2023: Diantara Doa dan Ketetapan-Nya

Hai aku Keisya, sejak kecil aku percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Namun, aku juga sadar bahwa untuk mencapainya aku harus berjuang lebih keras. Belajar siang dan malam adalah bukti aku benar-benar serius ingin mengubah masa depan itu. Dibalik keinginanku untuk melanjutkan pendidikan, ada kekhawatiran yang selalu dan selalu menghantui benak pikiranku:

“Apakah aku mampu membiayai kuliahku nanti?”

“Apakah aku tidak akan menjadi beban untuk orangtuaku?”

Dan masih banyak lagi. Pikiran-pikiran tersebut tidak jarang memenuhi pikiranku kala itu. Satu hal pasti, jika ingin melanjutkan pendidikan, aku harus memperjuangkannya sendiri melalui beasiswa.

Sejak duduk dibangku sekolah menengah atas (MA) aku sudah memiliki satu tujuan besar: Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, kenyataan perlahan menyadarkanku bahwa kondisi ekonomi keluargaku saat itu tidak benar-benar mendukung. Di sisi lain, dua orang kakakku yang masih berstatus mahasiswa, di bidang kesehatan membuat nyaliku semakin ciut untuk melibatkan orangtuaku didalamnya. Dari situlah aku mulai mencari peluang beasiswa sebagai jalan untuk tetap mengejar mimpiku. Sayangnya, usaha untuk mendapatkan beasiswa tersebut justru membawaku pada rangkaian kegagalan yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dari sinilah perjalanan panjangku itu akhirnya dimulai. Kegagalan pertamaku datang lebih cepat dari yang kubayangkan. Saat itu, aku untuk pertama kalinya mencoba mendaftar Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Pilihan pertamaku adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan jurusan Ilmu Komunikasi, sedangkan pilihan kedua di Universitas Tadulako (UNTAD) Palu dengan jurusan yang sama.

Sambil menunggu pengumuman SNBP, aku juga mencoba mendaftar beasiswa lain melalui Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN). Pilihan pertamaku adalah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) dengan jurusan Ahwal Al-Syakhsiyah dan Manajemen Pendidikan Islam, sedangkan pilihan kedua di Universitas Islam Negeri Palu dengan jurusan Ahwal Al-Syakhsiyah serta Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Sampai akhirnya tibalah saat yang sangat mendebarkan bagiku, yaitu pengumuman kelulusan SNBP. Tepat pada 20 April 2023 ba’da Ashar, aku membuka hasil pengumuman tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika dinyatakan tidak lolos dalam seleksi itu “ANDA DINYATAKAN TIDAK LULUS SELEKSI SNBP 2023.” Saat itu, aku hanya bisa menangis kecil tanpa suara. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, ‘tidak apa-apa, masih ada pengumuman SPAN-PTKIN, insyaAllah membuahkan hasil,’ ucapku dalam hati.

Hari terus berganti, hingga tibalah pengumuman SPAN-PTKIN pada 3 Mei 2023. Sebelumnya, aku pulang ke pondok dan melaksanakan sholat Dhuha sebelum membuka pengumuman tersebut. Setelah sholat, aku berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah, apa pun hasilnya aku ridho dan ikhlas atas setiap ketentuan-Mu. Aku percaya atas segala ketentuan yang Engkau berikan. Kuatkan aku ya Allah untuk membuka pengumuman nanti, apa pun hasilnya, aku akan berusaha ridho dan ikhlas.”

Dengan mengucap basmalah, aku akhirnya membuka pengumuman tersebut. Namun yang kulihat hanyalah tulisan “ANDA DINYATAKAN BELUM LOLOS.” Saat itu, duniaku terasa benar-benar hancur. “Aku ridho, aku ikhlas ya Allah… tapi aku tidak sekuat ini,” ucapku di sela tangis. Aku terus menangis hingga mataku sembab.

Saat itu duniaku benar-benar hancur. Aku tidak keluar kamar di pondok, bahkan nafsu makanku hilang karena begitu sakitnya hati ini. Akhirnya, masa libur pun tiba dan aku pulang ke kampung. Aku menemui orang tuaku dan berkata, “Mak, Pak, maaf aku belum lolos di universitas mana pun. Aku sudah berusaha.”

Ibuku mengatakan bahwa tidak apa-apa, mungkin belum rezekiku. Begitu juga dengan Bapak. Namun, dari raut wajah Bapak terlihat jelas bahwa beliau sangat berharap aku bisa kuliah, karena beliau tahu bahwa aku memang ingin melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi. Terlebih lagi, beliau sudah semakin menua dan kondisinya tidak lagi sekuat dulu.

Aku juga memikirkan kedua kakakku yang saat itu masih berjuang di bangku kuliah di bidang kesehatan, yang semakin membuatku merasa berat untuk berharap lebih kepada orang tuaku. Saat itu, tanpa bisa menahan diri, aku menangis di hadapan orang tuaku ketika menceritakan kegagalanku. Aku tahu benar bahwa orang tuaku bukanlah orang yang mampu membiayai kuliah dengan kondisi Bapak yang semakin menua, apalagi dengan kondisi finansial keluarga yang saat itu sedang jatuh-jatuhnya. Akupun terus menangis jika mengingat kegagalanku tersebut, bahkan aku hamper gila jika terus memikirkannya. Tak sampai disitu saja, aku terus mencari informasi terkait beasiswa, aku pun mendapatkan info dari Medsos bahwasanya Universitas Islam Indonesia membuka Beasiswa PSB Duafa. Akupun tanpa ragu mengikuti beasiswa tersebut sampai bolak-balik pondok untuk mengurus beberapa berkas/data-data yang diperlukan. Akhirnya berkas dan data telah selesai, akupun megirimnya via online. Beberapa hari kemudian pengumuman pun tiba. Sebelum membuka penguman tersebut aku sholat Dhuha dan kemudian berdoa, “Ya Allah jika PSB memang yang terbaik untukku daripada PBSB, maka mohon mudahkan aku ya Allah. Namun jika PBSB itu yang lebih baik, maka mudahkan aku untuk meraihnya”. Akupun membuka pengumuman tersebut, namun lagi dan lagi aku dinyatakan tidak lolos, akupun memberitahukan keluargaku. Namun jawaban mereka, “biarlah, tunggu saja tahun depan baru kuliah setelah kakakmu selesai”.

Aku pun terus mencari informasi beasiswa, hingga akhirnya Beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) dibuka oleh Kementerian Agama RI. Kali ini, aku tidak memberitahukan rencanaku kepada siapa pun kecuali Ibu, Bapak, dan kakak-kakakku yang tinggal serumah dengan orang tuaku. Dengan dukungan dan semangat dari mereka, aku kembali bangkit dan termotivasi. Tepat pada 3 Juli 2023, aku berangkat ke pondok untuk mengurus berkas-berkas pendaftaran PBSB. Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk mengikuti tes tersebut, kali ini di Sulawesi tepatnya di Makassar. Aku belum siap untuk tes di Provinsi Jawa, mengingat pengalamanku sebelumnya. Siang dan malam aku terus berdoa, semoga PBSB menjadi jawaban dari doa-doaku selama ini. Akhirnya, setelah melalui tiga tahap seleksi dalam Beasiswa PBSB, aku dinyatakan lolos di Universitas Islam Makassar dengan program studi Agroteknologi. Betapa senangnya hatiku saat itu, bahkan tidak kalah bahagianya dengan kedua orang tuaku.

Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses yang memang harus dihadapi dan dirasakan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.

Pesan:

“Jangan pernah putus asa atau menyerah ketika apa yang kamu cita-citakan belum tercapai. Teruslah melangkah dan bangkit sampai kamu mampu meraihnya. Terkadang, apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah. Namun apa yang baik menurut Allah, sudah pasti yang terbaik bagi manusia, jika ia mampu bersyukur. Allah menguji kita dengan kegagalan bukan karena tidak menyayangi atau tidak mengasihi kita, melainkan untuk melihat seberapa besar usaha dan kesungguhan kita dalam meraih sesuatu. Allah adalah pengatur skenario terbaik dari yang terbaik. Maka serahkanlah segalanya kepada-Nya. Jangan takut gagal jika bersama Allah, karena Dia pasti akan memberikan ganti yang lebih baik.”


Penulis: Nesya Patrisia (CSSMoRA Universitas Islam Makassar)

Editor: Abdul Aziz Maulana Rachman (PSDM Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *