Indonesia saat ini tengah menghadapi dinamika sosial-politik yang cukup kompleks. Aksi demonstrasi, kericuhan di berbagai daerah, serta penjarahan rumah para pejabat. Situasi ini tidak jarang menimbulkan keresahan publik, bahkan berujung pada perpecahan di tengah masyarakat.
Sebenarnya apa yang menjadi latar belakang aksi demonstrasi yang terjadi pada akhir Agustus hingga awal September 2025 kemarin, apa yang memicu masyakat sehingga akhirnya melakukan aksi demonstrasi. Dilansir dari BBC News Indonesia, peneliti politik dari PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama, mengatakan demonstrasi yang meletus sejak 25 Agustus bukanlah ledakan spontan, melainkan lahir dari akumulasi keresahan yang sudah lama dipendam. Presiden Prabowo memberi tanda kehormatan kepada pejabat di lingkarannya- termasuk orang yang pernah terbelit korupsi, dan gaji-tunjangan anggota DPR mencapai lebih dari Rp100 juta di saat masyarakat mengeluh soal perekonomian.
Dalam konteks inilah, teladan Rasulullah SAW hadir sebagai sumber inspirasi yang sangat relevan. Rasulullah SAW memiliki karakteristik kepemimpinan yang luar biasa dan dijadikan teladan oleh umat Islam sepanjang sejarah. Empat karakteristik utama yang paling sering dibahas dalam konteks kepemimpinan beliau adalah siddiq (benar/jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan/komunikatif), dan fathonah (cerdas). Kepemimpinan beliau yang penuh keadilan, kemampuannya dalam menyatukan umat yang beragam, serta kepeduliannya terhadap kaum lemah, memberikan pelajaran penting bagi Indonesia masa kini. Dengan meneladani nilai-nilai profetik tersebut, bangsa Indonesia memiliki peluang untuk membangun kepemimpinan yang amanah, memperkuat persatuan umat, dan menumbuhkan kepedulian sosial sebagai fondasi perdamaian dan keadilan sosial.
Idealnya sifat seorang pemimpin adalah seperti yang disebutkan dalam Al- Qur’an, yang mana semuanya itu dapat kita lihat dalam kepribadian Rasulullah. Sebagaimana yang tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 746, dalam hadis tersebut diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwasanya dia mengatakan itu ketika menggambarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Disebutkan dalam hadits yang panjang tentang kisah Sa’ad bin Hisyam bin Amir ketika datang ke Madinah dan mengunjungi Aisyah Radhiyallahu ‘Anha untuk menanyakan beberapa masalah. Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritahulah aku tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam!” Aisyah bertanya, ‘Bukankah engkau membaca Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al-Qur’an.” Kemudian aku hendak berdiri dan tidak bertanya kepada siapapun tentang apapun hingga aku mati…” (HR. Muslim, no. 746).
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki sifat amanah, adil, dan berakhlak mulia. Segala kebijakan beliau selalu dilandasi pada nilai kejujuran dan tanggung jawab, sehingga mampu menumbuhkan kepercayaan umat. Kepemimpinan beliau bukanlah kepemimpinan yang otoriter, melainkan kepemimpinan profetik yang menjunjung tinggi nilai syura (musyawarah). Rasulullah selalu melibatkan para sahabat dalam mengambil keputusan, bahkan dalam perkara penting seperti strategi perang. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang ideal tidak hanya bertumpu pada satu sosok, melainkan mengutamakan kebersamaan dan keterbukaan.
Relevansi dengan kondisi Indonesia saat ini sangatlah kuat. Di tengah krisis kepercayaan terhadap para pemimpin, bangsa ini membutuhkan figur kepemimpinan yang adil dan mampu mengayomi semua golongan. Pemimpin sejati adalah mereka yang tidak memperuncing perbedaan, melainkan menjadikannya kekuatan untuk membangun persatuan. Jika teladan Rasulullah diterapkan, pemimpin Indonesia seharusnya mampu berdiri di atas semua kelompok, bukan hanya berpihak pada kepentingan tertentu.
Salah satu contoh nyata dari kepemimpinan inklusif Rasulullah adalah Piagam Madinah (Perjanjian Madinah). Menurut J. Suyuti Pulungan, Marduke Pickthal, H.A.R. Gibb, Wensinc, dan Montgomery Watt menyebut Piagam Madinah itu sebagai Konstitusi Madinah (Madinah Constitution). Alasan-alasan yang menempatkan Piagam Madinah sebagai Konstitusi Madinah karena di dalamnya terdapat prinsip-prinsip untuk mengatur kepentingan umum dan dasar sosial politik yang bertujuan untuk membentuk suatu masyarakat dan pemerintahan sebagai wadah persatuan penduduk Madinah yang bersifat majemuk itu.
Dokumen bersejarah ini berhasil mempersatukan masyarakat Madinah yang plural, terdiri dari berbagai suku dan agama. Rasulullah menempatkan semua pihak pada kedudukan yang sama, menjamin kebebasan beragama, serta menegakkan keadilan bagi seluruh masyarakat tanpa diskriminasi. Prinsip inklusif ini bisa menjadi cermin bagi bangsa Indonesia, yang juga berdiri di atas kemajemukan. Dengan meneladani kepemimpinan Rasulullah, Indonesia berpeluang memperkuat persatuan nasional sekaligus meredam konflik sosial yang kerap muncul akibat perbedaan pandangan.
Salah satu keberhasilan besar Rasulullah SAW adalah kemampuannya mempersatukan umat yang sebelumnya terpecah belah. Suku Aus dan Khazraj, yang telah lama berseteru di Madinah, berhasil dipersaudarakan melalui dakwah dan keteladanan beliau. Tidak hanya itu, Rasulullah juga membangun ukhuwah antara kaum Muhajirin yang hijrah dari Makkah dan kaum Anshar sebagai penduduk asli Madinah. Ikatan ukhuwah ini tidak sekadar simbolis, melainkan diwujudkan dalam praktik nyata: saling menolong, berbagi harta, bahkan rela mengorbankan kepentingan pribadi demi saudara seiman. Hal ini menunjukkan bahwa persatuan umat adalah fondasi utama dalam membangun masyarakat yang kuat.
Indonesia sebagai bangsa besar dengan keberagaman suku, agama, dan budaya sangat membutuhkan teladan Rasulullah SAW dalam menghadapi tantangan zaman. Kepemimpinan beliau yang amanah dan adil, kemampuannya dalam mempersatukan umat yang berbeda, serta kepeduliannya terhadap kaum lemah merupakan nilai profetik yang relevan untuk kondisi bangsa saat ini.
Jika prinsip-prinsip kepemimpinan, persatuan, dan kepedulian sosial ala Rasulullah dihidupkan kembali, kericuhan dan perpecahan yang sering muncul di tengah masyarakat dapat diminimalisir. Sebaliknya, bangsa ini akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis.
Harapannya, Indonesia mampu menjadi bangsa yang damai, adil, dan bersatu. Dengan menjadikan Rasulullah sebagai inspirasi utama, bangsa ini dapat bergerak menuju masa depan yang lebih baik, di mana persatuan umat, kepedulian sosial, dan kepemimpinan yang amanah menjadi ruh dalam setiap langkah pembangunan.
Nurul Huda (CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga, 2024)



