KEHILANGAN

Langit malam tampak lebih sunyi hari itu,
seolah tahu ada doa yang pulang tanpa suara.
Rumah masih sama,
kursi itu masih di tempatnya,
namun tak ada lagi langkah
yang biasa menyambut dengan senyum sederhana.

Pengambilan gambar yang selalu ku benci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisan yang tak sama lagi
Ooh...satu...dua...tiga...
Ini nyata, kau telah pergi

Aku belajar bahwa kehilangan
tidak selalu datang dengan teriakan,
kadang ia hadir pelan-pelan,
lalu menetap menjadi ruang kosong
yang hampa dan tak ada arti.

Namamu masih tinggal
di setiap sudut ingatan
pada secangkir susu yang mulai dingin,
pada pintu yang dulu sering kau buka,
dan pada senja yang kau lirik di sepanjang
jalan yang membuat senja tak berarti lagi.

Orang-orang berkata waktu akan menyembuhkan,
tetapi waktu hanya mengajarkan
cara hidup berdampingan dengan luka.
Karena ada seseorang
yang kepergiannya tidak pernah benar-benar selesai.

Kini aku mengerti,
beberapa perpisahan memang tidak memberi pilihan
selain ikhlas.
Dan meski dunia terus berjalan,
ada bagian dari hati
yang selamanya tertinggal bersamamu.

Jika suatu hari doa bisa menjelma pelukan,
aku ingin kau tahu
aku masih menyebut namamu, di antara air mata yang diam-diam jatuh,
dan berharap semesta menjagamu
setenang dulu kau menjagaku


Penulis: Astrid. N.A (CSSMoRA UIN Alauddin Makassar 2024)

Editor: Abdul Aziz Maulana Rachman (PSDM Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan buletin CSSMoRA untuk menerima notifikasi update kami​