Sumber: Kompas.com
cssmora.org – Kepala Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, mendoakan agar Allah subhanahu wa ta’ala menyembuhkan saudara-saudara yang terkena gangguan kesehatan karena dampak karhutla, melindungi anak-anak dan para lansia dari penyakit, serta menguatkan puluhan ribu personel yang tiada henti berjibaku di lapangan. Semoga jerih payah mereka dibalas dengan sebaik-baik pahala.
Karhutla kali ini mengingatkan kita pada sebuah ayat yang seolah berbicara tentang zaman ini:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” QS. Ar-Rum (30): 41.
Ayat ini bukan untuk menunjuk siapa yang bersalah, melainkan mengajak kita merenungi bahwa kerusakan lingkungan selalu berpangkal dari ulah manusia, dan bahwa ujian yang berulang adalah isyarat agar kita mau kembali memperbaiki cara kita memperlakukan bumi. Karena asap tak mengenal paspor, persoalan ini juga menyentuh hak para tetangga. Islam sangat memuliakan tetangga hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku mengira ia akan menjadikannya sebagai ahli waris.” HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Dalam riwayat lain, beliau menegaskan bahwa tidak sempurna iman seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. Al-Qur’an pun menyebut tetangga yang dekat maupun yang jauh (QS. An-Nisa: 36), yang oleh para ulama dipahami luas mencakup hubungan antarwilayah dan antarbangsa. Dari sinilah tekanan diplomatik dan sorotan dari negara-negara tetangga dapat dilihat sebagai bentuk kepedulian atas hak hidup sehat warganya, sekaligus kesempatan untuk saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama itu adalah nasihat.” HR. Muslim, dari Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu.
Kritik yang datang dari dalam maupun luar negeri, termasuk tawaran bantuan yang kini disetujui pemerintah, sepatutnya disambut dengan lapang dada sebagai nasihat yang membangun. Sikap rendah hati menerima uluran tangan, sambil terus mengusut tuntas pihak-pihak yang bertanggung jawab di balik pembakaran lahan, adalah cermin dari amanah yang dijalankan dengan jujur. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala segera menurunkan hujan yang menjadi rahmat, memadamkan api yang tersisa, dan menjadikan musim kebakaran kali ini sebagai yang terakhir bagi negeri kita dan para tetangga.
Latar belakang
Pada awal September, satelit Aqua NASA dengan instrumen MODIS merekam kepulan asap putih keabu-abuan menutupi sebagian besar Pulau Kalimantan dan bergerak melintasi perbatasan hingga Malaysia pada 1 September 2026, dengan ratusan titik merah anomali panas di Kalimantan. Pemerintah mengakui perhatian itu; Kementerian Kehutanan menyatakan data satelit NASA dan NOAA memang menjadi instrumen penting pemantauan titik panas Indonesia sendiri melalui platform SiPongi.
Pada pertengahan Oktober, citra baru memicu perhatian publik. Data NASA Eyes on the Earth dan instrumen AIRS pada satelit Aqua untuk 13–15 Oktober 2026 menunjukkan konsentrasi karbon monoksida (CO) tinggi pada ketinggian sekitar 5,5 kilometer, dengan warna merah dan oranye membentang di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, serta Malaysia dan Singapura. Jawa Pos melaporkan pantauan NASA Worldview 4–14 Oktober juga memperlihatkan sebaran asap di Kalimantan dan Sumatra.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala





