KRISIS NALAR DI RUANG KULIAH

Pernah nggak sih kita duduk di kelas hampir dua jam, tapi pulang tanpa benar-benar ingat apa yang dipelajari?

Yang di depan baca PPT.
Yang di belakang sibuk sendiri.
Yang presentasi sebenarnya juga belum paham materi.
Dan yang paling ironis, semuanya tetap berjalan seperti itu setiap minggu seolah sudah dianggap normal.

Awalnya aku pikir masalahnya ada di mahasiswa yang malas belajar. Tapi makin lama aku sadar, mungkin yang bermasalah bukan cuma manusianya, tapi juga budaya belajarnya.

Hari ini presentasi di kampus sudah seperti ritual wajib. Hampir setiap mata kuliah ada presentasi kelompok. Katanya untuk melatih critical thinking, public speaking, dan diskusi. Tapi kenyataannya sering kali cuma jadi formalitas akademik. Yang penting bikin PPT, maju, baca slide, lalu selesai.

Lucunya, di era AI sekarang, proses itu jadi makin instan.

Bikin PPT pakai AI.
Cari materi pakai AI.
Bikin pertanyaan pakai AI.
Jawab pertanyaan pun pakai AI.

Akhirnya ruang kelas terasa aneh. Semua orang punya jawaban, tapi tidak benar-benar punya pemikiran.

Kadang aku bertanya, kalau semuanya tinggal “minta tolong AI”, lalu sebenarnya bagian berpikirnya ada di mana?

Yang lebih melelahkan adalah ketika presentasi tidak lagi dipakai untuk menyampaikan pemahaman, tapi hanya memindahkan tulisan ke layar. Slide penuh paragraf panjang. Penyaji membaca hampir semua isi PPT. Audiens diam bukan karena fokus, tapi karena bosan.

Dan ini terjadi terus-menerus.

Padahal kuliah itu mahal. Waktu juga mahal. Energi mahasiswa pun mahal. Tapi kadang kelas terasa seperti hanya tempat menggugurkan kewajiban: dosen memberi kelompok, mahasiswa presentasi, kelas selesai, nilai keluar.

Tidak ada percakapan yang hidup.
Tidak ada rasa penasaran.
Tidak ada ruang berpikir yang benar-benar tumbuh.

Ironisnya, sistem seperti ini justru perlahan membuat mahasiswa terbiasa belajar secara dangkal. Kita jadi terbiasa mencari jawaban cepat dibanding memahami prosesnya. Terbiasa terlihat pintar dibanding benar-benar berpikir.

AI sebenarnya tidak salah. Teknologi memang diciptakan untuk membantu manusia. Tapi masalahnya, hari ini banyak orang memakai AI bukan untuk membantu berpikir, melainkan menggantikan berpikir.

Dan itu bahaya.

Hal ini sejalan dengan panduan UNESCO tentang penggunaan AI dalam pendidikan, yang menegaskan bahwa teknologi seharusnya memperkuat kemampuan berpikir manusia, bukan menggantikannya. UNESCO juga mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dapat mengurangi keterlibatan kognitif peserta didik dan melemahkan proses belajar yang aktif.

Karena kampus seharusnya bukan tempat menghasilkan mahasiswa yang paling cepat membuat PPT. Kampus harusnya menjadi tempat lahirnya rasa ingin tahu, tempat orang belajar mempertanyakan sesuatu, belajar menyusun argumen, belajar salah, lalu belajar memahami.

Paulo Freire pernah mengatakan bahwa pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi, tetapi proses membangun kesadaran. Sayangnya, banyak ruang kelas hari ini justru kehilangan kesadaran itu. Kita sibuk menyelesaikan slide demi slide, tapi lupa membangun makna dari apa yang dipelajari.

Mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya mahasiswanya. Tapi juga budaya belajar kita.

Karena kalau ruang kelas hanya dipenuhi orang yang membaca hasil AI tanpa benar-benar berpikir, lama-lama kampus tidak lagi menjadi tempat mencari ilmu, melainkan hanya tempat mengumpulkan tugas.

Penulis: Ai Nurussaadah (Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang 2024). Email: ainurussaadah02@gmail.com
Editor: Abdul Aziz Maulana Rachman


Referensi:

Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed (1970).
UNESCO, Guidance for Generative AI in Education and Research (2023).

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *