Dalam beberapa bulan terakhir, publik Indonesia semakin menunjukkan keresahan terhadap kepemimpinan pemerintahan saat ini. Salah satu pemicunya adalah gelombang demonstrasi yang meluas sejak Agustus–September 2025, dipicu oleh tuntutan rakyat seperti kenaikan biaya hidup, kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil, serta insiden kekerasan aparat terhadap demonstran. Contohnya, gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat menjadi viral sebagai respons atas berbagai ketidakadilan struktural: rakyat menuntut transparansi anggaran, pembekuan kenaikan tunjangan DPR, dan penyelidikan kasus kekerasan aparat seperti kematian pengemudi ojek online Affan Kurniawan. Di sisi lain, survei Indikator Politik Indonesia mencatat meskipun Presiden memperoleh tingkat kepercayaan publik yang relatif tinggi (sekitar 82–83%), kepercayaan terhadap partai politik jauh lebih rendah, dan keprihatinan terhadap performa lembaga- lembaga pemerintahan tetap tinggi. Permasalahan utama yang muncul dari keresahan publik ini adalah semakin besarnya jarak antara rakyat dan pemimpinnya. Banyak tokoh yang menduduki kursi kekuasaan gagal menjadi teladan, baik dalam sikap maupun kebijakan. Alih-alih menampilkan kepemimpinan yang adil dan amanah, sebagian pemimpin justru terseret dalam isu korupsi, praktik politik transaksional, dan gaya hidup mewah yang kontras dengan penderitaan rakyat. Hal ini memperkuat persepsi bahwa kepemimpinan saat ini lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan daripada kepentingan publik. Akibatnya, muncul krisis kepercayaan yang bukan hanya melemahkan legitimasi pemimpin, tetapi juga mengancam kohesi sosial serta stabilitas politik bangsa. Di tengah kegelisahan tersebut, umat Islam memiliki teladan agung yang relevan sepanjang zaman, yaitu Rasulullah SAW. Beliau bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga pemimpin sosial dan politik yang berhasil menyatukan masyarakat yang beragam, menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, serta menunjukkan kepedulian mendalam terhadap kaum lemah. Keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW membuktikan bahwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai moral, keadilan, dan kasih sayang mampu meredam keresahan umat dan membangun harmoni sosial. Dengan meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW, keresahan publik terhadap pemimpin masa kini dapat diatasi. Nilai-nilai kepemimpinan beliau adil, amanah, musyawarah, serta
peduli pada umat dapat menjadi inspirasi sekaligus solusi dalam menjawab krisis kepercayaan publik dan membangun kembali relasi harmonis antara pemimpin dan rakyat.
Fenomena krisis kepercayaan publik terhadap pemimpin semakin nyata dalam kehidupan berbangsa saat ini. Rakyat kerap menilai bahwa banyak pemimpin lebih mementingkan kepentingan pribadi maupun golongan dibanding kepentingan masyarakat luas. Hal ini tampak dari berbagai kebijakan yang tidak pro-rakyat, serta gaya hidup para pejabat yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari masyarakat kecil. Keresahan tersebut semakin mengemuka melalui berbagai saluran ekspresi, mulai dari demonstrasi di jalanan, kritik keras di media sosial, hingga munculnya gerakan masyarakat sipil yang menuntut perubahan. Isu ketimpangan ekonomi, praktik korupsi, hingga penyalahgunaan kekuasaan menjadi bahan sorotan yang memicu rasa kecewa terhadap kepemimpinan yang ada. Dampaknya, kondisi ini melahirkan polarisasi di tengah masyarakat, di mana rakyat terbagi dalam kelompok pro dan kontra terhadap pemerintah. Lebih jauh lagi, krisis kepercayaan publik ini juga menggerus legitimasi negara di mata rakyatnya. Jika dibiarkan berlarut-larut, keresahan tersebut berpotensi memicu konflik sosial dan politik yang semakin memperlebar jurang antara pemimpin dan rakyat.
Kepemimpinan Rasulullah SAW merupakan teladan sempurna yang patut dijadikan acuan bagi setiap pemimpin sepanjang zaman. Salah satu prinsip utama yang beliau tunjukkan adalah sifat adil dan amanah. Rasulullah tidak pernah memihak golongan tertentu, bahkan ketika hukum harus ditegakkan kepada orang terdekat sekalipun, beliau tidak ragu untuk menjatuhkan keputusan yang adil. Hal ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati adalah keberpihakan pada kebenaran, bukan pada kelompok atau keluarga. Selain itu, Rasulullah SAW senantiasa mengedepankan musyawarah (syura) dalam menjalankan kepemimpinan. Beliau melibatkan para sahabat dalam pengambilan keputusan penting, seperti yang terlihat pada peristiwa Perang Uhud. Praktik ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang menghargai pendapat kolektif, bukan bersifat otoriter. Prinsip lainnya adalah kepedulian sosial. Rasulullah tidak hanya memimpin dengan kebijakan, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat, memperhatikan kaum dhuafa, anak yatim, dan mereka yang tertindas. Kepedulian ini memperlihatkan bahwa pemimpin sejati tidak boleh berjarak dengan rakyatnya. Rasulullah SAW juga dikenal dengan kehumbleness (tawadhu’), yaitu sikap rendah hati dan kesederhanaan. Meski memegang posisi tertinggi sebagai pemimpin umat, beliau hidup sederhana, makan dan berpakaian layaknya rakyat biasa. Sikap ini membuat beliau semakin dihormati, karena keteladanan tidak ditunjukkan dengan kemewahan, melainkan dengan kesederhanaan. Terakhir, Rasulullah SAW berhasil menciptakan persatuan umat di tengah masyarakat yang majemuk. Piagam Madinah menjadi bukti nyata kepiawaian beliau menyatukan berbagai kelompok dengan latar belakang agama, suku, dan tradisi yang berbeda. Kepemimpinan yang berlandaskan persatuan inilah yang menjadikan Rasulullah sukses membangun masyarakat yang damai dan harmonis.
Teladan kepemimpinan Rasulullah SAW tidak hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga menjadi jawaban atas berbagai persoalan kepemimpinan masa kini. Prinsip adil dan amanah yang beliau junjung tinggi dapat menjadi solusi atas praktik korupsi, nepotisme, serta ketidakadilan hukum yang marak terjadi. Jika pemimpin meneladani sifat Rasulullah, maka kebijakan akan berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan kelompok atau individu tertentu. Prinsip musyawarah (syura) juga sangat penting diterapkan pada masa kini, ketika banyak pemimpin cenderung mengambil keputusan secara sepihak dan tidak transparan. Dengan meneladani Rasulullah yang selalu bermusyawarah bersama para sahabatnya, seorang pemimpin dapat membangun kepercayaan publik sekaligus mencegah munculnya
kesan otoriter. Keteladanan Rasulullah dalam hal kepedulian sosial pun sangat relevan untuk mengatasi kesenjangan ekonomi dan keresahan rakyat miskin. Di tengah meningkatnya ketimpangan sosial, pemimpin masa kini dituntut untuk hadir langsung di tengah masyarakat, memastikan kebijakan yang dibuat mampu melindungi dan mensejahterakan kelompok yang lemah. Lebih dari itu, prinsip
persatuan umat yang ditunjukkan Rasulullah melalui Piagam Madinah menjadi pelajaran penting dalam meredam konflik sosial dan politik di era modern. Dengan menjunjung tinggi nilai persatuan dan kebersamaan, seorang pemimpin dapat merawat harmoni dalam keberagaman dan menghindari perpecahan yang merugikan bangsa.
Agar keresahan publik terhadap pemimpin masa kini dapat teratasi, diperlukan upaya nyata untuk meneladani prinsip kepemimpinan Rasulullah SAW. Bagi para pemimpin, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat kebijakan yang pro-rakyat dan berpihak pada kesejahteraan umum. Kebijakan semacam ini akan menunjukkan keberpihakan nyata pada kepentingan rakyat kecil sekaligus mengurangi ketimpangan sosial yang menjadi sumber keresahan publik. Selain itu, pemimpin perlu mengedepankan musyawarah dengan berbagai pihaksebelum mengambil keputusan. Dengan melibatkan masyarakat, akademisi, tokoh agama, maupun stakeholder lainnya, kebijakan yang dihasilkan tidak hanya lebih transparan, tetapi juga dapat diterima secara luas oleh rakyat. Praktik musyawarah ini merupakan bentuk nyata dari kepemimpinan yang demokratis dan inklusif. Tidak kalah penting, seorang pemimpin seharusnya mampu hidup sederhana dan menjadi teladan moral bagi masyarakatnya. Kesederhanaan Rasulullah SAW menjadi contoh bahwa wibawa pemimpin tidak diukur dari kemewahan atau kekuasaan, melainkan dari akhlak, integritas, dan keberpihakan kepada umat.
Dengan begitu, pemimpin tidak hanya dihormati karena jabatannya, tetapi juga karena keteladanannya. Sementara itu, masyarakat pun memiliki peran penting dalam mewujudkan kepemimpinan yang ideal. Masyarakat perlu menyuarakan tuntutan dengan cara damai dan konstruktif, sehingga aspirasi dapat tersampaikan tanpa menimbulkan konflik yang merugikan semua pihak. Lebih dari itu, masyarakat hendaknya menjadikan Rasulullah SAW sebagai role model dalam memilih dan mengawal pemimpin, dengan menilai rekam jejak, integritas, serta komitmen calon pemimpin terhadap kepentingan rakyat.
Keresahan publik terhadap krisis keteladanan pemimpin semakin nyata, ditandai dengan jarak yang kian lebar antara rakyat dan penguasa. Dalam situasi ini, teladan kepemimpinan Rasulullah SAW hadir sebagai solusi universal: menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan merawat kasih sayang terhadap sesama. Kepemimpinan beliau bukan hanya warisan sejarah, melainkan pedoman abadi yang relevan untuk setiap zaman. Karena itu, sudah sepatutnya kita bersama- sama menghidupkan nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah SAW dalam kehidupan sosial, politik, dan bernegara. Dengan meneladani beliau, kita tidak hanya menjawab kegelisahan rakyat, tetapi juga membuka jalan menuju masyarakat yang lebih adil, beradab, dan penuh rahmat.
Satriani (CSSMoRA Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia)



