
Cirebon – Kaderisasi Tingkat Regional (KTR) I CSSMoRA Nasional dilaksanakan di Ma’had Aly Kebon Jambu, Cirebon, pada 10–12 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus silaturahmi bagi anggota CSSMoRA di Regional I melalui berbagai materi yang berkaitan dengan Islam, kepesantrenan, kepemimpinan, pengembangan jaringan, pengabdian pesantren, hingga perspektif keperempuanan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan formal yang meliputi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta Mars CSSMoRA secara bersama-sama. Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan PSDM Nasional CSSMoRA, Yusron Zakarsya .
Dalam sambutannya, Yusron menyampaikan bahwa Kaderisasi Tingkat Regional (KTR) I merupakan wadah bagi anggota CSSMoRA Regional I untuk menambah wawasan sekaligus mempererat silaturahmi antarkader. Ia juga mengingatkan bahwa proses kaderisasi tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari proses membentuk kader yang mampu memberikan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar, sejalan dengan prinsip khairunnās anfa‘uhum linnās, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Menelusuri Islam dan Kepesantrenan
Materi pertama disampaikan oleh Ustadz M. Abdul Hanan, Lc. dengan tema Islam dan Kepesantrenan. Pembahasan diawali dengan sejarah perkembangan pesantren serta unsur-unsur yang membentuk tradisi pesantren.
Dalam pembahasannya, sejarah pendidikan pesantren tidak hanya dilihat dari perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia, tetapi juga ditarik lebih jauh pada praktik pendidikan pada masa Rasulullah SAW. Salah satu pembahasan mengangkat keberadaan Ahlus Suffah atau Ashabus Suffah, yaitu para sahabat yang tinggal di bagian serambi Masjid Nabawi dan dikenal sebagai kelompok yang banyak mencurahkan waktunya untuk belajar dan mendalami ajaran Islam.
Pembahasan kemudian diarahkan pada perkembangan pesantren di Indonesia serta pemahaman mengenai trilogi Islam. Peserta juga diajak mengenal paradigma epistemologi Islam yang meliputi nalar bayani, burhani, dan irfani. Ketiga pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana pengetahuan dalam Islam dibangun melalui teks, penalaran, serta pengalaman dan penghayatan spiritual.
Materi ditutup dengan pembahasan mengenai karakteristik pesantren yang membedakannya dengan sistem pendidikan lainnya. Salah satu cirinya terletak pada pola pendidikan yang berlangsung secara menyeluruh selama 24 jam. Pendidikan pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari, interaksi antara santri, pengasuh, serta lingkungan pesantren.
Belajar Membangun Jejaring dan Teknik Lobby
Materi berikutnya disampaikan oleh Ibrahim Nusantara mengenai teknik lobby dan pengembangan jaringan. Peserta diajak memahami bahwa membangun jejaring bukan sekadar memperbanyak relasi, tetapi membutuhkan proses dan strategi yang terarah.
Dalam penyampaiannya, proses tersebut dapat dimulai melalui observasi lapangan secara langsung untuk memahami kondisi dan persoalan yang ada. Setelah itu, diperlukan pengorganisasian, pembagian job desk, serta persiapan sebelum masuk pada tahap eksekusi.
Materi kemudian diperdalam melalui studi kasus mengenai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar. Peserta diberikan ruang untuk menganalisis masalah, menentukan langkah penyelesaian, serta melihat bagaimana teknik komunikasi dan jejaring dapat digunakan untuk membangun solusi secara bersama-sama.
Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi
Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan materi kepemimpinan dan manajemen organisasi yang disampaikan oleh Raden Riski Dwi Koestanto, S.Hum.
Ia mengawali materi dengan membedakan antara istilah kepemimpinan dan pemimpin. Kepemimpinan dipahami sebagai jiwa dan kemampuan yang perlu dimiliki setiap individu, sedangkan pemimpin merupakan individu yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan mengarahkan orang lain, yang dalam praktiknya sering kali berkaitan dengan sebuah jabatan.
Dalam materi tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan empat hal yang perlu dimiliki dalam menjalankan kepemimpinan, yaitu decision, direction, delay, dan decide. Keempat hal tersebut menjadi bagian dari proses seorang pemimpin dalam menghadapi persoalan, menentukan arah, mengelola waktu, serta mengambil keputusan.
Di akhir penyampaian, peserta diajak untuk tetap optimis selama menjalani proses kepengurusan. Evaluasi dan Laporan Pertanggungjawaban tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan sebagai ruang untuk melihat sejauh mana proses kepemimpinan telah berjalan dan apa yang masih perlu diperbaiki.
Pengabdian dan Masa Depan Pesantren
Materi selanjutnya disampaikan oleh Imam Sahal Ramdhani, S.Th.I., M.Ag. dengan tema pengembangan pondok pesantren dan masyarakat. Materi banyak menggunakan pendekatan studi kasus untuk mengajak peserta membayangkan persoalan serta perubahan apa yang dapat dilakukan ketika nantinya terjun dalam pengabdian.
Peserta diajak melihat bahwa pengabdian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan dapat dilakukan melalui kebutuhan yang dekat dengan kehidupan pesantren, seperti digitalisasi sistem administrasi, pengembangan kurikulum agar lebih relevan dengan perkembangan zaman, pemanfaatan limbah, hingga penguatan regenerasi penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) melalui pengenalan program ke pesantren-pesantren secara lebih efektif.
Pembahasan tersebut kemudian ditutup dengan sesi janji komitmen peserta KTR sebagai bentuk kesediaan untuk membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kaderisasi ke dalam kehidupan organisasi maupun pengabdian di masyarakat.
Memahami Paradigma CSSMoRA
Kegiatan kemudian berlanjut pada materi Paradigma CSSMoRA. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami kembali sejarah lahirnya paradigma CSSMoRA serta proses yang melatarbelakanginya.
Pembentukan paradigma tersebut pada awalnya lahir dari diskusi-diskusi ringan para peserta kaderisasi tingkat Regional I di Bandung. Dari proses diskusi dan refleksi tersebut, kemudian berkembang pemikiran mengenai nilai dan arah gerakan yang menjadi bagian dari identitas CSSMoRA.
Materi ini menjadi ruang bagi peserta untuk tidak hanya mengenal CSSMoRA sebagai organisasi, tetapi juga memahami gagasan yang menjadi dasar dalam menjalankan proses kaderisasi dan pengabdian.
Perempuan dan Ruang Kebermanfaatan
Materi terakhir disampaikan oleh M. Ridwan, M.Ag. mengenai keperempuanan. Pembahasan menyoroti posisi perempuan dalam kehidupan sosial dan ruang kebermanfaatan.
Ia menekankan bahwa perempuan memiliki posisi yang setara dengan laki-laki dalam hal kesempatan untuk berkontribusi dan memberikan manfaat. Perempuan tidak semestinya dibatasi hanya karena konstruksi sosial mengenai peran dan kemampuannya. Kebermanfaatan menjadi salah satu hal yang perlu dikedepankan, sehingga perempuan memiliki ruang yang sama untuk belajar, berkarya, memimpin, dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Ziarah dan Penutup KTR
Memasuki hari ketiga, rangkaian KTR I ditutup dengan kegiatan ziarah bersama ke maqbarah para pendiri Pondok Pesantren Kebon Jambu. Ziarah menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang memberikan ruang refleksi sekaligus mengenang perjuangan para pendahulu dalam membangun dan mengembangkan tradisi pendidikan pesantren.
Setelah ziarah, peserta melanjutkan kegiatan dengan sowan kepada salah satu pengasuh Pondok Pesantren Kebon Jambu. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk bersilaturahmi sekaligus mendapatkan nasihat sebelum mengakhiri seluruh rangkaian kaderisasi.
Kegiatan kemudian ditutup di aula dengan penutupan resmi dan foto bersama seluruh peserta.
Selama tiga hari pelaksanaan, KTR I CSSMoRA Nasional tidak hanya menjadi ruang untuk menerima materi, tetapi juga menjadi proses untuk mempertemukan pengalaman, gagasan, dan refleksi antaranggota Regional I. Mulai dari memahami akar pendidikan pesantren, membangun jejaring, belajar memimpin organisasi, memikirkan arah pengabdian, memahami paradigma CSSMoRA, hingga melihat kembali posisi perempuan dalam ruang kebermanfaatan.
Melalui rangkaian tersebut, KTR I menjadi bagian dari proses kaderisasi yang tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi diharapkan dapat diteruskan dalam bentuk kontribusi nyata di organisasi, pesantren, dan masyarakat.
Oleh: Lu’lu Ulzannah (Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia)
Editor: Muhammad Akmal Fadhli (PSDM Nasional)



