiga anak berada di tengah dekat tempat tidur dan dua anak dekat pintu. Lalu, tersangka mencoba menghidupkan api dengan menuangkan bensin ke plastik mika untuk membakar kayu tersebut. Namun, percikan api tersebut menyambar sisa BBM yang ada di dalam botol sehingga api tersebut cepat menyambar dan membesar hingga anak panik dan mencoba menyelamatkan diri. Dua orang termasuk tersangka berhasil keluar ruangan sementara tiga anak terjebak di dalam ruangan dan pintu tidak dapat dibuka karena tidak ada pengait. Ketiga korban berhasil diselamatkan setelah tersangkan meminta bantuan dan pintu didobrak dari luar.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala




