GEMPA MENGGUNCANG NTT HINGGA ADANYA PERINGATAN DINI TSUNAMI

Sumber: OPSI.ID

cssmora.org – Ketua Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menyatakan gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, disertai peringatan dini tsunami dan ratusan gempa susulan, telah menimbulkan duka mendalam dengan korban meninggal dunia mencapai 48 orang, ratusan luka-luka, serta lebih dari 5.000 warga mengungsi. Kerusakan turut melanda ratusan bangunan, fasilitas pendidikan, kesehatan, pelabuhan, dan bandara di sejumlah kabupaten terdampak.

Duka dan musibah sebesar ini menjadi pengingat akan kebesaran dan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala atas alam semesta, sekaligus menuntun umat untuk merenungi kefanaan dunia dan memperbanyak muhasabah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat).” QS. Az-Zalzalah (99): 1.

Terhadap saudara-saudara yang berpulang dalam peristiwa ini, Islam mengajarkan ucapan istirja’ sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala:

 الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali.'” QS. Al-Baqarah (2): 156.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan keutamaan besar bagi siapa saja yang wafat tertimpa reruntuhan bangunan, sebagai bentuk penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan:

 الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang mati syahid itu ada lima: orang yang mati karena wabah tha’un, mati karena sakit perut, mati tenggelam, mati tertimpa reruntuhan, dan yang mati syahid di jalan Allah.” HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Di tengah duka, langkah cepat evakuasi, distribusi bantuan, serta kesigapan berbagai pihak dalam menangani dampak gempa merupakan wujud ikhtiar yang selaras dengan ajaran Islam untuk saling menolong dalam kesulitan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” QS. Al-Ma’idah (5): 2.

Rangkaian gempa susulan yang masih terus terjadi juga menjadi pengingat pentingnya kesabaran dan kewaspadaan yang berkelanjutan, tanpa mengurangi rasa tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala ketentuan-Nya.

 وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“…dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” QS. Al-Baqarah (2): 155.

Latar belakang

Gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut kabupaten Nagakeo, pada koordinat 8,41° Lintang Selatan dan 121,39° Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer. Guncangan ini disusul ratusan gempa susulan, dan sempat memicu peringatan dini Tsunami di sejumlah wilayah Nusa Tenggara hingga Sulawesi.

Tsunami kecil sempat terjadi di 10 titik pesisir, seperti di Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, dan Flores Timur, serta status waspada di sejumlah wilayah lain. BMKG mencatat gelombang tsunami sempat teramati di sepuluh titik pengamatan pesisir, dengan ketinggian tertinggi 0,94 meter di Maurole, Ende, dan 1,61 meter di Reo, Manggarai serta Manggarai Timur.

Sumber: Berbagai Sumber

Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional

Editor: Thariq Afdhala

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *