Amara, seorang gadis muda dengan mata yang selalu memancarkan kebahagiaan dan kedamaian disetiap langkahnya, gadis yang selalu membawa ketenangan dan kenyamanan bagi semua orang. Amara dikenal dengan pribadi yang penuh energi dan memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia. Ia suka menghabiskan waktu di ladang bersama ayah dan ibunya. Sebagai gadis muda, Amara memiliki mimpi yang besar ia ingin menjadi orang yang berguna. Ia sering merenung dibawah pohon tua di halaman rumahnya, membayangkan masa depannya sambil menatap langit yang dihiasi bintang-bintang ia berharap ia akan seperti bintang yang menyinari langit yang gelap. Pohon itu adalah tempat favorite nya tempat dimana dia merasa paling dekat dengan mimpi mimpi dan keindahan dunia.
Namun semuanya berubah dalam sekejap saat suatu kejadian merenggut nyawa ayahnya. Kehilangan yang membuat dunia Amara runtuh, mata yang dulunya memancarkan kebahagiaan seolah perlahan telah redup, senyuman yang selalu terlihat kini memudar kini tatapan matanya hanya penuh dengan kekosongan. Amara mulai menarik diri dari dunia luar. Ia tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam hal hal yang dulu disukai, seperti berjalan di ladang maupun memandang matahari terbenam. Pikirannya tentang ayahnya terus mengisi setiap ruang kosong dalam dirinya. Amara merasa seolah langit dan dunia sekitarya telah meninggalkannya. Hari harinya seperti rutinitas kosong yang tidak ada artinya, kebahagiaan yang dirasakannya seakan milik orang lain. Ia mulai muragukan segala sesuatu, bahkan keyakinannya bahwa kehidupan bisa kembali membaik, Amara merasakan dia terjebak dalam dunia kosong dalam hatinya.
Pada suatu malam setelah berbulan bulan berusaha bertahan, Amara duduk di bawah pohon tua yang telah menjadi tempatnya mencari kedamaian. Langit malam terasa semakin gelap,dan perasaan kesepian menyelubungi hatinya, ia merasa seolah-olah dunia ini tidak adil, ayahnya telah tiada dan dia terjebak dalam hidup yang dipaksa untuk baik baik saja, terkadang merasa bahwa doa doanya tak pernah terjawab, dan mungkin tidak ada harapan lagi untuknya mewujudkan mimpinya. Amara memandang langit, menginginkan jawaban, namun hanya ada kesunyian.
Dia merasa cemas, hampir putus asa, dan bertanya pada dirinya sendiri :”Apakah aku akan selamanya terjebak dalam kesedihan ini?”
Hatinya terasa berat, seolah tak dapat berperang lagi dengan kesedihan dalam dirinya. Tiba tiba, sebuah suara lembut terdengar dari belakangnya
”ibu?” Amara dengan suara putus asanya.
”iya,mara,”suara ibu terdengar penuh kasih.
”kenapa kau merenung disini mara?, aku tahu kamu merasa sangat kehilangan, tapi jangan membiarkan kesedihan mengambil alih hidupmu, kami ingin kamu kuat.”
Amara menatap mata ibu dengan berkaca kaca. ”tapi ibu, aku merasa begitu hampa, aku merasa takdir tidak pernah adil kepadaku, kenapa harus aku? kenapa harus mara yang kehilangan bu?” kata Amara mengeluarkan segala isi pikirannya.
Ibu mendekat, duduk di sampingnya, dan menepuk kepala Amara dengan penuh kasih sayang. ”Anakku, hidup dan takdir tidak selalu mudah, kehilangan dalam hidup adalah hal yang pasti semua orang rasakan, hanya saja semuanya tergantung cara kita menghadapinya, Tapi ingatlah nak, kebahagiaan itu bukan sesuatu yang datang begitu saja, kita harus melewati banyak hal untuk mencapainya, Amara ayahmu telah memberikan yang terbaik unntukmu, dan itu tidak akan pernah hilang. Ayahmu akan selalu berada di hati putri kecilnya.” ibu tersenyum, matanya penuh pengertian. ”Jangan biarkan kesunyian dan rasa sakit ini membuatmu melupakan dirimu, kamu lihat bintang itu mara?” Tanya ibu sambil menatap langit,”Amara jadilah layaknya bintang di atas langit yang tetap bersinar di antara gelapnya malam, kami percaya padamu, nak langit akan selalu bersamamu.”.
Amara menatap wajah ibunya yang penuh kasih. ”Aku akan berusaha, Bu,” kata Amara pelan, sedikit merasa lebih ringan, lalu memeluk ibu sejenak, memberikan kekuatan baru bagi Amara untuk melangkah, meskipun pikiran dan hatinya masih sulit terkendali.
Setelah mendengarkan nasehat ibunya, Amara merasah sedikit lebih tenang, namun ia rasa masih ada yang kurang pikiran dan hatinya masih belum puas seperti masih ada perasaan kosong dan ragu di dalamnya,ia kembali merenung dan menatap langit dengan perasaan rindu dan kesepian,Amara merasa kelelahan dan akhirnya tertidur dengar keraguan.Ia masih mengharapkan langit memberikan jawaban atas doanya yang tak kunjung terbalas,meskipun kata-kata ibunya masih bergema dalam ingatannya. Saat ia terlelap, dalam tidurnya, Amara merasakan ada kehadiran yang sangat menenangkan. Dalam mimpi itu,ia berada dalam ruangan kecil yang tak asing baginya,kamar itu terasa sangat akrab baginya,namun ada sesuatu yang berbeda.
Amara mengelilingi ruangan yang dindingnya penuh dengan foto amara kecil bersama ayah dan ibu nya di bawah pohon halaman rumahnya. Berada di ruangan itu membuat ia merasa sangat dekat dengan ayahnya, saat Amara mendekat pada sebuah meja, di atas meja terdapat sebuah amplop biru,ia mendekatinya dengan rasa penasaran yang besar. Ketika ia membuka amplop itu,di dalamnya terdapat surat yang ditulis tangan dengan tulisan yang amat dikenalnya-tulisan ayahnya. Sebelum ia membuka amplop itu hatinya terasa teriris,sedih, bahagia,dan takut secara bersamaan, seolah-olah ayahnya sedang berada di sampingnya, meskipun hanya melalui rangkaian kata dalam surat ini.
Isi surat Amara,
Bintang kecil Ayah,
Ketika Ayah menulis surat ini, Ayah ingin kau tahu betapa dalam cinta Ayah padamu. Dunia ini besar dan kadang membingungkan, tapi kau adalah cahaya yang selalu membuat Ayah ingin terus melangkah.Amara, Ayah tahu kau sedang tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa. Hidup mungkin tidak selalu mudah, tapi Ayah percaya kau memiliki kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan. Ingatlah, tidak ada badai yang abadi, dan setelah hujan, selalu ada pelangi.
Jika suatu saat kau merasa sendiri, Amara, ingatlah bahwa Tuhan selalu ada di sisimu, meski jarak memisahkan kita. Kamu masih memiliki tempat pulang, tempat kau berbagi cerita, air mata, dan tawa.
Tetaplah menjadi dirimu sendiri, Amara. Jangan takut bermimpi besar, karena kau layak meraih bintang. Ayah percaya, dengan hatimu yang tulus dan semangatmu yang besar, kau bisa mencapai hal-hal yang luar biasa.Dengan cinta yang tak pernah berkurang,
– Ayah
Amara membaca surat itu berkali kali,dan setiap kata dalam surat itu mengandung kedamaian yang luar biasa. Tangan yang gemetar, air mata yang jatuh mencerminkan perasaan yang ia rasakan-perasaan yang penuh harapan dan kesadaran bahwa meskipun ayahnya tidak ada di sisinya, tetapi cinta dan semangatnya tetap abadi di dalam dirinya.
Seketika saat Amara bangun dari tidurnya ia menyadari bahwa itu bukan sekedar bunga tidur tapi itu merupakan sebuah pesan yang nyata. Surat itu menjadi penenang tersendiri Air mata Amara tidak lagi jatuh karena kesedihan, tetapi karena perasaan yang luar biasa lega dan penuh harapan. Ia tahu, surat itu adalah petunjuk dari langit, yang membantunya bangkit dari rasa kehilangan yang begitu dalam. Amara merasa, meskipun ayahnya telah tiada, ayahnya tetap ada dalam setiap detak jantungnya, dalam semangat yang terus menyala di dalam dirinya. Mimpi itu memberikan semangat yang ia butuhkan untuk melanjutkan hidup, dan dengan surat itu, Amara kini tahu bahwa ia tidak lagi sendirian. Ia memiliki kekuatan yang luar biasa,ia masih memiliki tuhan yang selalu bersamanya dan akan membimbingnya, dan cinta orang tuanya selalu ada untuknya.
Dengan semangat baru, Amara berdiri dan menatap langit malam. Bintang-bintang yang bersinar di atasnya seolah berbicara, mengingatkannya bahwa ayahnya tidak pernah meninggalkannya. Mimpi itu bukan hanya sebuah hiburan, tetapi sebuah panggilan untuk bangkit dan melangkah maju, dengan keberanian yang lebih besar dari sebelumnya.Amara bertekad dengan dan berbisik dalam hati, ”Ini bukan akhir,tapi awal baru.Aku siap menjalani hidup dengan penuh harapan.”
Sejak saat itu Amara memutuskan untuk kembali berambisi dalam pendidikannya.ia kembali membuka diri terhadap dunia luar, kembali ceria dan menekuni pembelajaran dan semangat dalam mengikuti setiap organisasi dan perlombaan. Amara ingin membanggakan kedua orangtuanya dan ingin membuktikan bahwa ia bisa mengapai semua mimpinya dan sukses di masa depan.
Penulis: Fadhilla agustiani (Ma’had Aly As’adiyah Sengkang 2024)
Editor: Abdul Aziz Maulana Rachman (PSDM Nasional)





