Sumber: Tempo.co
cssmora.org – Kepala Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menyatakan bahwa bagi saudara-saudara yang terluka, kami panjatkan doa sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat menjenguk orang sakit: “La ba’sa thahurun insya Allah” “Tidak mengapa, semoga ini menjadi penyuci (dosa), insya Allah” (HR. Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma). Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyembuhkan mereka, mengganti harta benda yang hilang dengan yang lebih baik, dan menenangkan jiwa mereka yang sempat diliputi ketakutan di tengah laut.
Keselamatan seluruh penumpang dalam peristiwa seperti ini sepatutnya disyukuri dengan sungguh-sungguh:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” QS. Ibrahim (14): 7
Rasa syukur kepada Allah juga tidak terlepas dari rasa terima kasih kepada manusia yang menjadi perantara pertolongan-Nya. Seorang sopir bus bercerita bahwa nelayan Merak menjadi yang pertama menolong, sebelum kapal-kapal lain tiba. Bersama 18 kapal dan unsur SAR yang dikerahkan, merekalah yang menjadi jalan selamatnya ratusan jiwa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Ucapan terima kasih yang tulus patut dialamatkan kepada para nelayan, petugas SAR, dan siapa pun yang bergerak cepat dalam kesulitan itu. Di sisi lain, insiden ini menambah daftar kebakaran kapal penyeberangan tahun ini. Sementara penyebabnya masih dalam penyelidikan, termasuk perbedaan keterangan antara sumber api di dek kendaraan atau kamar mesin, dan sejumlah kesaksian penumpang yang belum diverifikasi, kita diingatkan pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia menyelesaikannya dengan itqan (sebaik-baiknya).” HR. Al-Baihaqi, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha
Mengelola sarana angkutan yang membawa ratusan nyawa adalah pekerjaan yang menuntut ketelitian tertinggi, dari perawatan mesin hingga kesiapan peralatan keselamatan. Sikap pengelola yang menyampaikan permohonan maaf, membuka posko pendataan barang, dan menyiapkan penggantian kerugian patut dihargai sebagai awal tanggung jawab yang baik. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melindungi setiap perjalanan umat di darat, laut, dan udara.
Latar belakang
Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi milik PT ASDP Indonesia Ferry terbakar saat hendak bersandar di Pelabuhan Merak, Selasa (20/10) sore. Seluruh orang di atas kapal berhasil dievakuasi dan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, tetapi puluhan orang terluka, barang berharga penumpang hangus, dan penyebab kebakaran belum diketahui. Hingga Rabu (21/10), polisi masih menyelidiki dan ASDP mengalihkan layanan penyeberangan ke dermaga lain.
KMP Batumandi bertolak dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung, menuju Merak pada Selasa siang. Jam keberangkatan berbeda antarsumber: sekitar pukul 14.52 WIB menurut KSOP Kelas I Banten, ANTARA, dan CNN Indonesia, sedangkan pernyataan ASDP yang dikutip sejumlah media menyebut 14.32 WIB. Menurut ASDP, sekitar pukul 16.15 WIB petugas darat melihat percikan api di buritan kapal, tepatnya di dek atas untuk muatan kendaraan kecil, ketika kapal berada di sekitar Pulau Merak Besar dan sedang berolah gerak menuju Dermaga VI. Kepala KSOP Kelas I Banten, Yogie Nugraha, menyebut laporan awal ke VTS Merak justru menyatakan api berasal dari kamar mesin. Perbedaan ini menjadi bagian yang harus dipastikan penyelidik.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala





