Living for Likes: Ketika Validasi Media Sosial Menjadi Ukuran Harga Diri

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, dan menampilkan diri. Media sosial menjadi salah satu ruang yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat modern, terutama generasi muda. Melalui media sosial, seseorang dapat menyampaikan gagasan, membangun relasi, membagikan pengalaman, memperlihatkan karya, bahkan membentuk citra diri di hadapan publik.

Namun, kehadiran media sosial tidak hanya melahirkan kemudahan. Di balik manfaatnya, terdapat persoalan yang semakin sering muncul, yaitu kecenderungan sebagian orang untuk menggantungkan penilaian terhadap dirinya pada respons orang lain di ruang digital. Unggahan yang mendapat banyak likes, komentar, atau tayangan sering dianggap sebagai tanda penerimaan. Sebaliknya, unggahan yang sepi respons dapat menimbulkan rasa kecewa, rendah diri, bahkan keraguan terhadap nilai diri sendiri.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial perlahan membentuk standar baru dalam memandang harga diri. Nilai manusia yang seharusnya dibangun melalui karakter, ilmu, akhlak, tanggung jawab, dan kontribusi nyata, terkadang justru dipersempit menjadi angka-angka digital. Jumlah likes, komentar, pengikut, dan tayangan seolah menjadi ukuran apakah seseorang layak diperhatikan, dihargai, atau dianggap menarik.

Pada dasarnya, media sosial bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Media sosial memiliki banyak fungsi penting dalam kehidupan masyarakat. Sejalan dengan pandangan Silajadja, Magdalena, dan Nugrahanti (2023), media sosial dapat dipahami sebagai sarana digital yang tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga memperluas hubungan sosial, mempercepat penyebaran informasi, serta mendukung berbagai kegiatan produktif, termasuk pemasaran dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dengan kata lain, media sosial adalah alat yang memiliki potensi besar. Ia dapat digunakan untuk membagikan ilmu, memperluas wawasan, memperkenalkan karya, membangun jejaring, serta menyebarkan nilai-nilai positif. Akan tetapi, manfaat tersebut dapat berubah menjadi persoalan ketika media sosial tidak lagi ditempatkan sebagai sarana, melainkan dijadikan pusat penilaian terhadap diri sendiri.

Dalam ruang digital, pengakuan sering hadir dalam bentuk yang mudah terlihat dan mudah dihitung. Like, komentar, jumlah pengikut, dan tayangan menjadi simbol penerimaan sosial. Artikel Ketergantungan pada Validasi Sosial Melalui Like, Comment, Followers di Media Sosial menjelaskan bahwa fitur-fitur tersebut dapat menjadi bentuk pengakuan yang memengaruhi harga diri dan kondisi psikologis seseorang.

Hal ini memperlihatkan bahwa validasi digital bukan sekadar persoalan sederhana. Bagi sebagian orang, respons positif di media sosial dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Namun, apabila rasa percaya diri itu terlalu bergantung pada respons orang lain, maka harga diri menjadi mudah goyah. Seseorang dapat merasa bernilai ketika mendapat perhatian, tetapi merasa tidak cukup baik ketika unggahannya tidak mendapatkan respons sesuai harapan.

Padahal, nilai diri manusia tidak seharusnya ditentukan oleh perhatian publik. Seseorang tetap berharga meskipun unggahannya tidak ramai. Proses perjuangan seseorang tetap bernilai meskipun tidak disaksikan banyak orang. Kebaikan, ilmu, akhlak, dan usaha seseorang tidak hilang hanya karena tidak mendapatkan pengakuan di media sosial.

Fenomena validasi digital juga berkaitan erat dengan kebiasaan membandingkan diri. Media sosial sering kali menampilkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang. Yang muncul di layar biasanya adalah keberhasilan, kebahagiaan, pencapaian, perjalanan, atau momen yang tampak indah. Sementara itu, proses panjang, kegagalan, kesedihan, dan perjuangan di baliknya jarang diperlihatkan.

Akibatnya, banyak pengguna media sosial membandingkan kehidupannya yang nyata dengan tampilan hidup orang lain yang sudah dipilih dan disusun sedemikian rupa. Perbandingan ini dapat menimbulkan rasa kurang, tertinggal, atau tidak cukup berhasil. Dalam kajian Krause, Baum, Baumann, dan Krasnova (2021), penggunaan jejaring sosial dapat memengaruhi harga diri melalui beberapa proses, salah satunya perbandingan sosial. Ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, dampaknya cenderung negatif terhadap harga diri.

Persoalan ini menjadi semakin relevan bagi generasi muda, khususnya mahasiswa. Mahasiswa berada dalam masa pencarian jati diri, pembentukan karakter, dan penentuan arah masa depan. Pada fase ini, media sosial dapat menjadi ruang yang bermanfaat untuk belajar, berkarya, berdiskusi, dan memperluas jaringan. Namun, apabila tidak digunakan dengan kesadaran yang matang, media sosial juga dapat menjadi sumber tekanan.

Tidak sedikit anak muda merasa harus selalu terlihat baik di hadapan publik. Mereka merasa perlu tampak bahagia, produktif, cerdas, religius, menarik, atau sukses agar mendapatkan pengakuan dari orang lain. Akibatnya, media sosial yang seharusnya menjadi ruang ekspresi berubah menjadi panggung pencitraan yang melelahkan. Seseorang tidak lagi bebas menjadi dirinya sendiri, karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana dirinya dinilai oleh orang lain.

Kondisi ini perlu disikapi dengan bijak. Keinginan untuk dihargai dan diterima merupakan hal yang manusiawi. Setiap orang tentu senang ketika karyanya diapresiasi, pendapatnya didengar, dan kehadirannya diterima. Namun, validasi menjadi berbahaya ketika berubah menjadi ketergantungan. Ketika seseorang hanya merasa bernilai setelah mendapat pujian, likes, komentar, atau perhatian, maka ia sedang menyerahkan harga dirinya kepada sesuatu yang tidak stabil.

Oleh karena itu, penggunaan media sosial perlu disertai dengan kesadaran diri. Media sosial seharusnya tetap menjadi alat, bukan penentu utama nilai manusia. Ia boleh digunakan untuk membagikan karya, menyampaikan gagasan, memperluas relasi, dan menebarkan manfaat. Namun, kendali atas diri tetap harus berada pada manusia, bukan pada algoritma, angka, atau respons publik.

Generasi muda perlu memahami bahwa tidak semua hal harus ditampilkan. Tidak semua pencapaian harus diumumkan. Tidak semua proses harus diketahui banyak orang. Ada perjuangan yang tetap bermakna meskipun tidak terlihat. Ada kebaikan yang tetap bernilai meskipun tidak mendapat tepuk tangan. Ada proses bertumbuh yang tetap penting meskipun tidak pernah menjadi unggahan.

Harga diri yang kuat tidak lahir dari perhatian sesaat, melainkan dari kesadaran terhadap nilai diri yang lebih mendalam. Ia tumbuh dari kejujuran, tanggung jawab, ilmu, akhlak, ketekunan, dan kemampuan memberi manfaat bagi sesama. Ketika seseorang membangun harga dirinya dari hal-hal tersebut, ia tidak akan mudah runtuh hanya karena unggahannya tidak ramai, dan tidak pula berlebihan merasa tinggi hanya karena mendapat banyak pujian.

Pada akhirnya, media sosial adalah ruang yang memiliki dua sisi. Ia dapat menjadi sarana untuk berkarya dan berbagi manfaat, tetapi juga dapat menjadi tempat seseorang kehilangan arah dalam menilai dirinya sendiri. Karena itu, setiap pengguna perlu memiliki sikap kritis dan bijak dalam menggunakannya.

Manusia tidak seharusnya hidup hanya untuk mengejar likes. Manusia hidup untuk bertumbuh, belajar, berkarya, memperbaiki diri, dan memberi manfaat. Maka, media sosial sebaiknya digunakan sebagai ruang untuk menyebarkan nilai, bukan sebagai ukuran utama harga diri.

Penulis : Muhammad Muhyiddin ( CSSMoRA UIN Raden Fatah Palembang)

Editor : Konah Wulanah (PSDM CSSMoRA Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *