Sumber: CNBC Indonesia
cssmora.org – Ketua Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menyatakan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau selama sekitar 25 jam, disertai fenomena lava fountain, dentuman, dan getaran yang dirasakan hingga Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung, menjadi peristiwa yang mengingatkan kembali pada sejarah panjang gunung ini sebagai salah satu simbol kedahsyatan kekuatan alam di Nusantara, sekaligus menimbulkan kekhawatiran kolektif mengingat catatan kelam erupsi 2018 yang memicu tsunami.
Fenomena gunung berapi yang aktif meletus, memuntahkan lava, dan menyebarkan abu hingga menutup lima bandara serta memengaruhi 150.000 penumpang, menjadi pengingat akan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan gunung sebagai bagian dari keseimbangan bumi:
وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ
“Dan Kami telah menciptakan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka.” QS. Al-Anbiya (21): 31. Ayat ini menggambarkan gunung sebagai penyeimbang bumi yang menjaga stabilitasnya, sehingga ketika gunung itu sendiri menunjukkan gejolak, hal itu menjadi pengingat bahwa segala unsur ciptaan, sebesar dan sekokoh apa pun, tetap berada sepenuhnya dalam kendali dan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala.
Kabar baik bahwa PVMBG memastikan potensi tsunami akibat erupsi kali ini sangat kecil, berbeda dari peristiwa 2018, patut disyukuri sebagai nikmat yang besar bagi masyarakat pesisir Banten dan Lampung yang sempat diliputi kecemasan mendalam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan pentingnya menyandarkan rasa aman hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kalian yang berada dalam keadaan aman, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” HR. At-Tirmidzi, dari Ubaidillah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu.
Langkah PVMBG dan BMKG menutup sementara lima bandara demi keselamatan penerbangan, meskipun berdampak pada ratusan ribu penumpang, merupakan bentuk ikhtiar yang tepat dan sejalan dengan prinsip mendahulukan keselamatan jiwa (hifz an-nafs) di atas kepentingan lain yang bersifat duniawi. Demikian pula imbauan PVMBG kepada masyarakat untuk tidak mempercayai informasi hoaks dan senantiasa merujuk pada kanal resmi, sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an untuk memastikan kebenaran suatu berita sebelum meyakininya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” QS. Al-Hujurat (49): 6.
Berakhirnya episode erupsi menerus ini setelah 25 jam, meski status Siaga belum diturunkan dan potensi bahaya lanjutan masih tinggi, menjadi renungan bahwa manusia hanya mampu berikhtiar semaksimal mungkin, sementara keputusan akhir atas segala peristiwa alam sepenuhnya berada dalam genggaman kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Latar Belakang
Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas erupsi menerus Gunung Anak Krakatau mulai terekam pada Jumat, 4 September 2026, pukul 23.07, Hingga Minggu dini hari (6/9). Aktivitas vulkanik yang ditandai dengan fenomena lava fountain atau lava air mancur ini memicu dentuman, getaran, dan penyebaran abu vulkanik yang dirasakan hingga ke sejumlah wilayah di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa erupsi menerus ini merupakan puncak dari peningkatan aktivitas yang sudah teramati sejak status Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) pada 2 Juli 2026.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala





