Sumber: iNews
cssmora.org – Ketua Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menegaskan aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, NTT, yang tercatat meletus lebih dari 700 kali sepanjang 2026 dan sempat meletus hampir bersamaan dengan Gunung Ibu dan Gunung Semeru, menjadi pemandangan yang menggetarkan sekaligus mengundang perenungan mendalam terlebih menyusul gempa besar M7,7 yang turut mengguncang kawasan Flores dan memengaruhi aktivitas gunung-gunung api di sekitarnya.
Fenomena alam sebesar ini menjadi pengingat akan kebesaran dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan serta mengendalikan seluruh isi bumi, termasuk gejolak yang terjadi jauh di dalam perut gunung. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
“Dan gunung-gunung sebagai pasak?” QS. An-Naba’ (78): 7. Ayat ini menggambarkan gunung sebagai bagian dari tatanan ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala yang menopang keseimbangan bumi, sehingga aktivitas vulkanik yang terjadi hendaknya dipahami sebagai bagian dari dinamika alam yang berada sepenuhnya dalam kekuasaan-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berdoa dan memohon perlindungan setiap kali menyaksikan fenomena alam yang menakutkan, sebagai bentuk kesadaran spiritual atas kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang ada padanya serta kebaikan yang dikandungnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya, keburukan apa yang ada padanya, dan keburukan yang dikandungnya.” HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha (terkait doa saat angin kencang, dan diqiyaskan pada fenomena alam lain yang menakutkan)
Kepatuhan warga dan wisatawan terhadap imbauan PVMBG untuk tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi, serta anjuran memakai masker bagi warga terdampak hujan abu, merupakan bentuk ikhtiar yang selaras dengan ajaran Islam untuk menjaga keselamatan jiwa (hifz an-nafs) sebagai salah satu tujuan pokok syariat.
Peringatan petugas PPGA agar warga tidak mudah percaya pada informasi erupsi yang tidak bersumber dari kanal resmi juga sejalan dengan ajaran Islam untuk senantiasa memastikan kebenaran suatu berita sebelum menyebarkannya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” QS. Al-Hujurat (49): 6.
Berulangnya letusan gunung-gunung api di kawasan Flores dan sekitarnya, disertai dinamika seismik pasca-gempa besar yang masih berlangsung, menjadi pengingat bahwa alam senantiasa bergerak sesuai kehendak Sang Pencipta, sementara manusia dituntut untuk terus berikhtiar menjaga keselamatan diri sambil menyerahkan segala ketentuan akhir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Latar belakang
Data pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia menunjukkan tren peningkatan jumlah erupsi mingguan yang signifikan. Pada awal Agustus, gunung ini tercatat erupsi 9 kali dalam sepekan (per 3 Agustus). Angka itu melonjak menjadi 37-38 kali pada pekan berikutnya (6 Agustus), lalu terus naik hingga mencapai 55-60 kali erupsi dalam sepekan pada 9 Agustus 2026. Sepanjang tahun 2026 hingga pertengahan Agustus, MAGMA Indonesia mencatat Gunung Lewotobi Laki-laki telah meletus lebih dari 700 kali, menjadikannya salah satu gunung api paling aktif di Indonesia setelah Gunung Semeru di Jawa Timur.
PVMBG secara kosisten mengeluarkan dua jenis peringatan dalam setiap laporan erupsi Lewotobi Laki-laki. Pertama, masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi selama status masih level III (Siaga). Kedua, warga di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak gunung termasuk kawasan Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klantanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan, terutama ketika hujan berintensitas tinggi mengguyur puncak gunung.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala





