Sumber: RADARSOLO.COM
cssmora.org – Kepala Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menyatakan bahwa kepada seluruh pihak yang terluka dalam peristiwa ini, baik dari kalangan mahasiswa maupun aparat, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyembuhkan mereka dan melindungi semua anak bangsa dari perpecahan yang lebih dalam.
Dalam pandangan Islam, menyuarakan kebaikan dan mengingatkan dari kekeliruan bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari tugas kolektif umat:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” QS. Ali ‘Imran (3): 104
Pada saat yang sama, kepemimpinan dalam Islam dipandang sebagai amanah yang sangat berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang hamba yang diberi amanah oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia tidak menjaga mereka dengan nasihat (kesungguhan), melainkan ia tidak akan mencium bau surga.” HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini berlaku bagi siapa pun yang memikul tanggung jawab atas urusan orang banyak, dan menjadi pengingat bahwa setiap capaian dan kekurangan akan diperhitungkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Selisih antara klaim keberhasilan di atas panggung dan keluhan warga di lapangan, seperti pedagang di Palangka Raya yang penghasilannya anjlok karena asap, adalah ruang untuk saling mendengar dengan jujur.
Adapun cara menyampaikan aspirasi, Islam mendorong ketertiban dan menjauhi tindakan yang merugikan sesama:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim (sejati) adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma
Pembakaran, perusakan fasilitas umum, serta kabar adanya kekerasan terhadap peserta aksi, yang sebagian masih menunggu verifikasi aparat, sepatutnya menjadi bahan renungan agar suara kebenaran tidak ternodai oleh kerusakan. Rencana aksi lanjutan pada Hari Sumpah Pemuda tentu membawa harapan, bahwa semangat para pemuda dapat tersalurkan secara bermartabat, sebagaimana pemuda terdahulu bersumpah demi persatuan bangsa.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi hikmah kepada para pemimpin, ketenangan kepada rakyat, dan menjaga negeri ini dari perpecahan.
Latar belakang
Peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berubah menjadi gelombang protes nasional. Alih-alih mendapat sambutan hangat, Selasa (20/10) kemarin justru menjadi momentum bagi ribuan mahasiswa dan elemen masyarakat di berbagai kota untuk turun ke jalan. Mereka membawa satu pesan kolektif: kekecewaan mendalam terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat, terutama terkait penanganan bencana ekologis dan himpitan ekonomi.
Kericuhan tidak terhindarkan di sejumlah titik. Di Yogyakarta, aksi yang berlangsung sejak siang di kawasan Malioboro dan Gedung DPRD DIY berakhir ricuh pada malam hari. Kepolisian mencatat insiden pelemparan petasan dan benda tumpul yang memicu bentrokan, menyebabkan sejumlah peserta aksi dan aparat mengalami luka ringan. Situasi serupa terjadi di Bandung, di mana massa yang awalnya bergerak dari Asia Afrika menuju Jalan Braga membakar water barrier dan menutup akses jalan. Akibatnya, 11 anggota kepolisian dilaporkan terluka, sebuah mobil operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirusak, dan fasilitas publik seperti Tugu Simpang Lima mengalami vandalisme. Di Jakarta, massa yang tergabung dalam Komite Sadar (Selamatkan Daulat Rakyat) memanjat Patung Tugu Tani untuk membentangkan spanduk tuntutan. Terdapat lima poin utama yang disuarakan secara nasional.
Gelombang protes tidak hanya terpusat di Jawa. Di Sumatra, tepatnya Pekanbaru, mahasiswa turut menyuarakan keprihatinan atas krisis asap yang melanda. Sementara itu, di Kalimantan Tengah (Palangkaraya), warga yang terdampak langsung kabut asap dari karhutla menggelar aksi damai menuntut status darurat. Seorang warga Palangkaraya, Melsi (40), mengaku penghasilannya sebagai pedagang anjlok akibat asap, sementara harga kebutuhan pokok terus melonjak.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala





