KEIKHLASAN

Malam belum benar-benar turun ketika Novi tiba di bandara besar itu. Langit masih menyisakan warna jingga yang pudar, seolah enggan sepenuhnya menyerahkan hari pada gelap. Lampu-lampu mulai menyala satu persatu, menciptakan bayangan panjang di lantai bandara yang dingin.

Novi duduk di bangku besi dengan suasana hati gelisah, tangannya menggenggam tiket yang sedari tadi tak ia lihat. Bukan karena tak penting, justru karena terlalu berarti untuk dirinya. Tiket itu bukan sekadar perjalanan, tapi sebuah keputusan besar yang dia ambil untuk pergi, untuk meninggalkan seseorang yang selama ini menjadi salah satu bahagian dari dirinya.

Langkah kaki terdengar mendekat dengan membawa paperbag biru.

Novi tak perlu menoleh untuk tahu siapa.

“Kamu udah yakin nak?,” suara itu terdengar sangat hangat di telinga Novi, bahkan sangat akrab, tapi menyakitkan di waktu yang sama.

Novi tersenyum kecil, menunduk. “Eemm… iya, aku bu, In sya Allah yakin.” Novi menjawab dengan mata yang berkaca-kaca.

Ibu Marta duduk di sebelahnya, menyisakan sedikit jarak yang terasa aneh. Dulu, mereka tak pernah menjaga jarak seperti ini. Dulu, dunia seolah terlalu luas untuk mereka berdua,

sekarang justru terasa terlalu sempit untuk menampung semua yang ingin diucapkan.

“Anaknya ibu yang cantik, kamu masih sempat kok buat berubah pikiran ,” kata Ibu Marta setengah bercanda, meski suaranya tak sepenuhnya ringan.

Novi menggeleng pelan. “Tapi bu, kalau aku berubah pikiran, aku nggak akan pernah berani pergi, aku nggak bisa dong kayak ibu.”

Ibu menatap lurus ke dinding yang berlapis kaca yang ada di depannya. Parkiran pesawat meluas seolah ruang hampa dan sunyi akan ia temui nantinya, ia seakan melihat dirinya yang dahulu, dan sekarang ia tahu perasaan ibunya dahulu sewaktu ia juga dulu pergi .

“Lucu ya nak,” gumam Ibu Marta, “Dulu, ibu juga pernah berada di posisimu tapi ibu nggak rela kamu pergi untuk menemukan jati dirimu, maafkan ibu yah nak ”

Novi tersenyum pahit. “Bu, Ibu nggak usah minta maaf, ini sudah jadi takdir kita bu.” Hening kembali hadir, tapi kali ini terasa lebih berat.

Di sekitar mereka, orang-orang lalu lalang, ada yang tertawa, ada yang terburu-buru, ada yang sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak ada yang tahu bahwa di salah satu sudut bandara itu, ada dua orang yang sedang mencoba mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang tak pernah benar-benar ingin mereka lepaskan.

“Kamu masih ingat gak? Waktu ayah pergi untuk selamanya, saat itu ibu hanya berfikir untuk terus membahagiakan mu walaupun tanpa sosok ayah” kata Ibu tiba-tiba.

Novi tertawa kecil. “Dan ibu berhasilkan? Buat aku bahagia tanpa sosok ayah.” “Tidak nak…, kamu salah” Ibu mengoreksi, “Ibu gagal nak,.”

Novi menoleh, sedikit terkejut. “Bu. !”

Ibu mengangguk. “ Ibu gagal nak, Andai ibu berhasil buat bahagia-in kamu, kamu pasti nggak akan pergi ninggalin ibu nak. ”

Novi diam. Ia tidak tahu harus tertawa atau menangis.

“Ibu berfikir saat ini,” lanjut Ibu, “kayaknya ibu nggak mampu buat kamu bahagia nak.”

Novi menarik napas panjang. “Bu, ibu berhasil bu, aku sangat bahagia bu, ibu adalah ibu yang hebat, ibu bisa mengantikan sosok ayah dan bisa menjadi sosok ibu yang sangat hebat buat aku, aku pergi, karna aku ingin menjadi sosok yang hebat seperti ibu, jangan khawatir ya bu.

“Iya,” Ibu tersenyum dengan pipi yang di banjiri oleh air mata, “Ibu yakin nak, kamu akan menemukan jati dirimu di saat yang tepat.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Novi merasakan sesuatu mengencang di dadanya, matanya mulai berkaca-kaca. Ada begitu banyak kata yang ingin ia keluarkan, tapi semuanya terasa terlalu rapuh untuk diucapkan.

“Iya bu, ibu yakin kan sama anak ibu ini?,” akhirnya ia berkata pelan. “Walaupun aku harus hidup tanpa ada di sisi ibu.”

Ibu menatapnya. “Nak.

“ya bu..?”

“Jangan pernah lupa yah, kalau ibu selalu menyayangi kamu, dukung kamu, dan selalu merindukan kamu, ibu yakin anak ibu adalah anak yang tangguh. Ibu selalu ada saat kamu terpuruk, dan ibu akan selalu jadi rumah untuk kamu pulang nak.”

Novi terdiam cukup lama. Ia memandang pesawat yang di parkir rapih di depannya, seolah mencari jawaban di sana.

“Iya bu, ibu akan selalu jadi tempat pulang ternyamanku,” jawabnya dengan terisak.

Ibu tersenyum tipis, ada perasaan tak tega di sana. “Harus yah nak.” Dengan memeluk Novi

Suara pengumuman terdengar samar, menyebutkan pesawat yang akan ia naiki akan terbang. Waktu mereka benar-benar tinggal sedikit.

Novi menunduk, memainkan ujung tiketnya. “Ibu tau nggak, yang paling aku takutin?”, “Apa, nak?” jawab ibu

“Bukan karna aku takut jauh dari ibu,” jawab Novi, dengan suara bergetar, “tapi, aku takut kehilangan ibu di dunia ini, karna cuman ibu yang aku punya.”

Ibu terdiam.

“Nak, kehidupan ini nggak ada yang kekal nak, pasti semua akan pergi” lanjut Ibu. “Nggak bu cuman ibu yang buat aku kuat bu.” lanjut Novi

Ibu menggeleng pelan sambil tersenyum. “Nggak nak, kita nggak boleh lawan takdir dari Allah nak, tapi ibu akan selalu berusaha untuk selalu ada buat kamu.”

Novi menatap ibunya, matanya berkaca-kaca. “Ibu, aku bakal kangen dengan semua hal tentang ibu” sambil memeluk ibunya dengan erat.

Suara orang-orang mulai terdengar lebih ramai. Getaran halus terasa di bawah kaki mereka. Novi berdiri perlahan. Ibu ikut berdiri.

Pelukannya lepas, dan hanya bergenggaman tangan, juga tak ada jarak diantara mereka. “Bu, boleh aku peluk ibu sekali lagi?,” kata Novi.

Ibu tersenyum sedih. “Sini sayang.” sambil mencium kening anaknya

Orang-orang mulai masuk dan memperlihatkan tiketnya kepada staf yang bekerja saat itu.

Novi tetap berdiri di tempatnya, menatap ibunya seolah ingin menghafal setiap detail

wajahnya, caranya tersenyum, matanya yang selalu tenang, dan segala hal kecil yang selama ini ia anggap biasa, tapi ternyata sangat berarti.

“Ibu,” panggilnya. “Iya, sayang” jawab ibu “Terima kasih ya ibu.”

Ibu mengangguk. “Terima kasih juga ya nak… udah yakinin ibu, kalau anak ibu udah kuat.”

Novi melangkah masuk dan memperlihatkan tiketnya . Ia berjalan menuju kendaraan yang akan membawanya pergi jauh dari tempatnya sekarang, dengan air mata di pipinya.

Dari balik dinding kaca yang lebar, ia melihat Ibunya masih berdiri. Kali ini, tidak ada kata-kata lagi.

Hanya tatapan.

Hanya perasaan yang tidak pernah selesai. Ia sudah menaiki tangga pesawat

Dengan langkah yang sangat berat.

Ibunya tetap di sana, semakin kecil, semakin jauh… hingga akhirnya menghilang di antara kerumunan dan lampu-lampu yang mulai kabur.

Novi memejamkan mata.

Air matanya jatuh, tapi kali ini ia tidak mencoba menahannya.

Di dalam hatinya, ada sesuatu yang hancur, tapi juga sesuatu yang tetap utuh. Kenangan.

Tentang seseorang yang ia dapatkan di waktu yang tidak sempurna, tapi dengan cara yang paling tulus.

Tentang cinta yang jauh dimiliki, tapi berhasil dirasakan.

Dan tentang sebuah perpisahan… yang tidak pernah benar-benar selesai. Karena pada akhirnya, berpamitan bukan tentang melupakan.

Melainkan tentang belajar hidup… dengan sebagian hati yang tertinggal di tempat lain.


Penulis: Astri Novianti Asis (CSSMoRA UIN Alauddin Makassar 2025)

Editor: Abdul Aziz Maulana Rachman (PSDM Nasional) 

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *