Kepungan Asap Kalimantan dan Misi Kemanusiaan Lintas Negara

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menempatkan wilayah Kalimantan dalam status darurat nasional hingga pertengahan September 2026. Asap tebal masih menyelimuti sejumlah daerah, mendorong Pemerintah Indonesia membuka ruang bantuan internasional-mulai dari pengerahan armada udara asing hingga misi kemanusiaan militer Jepang guna mempercepat pemadaman.

Kalimantan Barat menjadi wilayah terdampak paling parah. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 14 September 2026 mencatat total luas lahan terbakar di provinsi tersebut mencapai 48.536 hektare. Angka ini merupakan akumulasi dari pemantauan satelit SiPongi (38.310 hektare hingga akhir Juli) dan pengukuran lapangan BNPB sepanjang Agustus hingga September (10.224 hektare), dengan 19 titik api aktif.

Dampak karhutla juga menyebar ke provinsi tetangga:

  • Kalimantan Selatan: 19.304 hektare lahan terbakar
  • Kalimantan Tengah: 15.976 hektare lahan terbakar
  • Kalimantan Timur: 5.761 hektare lahan terbakar

 

Secara nasional, pemantauan udara mendeteksi sekitar 160 titik panas (hotspot) berstatus high confidence dalam rentang 12 jam hingga 16 September 2026, membentang dari Kalimantan, Sumatera Selatan, hingga Papua.

Imbasnya dirasakan langsung oleh masyarakat: jarak pandang memburuk, penerbangan di Bandara Singkawang (Kalbar) dan Bandara H.M. Sidik Muara Teweh (Kalteng) sempat lumpuh, serta aktivitas belajar-mengajar di Berau (Kaltim) terpaksa dialihkan secara daring (online). Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pun dilaporkan meningkat pesat.

Misi Bersejarah JSDF dan Bantuan Armada Internasional

Di tengah krisis ini, kehadiran Pasukan Bela Diri Jepang (Japan Self-Defense Forces/JSDF) mencatatkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, JSDF menjalankan misi pemadaman kebakaran di luar negeri.

Kapal angkut militer JS Kunisaki (LST-4003) bertolak dari pangkalan Kure, Hiroshima, pada 30 Agustus 2026 membawa tiga unit helikopter berat CH-47 Chinook dan sekitar 350 personel (180 kru helikopter dan 150 awak kapal). Kapal bersandar di Pelabuhan Internasional Kijing, Kalimantan Barat, pada 9–10 September 2026 dan disambut oleh Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan.

Misi ini merupakan wujud konkret kerja sama Defence Cooperation Arrangement (DCA) antara Kementerian Pertahanan RI dan Jepang yang disahkan pada 4 Mei 2026 dalam ranah Bantuan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana (Humanitarian Assistance and Disaster Relief/HADR).

Operasi Pengendalian Tetap di Tangan Indonesia

Sekretaris Jenderal Kemhan RI, Letjen TNI Tri Budi Utomo, menegaskan bahwa seluruh bantuan asing berstatus sebagai unsur pendukung di bawah koordinasi penuh operasi nasional.

Selain bantuan Jepang, Kementerian Perhubungan meregistrasi dan mengizinkan operasi 35 pesawat asing—mayoritas helikopter water bombing—yang didatangkan melalui koordinasi BNPB. Terdata ada 11 pemegang Air Operator Certificate (AOC) dari 8 negara mitra:

  • Rusia
  • Amerika Serikat
  • Australia
  • Ukraina
  • Selandia Baru
  • Laos
  • Vietnam
  • Kanada

Operasi Darat dan Modifikasi Cuaca

Kendati mendapat dukungan internasional, kekuatan nasional tetap menjadi tulang punggung penanganan. BNPB mengerahkan 14.759 personel satgas darat, didukung 30 helikopter pemadam dan patroli di Kalimantan serta 22 helikopter di Sumatera.

Hasilnya, dari 19 titik api seluas 261 hektare yang terdeteksi pada 14 September, tim gabungan berhasil memadamkan 180 hektare pada hari berikutnya (175 hektare lewat jalur darat dan 5 hektare via water bombing). Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian awan pun terus digencarkan di Kalbar dan Kalsel. Sepanjang 2026, tercatat lebih dari 4.800 kali operasi penanganan karhutla telah dilakukan dengan total area berhasil dipadamkan mencapai 38.829 hektare.

Makna Kemanusiaan dan Pesan Ekologis

Di balik pekatnya kabut asap dan gemuruh mesin helikopter, bencana ini menyisakan perenungan mendalam. Kehadiran lintas bangsa yang bahu-membahu menembus batas geografis memancarkan kembali nilai luhur persaudaraan manusia, sebagaimana firman Allah SWT:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ}

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 2)

Perhatian penanganan bencana tahun ini juga mengarah pada perlindungan ekosistem. Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni secara khusus menginstruksikan agar penanganan karhutla turut memprioritaskan keselamatan satwa liar yang terjebak di area kebakaran.

Sikap ini menggemakan kembali ajaran Rasulullah SAW mengenai pentingnya mengasihi seluruh makhluk hidup, sebagaimana kisah seorang lelaki yang diampuni dosanya hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan (HR. Bukhari dan Muslim). Kepedulian terhadap satwa yang tak bersuara di tengah amukan api bukanlah perkara kecil, melainkan cermin kedalaman rasa kemanusiaan.

Musim kemarau mungkin kerap membawa ujian yang sama setiap tahunnya. Namun ikhtiar hampir 15.000 personel di darat, ketangguhan armada udara, serta kepedulian global mengingatkan kembali pada amanah dasar manusia untuk menjaga kelestarian alam:

{وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا}

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…”

(QS. Al-A’raf [7]: 56)

Barangkali, karhutla yang datang berulang setiap tahun ini sedang mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa menjaga bumi bukan pekerjaan musiman, dan bahwa kebaikan baik kepada sesama manusia lintas negara maupun kepada satwa yang tak bersuara selalu punya tempat istimewa dalam ajaran Islam.

Sumber: Berbagai Sumber

Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional

Editor  : Abdul Aziz Maulana Rachman

 

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *