Di Tengah Asap, Antrean BBM, dan Padamnya Listrik: Ketika Ujian Datang Berlapis

CSSMoRA Nasional — Belakangan ini, masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan dihadapkan pada persoalan yang datang hampir bersamaan. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), antrean bahan bakar minyak (BBM), hingga pemadaman listrik bergilir menjadi bagian dari keseharian warga.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat menghadapi pilihan yang tidak mudah. Berdiam di rumah berarti harus bertahan dalam kondisi panas ketika listrik padam, sementara keluar rumah berarti berhadapan dengan kualitas udara yang dapat mengganggu kesehatan.

Kondisi yang datang berlapis ini menjadi perhatian Kepala Departemen P3M CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih. Menurutnya, di balik berbagai kesulitan yang sedang dihadapi masyarakat, terdapat banyak orang yang tetap bekerja dan berusaha memastikan kebutuhan publik tetap terpenuhi.

“Bukan hanya asap yang harus dihadapi warga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur belakangan ini. Indeks pencemaran udara yang sempat menyentuh angka 2000 di Kalimantan Barat dan Tengah, antrean BBM yang mengular hingga satu kilometer di Palangka Raya, serta pemadaman listrik bergilir yang sudah berjalan sejak Mei dan belum juga tuntas,” ujarnya.

Menurut Ardian, berbagai persoalan tersebut memperlihatkan bagaimana satu masalah dapat berkelindan dengan masalah lainnya. Kemarau dapat memperbesar risiko karhutla, sementara kabut asap berpotensi menghambat aktivitas dan distribusi, termasuk distribusi BBM. Pada saat yang sama, gangguan pada sistem kelistrikan semakin menambah beban masyarakat.

Dalam kondisi demikian, ia mengingatkan salah satu firman Allah SWT yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Bagi Ardian, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap ujian memiliki batas yang telah Allah tetapkan, meskipun bagi manusia yang menjalaninya, kesulitan tersebut dapat terasa begitu berat.

Namun, di tengah krisis yang berlapis, terdapat orang-orang yang memilih tetap berada di garis depan. Personel pemadam kebakaran hutan dan lahan terus berjibaku di titik-titik api. Sebagian bahkan harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang panjang demi membantu mengendalikan kebakaran dan menjaga keselamatan masyarakat.

Hal serupa dilakukan oleh petugas PLN yang tetap disiagakan di tengah situasi karhutla serta petugas Pertamina yang berupaya menjaga ketersediaan pasokan BBM meskipun distribusi menghadapi berbagai hambatan.

Bagi Ardian, kerja mereka bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga menjadi bentuk ikhtiar untuk meringankan kesulitan orang lain. Ia kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Setiap tenaga yang dikeluarkan untuk membantu orang lain, menurutnya, memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar apa yang terlihat di permukaan. Keringat para petugas yang bekerja di tengah asap, panas, maupun antrean panjang menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan kelapangan bagi masyarakat.

Situasi ini sekaligus memperlihatkan bahwa berbagai persoalan lingkungan dan kebutuhan dasar masyarakat tidak berdiri sendiri. Karhutla, kualitas udara, distribusi BBM, hingga kelistrikan memiliki keterkaitan yang membuat penanganannya membutuhkan kerja lintas sektor dan solidaritas masyarakat.

Di tengah persoalan yang belum sepenuhnya terurai, Ardian mengajak masyarakat untuk tetap bertahan sembari terus berikhtiar.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)

Dua kali Allah mengulang janji tersebut dalam ayat yang berurutan. Bagi Ardian, pengulangan itu menjadi pengingat bahwa kesulitan tidak pernah menjadi keseluruhan cerita. Di balik persoalan yang datang dari berbagai arah, selalu ada ruang untuk berikhtiar, saling membantu, dan menggantungkan harapan kepada pertolongan Allah SWT.

Sebab, ketika berbagai kesulitan datang bersamaan, manusia mungkin tidak selalu mampu mengendalikan keadaan. Namun, manusia tetap dapat memilih untuk tidak menyerah: menjaga sesama, membantu sebisanya, dan terus percaya bahwa setelah kesulitan, akan selalu ada jalan menuju kelapangan.

Penulis: Tim Lierasi PSDM CSSMoRA Nasional

Editor: Konah Wulanah (PSDM CSSMoRA Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *