SEBAB PERUNDUNGAN PEGAWAI NEKAT MEMBAKAR RUANG KANTOR PEMERINTAH

Sumber: Kompas.com

cssmora.org – Ketua Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menyatakan peristiwa pembakaran ruang rapat Kantor Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kutai Kartanegara oleh seorang tenaga outsourcing yang merasa sakit hati karena fotonya kerap dijadikan bahan olok-olok dan stiker WhatsApp oleh rekan kerjanya, menjadi peristiwa yang memilukan sekaligus mengandung banyak pelajaran, baik dari sisi pelaku perundungan maupun respons emosional yang berujung pada tindakan destruktif.

Islam secara tegas melarang segala bentuk olok-olok dan penghinaan terhadap sesama, sekecil apa pun bentuknya, karena dapat melukai harga diri dan martabat seseorang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka.” QS. Al-Hujurat (49): 11. Ayat ini menjadi pengingat bahwa candaan atau lelucon yang menyasar fisik maupun kehormatan seseorang, meski dianggap sepele oleh pelakunya, dapat menimbulkan luka batin yang mendalam bagi korban, sebagaimana yang dialami pelaku dalam peristiwa ini.

Di sisi lain, Islam juga mengajarkan pentingnya mengendalikan amarah, betapa pun besar rasa kesal yang dipendam seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasihat singkat:

 لَا تَغْضَبْ

“Janganlah engkau marah.” HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nasihat singkat ini diulang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkali-kali, menunjukkan bahwa pengendalian diri atas amarah adalah kunci utama untuk mencegah tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, termasuk tindakan merusak fasilitas yang berdampak pada banyak pihak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menempatkan orang yang mampu menahan amarah sebagai sosok yang kuat dalam pandangan agama:

 لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat itu orang yang menang dalam pergulatan, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Peristiwa ini menjadi renungan bersama bahwa lingkungan kerja yang sehat dan bebas dari perundungan adalah tanggung jawab kolektif, sementara di sisi lain, kesabaran dan pengendalian diri tetap menjadi jalan yang harus diupayakan setiap individu dalam menghadapi tekanan dan perlakuan yang tidak menyenangkan, agar tidak berujung pada kerugian yang jauh lebih besar bagi diri sendiri maupun orang lain.

Latar belakang

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 07.20 WITA di Kantor Diskominfo Kutai Kertanegara, yang mana pelaku, MFA bekerja sehari-hari sebagai Operator Command Center mendatangi kantor membawa sekitar 30-40 liter Pertalite dalam galon air minum. Setelah memasuki ruang rapat, MFA diduga menyiramkan bahan bakar tersebut di bagian belakang pintu dan menyalakannya dengan korek api.

Ia sempat membentak petugas kebersihan yang melihatnya sebelum melarikan diri melalui tangga. Api berhasil dipadamkan oleh petugas dan warga sekitar pukul 08.30 WITA, tanpa ada korban jiwa. Polres Kutai Kertanegara segera penyelidikan dan menetapkan MFA sebagai tersangka pada hari yang sama.

Sumber: Berbagai Sumber

Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional

Editor: Thariq Afdhala

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *