
Semarang – Kaderisasi Tingkat Regional (KTR) CSSMoRA Regional 2 Tahun 2026 sukses dilaksanakan pada Jumat–Minggu, 25–27 September 2026 di Pendopo Kinanti, Mijen, Semarang. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses kaderisasi CSSMoRA Nasional untuk mempersiapkan generasi yang akan melanjutkan estafet kepengurusan organisasi. Sekaligus menjadi ruang pembelajaran dan silaturahmi bagi anggota CSSMoRA Regional 2.
Kegiatan dimulai pada Jumat sore dengan pembukaan formal (Opening Ceremony). Rangkaian acara meliputi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Pelaksana, Ketua CSSMoRA UIN Walisongo Semarang selaku tuan rumah, perwakilan Departemen PSDM CSSMoRA Nasional, Pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang, serta Ketua Umum CSSMoRA Nasional. Pembukaan kemudian ditutup dengan doa.
Dalam sambutannya, Pengelola PBSB UIN Walisongo Semarang, Dr. Muhammad Nurkhanif, M.S.I., menekankan pentingnya sinergi antara tradisi pesantren dan perkembangan zaman sesuai dengan tema kegiatan yang diusung. Mahasantri PBSB diharapkan dapat tampil proaktif dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan, sesama, maupun dinamika organisasi. Santri tidak seharusnya menjadi pribadi yang pasif, tetapi mampu berkiprah dengan membawa tradisi pesantren yang telah dirawat untuk dapat disebarluaskan kepada khalayak non-santri, khususnya di lingkungan kampus masing-masing. Selain itu, beliau berharap agar KTR dapat menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antarkampus di Regional 2. Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan kaderisasi, tetapi dapat dilanjutkan melalui kolaborasi dan pelaksanaan program kerja bersama.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi materi. Setiap materi diawali dengan pre-test untuk melihat pemahaman awal peserta dan dilanjutkan dengan penugasan di akhir sesi.
Materi pertama, “Teknik Lobi Pengembangan Jaringan”, disampaikan oleh Muh. Aksa, S.Kep., Ns. Peserta mendapat pemahaman bahwa lobi bukan sekadar upaya membujuk pihak lain, tetapi juga tentang membangun kepercayaan melalui komunikasi yang baik, integritas, dan kemampuan menciptakan manfaat bagi kedua belah pihak.
Materi tersebut kemudian dipraktikkan melalui penugasan berupa simulasi lobi antarkelompok. Melalui praktik ini, peserta dapat mencoba secara langsung bagaimana membangun komunikasi dan menawarkan kerja sama dengan pihak lain.
Hari Kedua
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti empat sesi materi. Materi pertama, “Paradigma CSSMoRA”, disampaikan oleh Khidrian Arfiansyah, S.Sos. Pemateri menekankan keterkaitan antara paradigma dan perangkat hukum dalam menjalankan organisasi. Sebagaimana disampaikan dalam sesi tersebut, “Paradigma tanpa hukum adalah kekacauan, hukum tanpa paradigma adalah kediktatoran.” Peserta kemudian diajak memahami bagaimana paradigma CSSMoRA dapat digunakan bersama perangkat hukum CSSMoRA dalam membaca dan menyelesaikan persoalan organisasi.
Pada sesi penugasan peserta diberi sebuah kasus mengenai permasalahan dalam CSSMoRA. Kasus tersebut dianalisis menggunakan paradigma dan perangkat hukum CSSMoRA. Hasilnya dituangkan dalam bentuk mind map dan dipresentasikan oleh masing-masing kelompok.
Materi kedua, “Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi” disampaikan oleh Unggul Suryo Ardi, M.H. Materi ini membahas bagaimana seorang pemimpin menghadapi perubahan, membaca peluang, dan mengambil keputusan dengan tetap berpegang pada integritas serta kemaslahatan.
Peserta diperkenalkan dengan analisis SWOT dan strategi TOWS sebagai instrumen dalam membaca kondisi organisasi dan menentukan langkah penyelesaian masalah. Keduanya kemudian digunakan untuk penugasan mengolah sebuah kasus dan menyusun strategi penyelesaian yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan dipresentasikan.
Materi ketiga, “Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat”, disampaikan oleh Nursodik, S.H.I., M.H. Peserta diajak melihat peluang pengembangan pesantren sekaligus memahami bentuk kontribusi yang dapat diberikan santri kepada masyarakat. Sebagai penugasan, peserta diminta menyusun sebuah program pengembangan pesantren dan dipresentasikan.
Materi terakhir adalah “Islam Kepesantrenan” yang disampaikan oleh Muhammad Muhaimin Thohri. Dalam sesi ini, peserta diajak merefleksikan kembali identitas santri dan nilai-nilai kepesantrenan yang perlu dibawa dalam kehidupan organisasi maupun masyarakat. Pemateri menekankan bahwa menjadi santri bukan berarti memiliki jawaban untuk semua pertanyaan, tetapi memiliki cara untuk mencari jawaban melalui ilmu, adab, dan pengabdian. Perbedaan latar belakang pesantren, daerah, organisasi, maupun cara memahami persoalan merupakan bagian dari dinamika kehidupan. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan persaudaraan.
Santri diharapkan tidak hanya mampu berbicara mengenai Islam, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai Islam melalui cara berbicara, bersikap, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain. Sesi ini kemudian ditutup dengan penugasan berupa praktik debat antarkelompok untuk melatih kemampuan menyampaikan pendapat dan menyikapi perbedaan pandangan.
Setelah seluruh materi selesai, peserta mengerjakan post-test sebagai bentuk evaluasi tertulis untuk mengukur pemahaman terhadap seluruh materi yang telah disampaikan dalam KTR.
Hari kedua kemudian ditutup dengan kegiatan bonding antarpeserta. Kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun keakraban, memperkuat hubungan antarpeserta, dan menciptakan suasana kebersamaan di antara kader CSSMoRA Regional 2.
Hari Ketiga
Hari ketiga diawali dengan presentasi esai oleh masing-masing peserta. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk menyampaikan gagasan sekaligus melatih kemampuan berbicara dan mempertanggungjawabkan pemikiran yang telah disusun.
Rangkaian kegiatan KTR Regional 2 Tahun 2026 kemudian ditutup melalui Closing Ceremony. Kegiatan penutupan diisi dengan pembacaan ayat suci Al- Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars CSSMoRA, sambutan dari ketua pelaksana (Asyraf Zofir Wafa) dan perwakilan PSDM CSSMoRA Nasional (Yusron Zakarsya), pemberian sertifikat serta apresiasi kepada peserta teraktif dan peserta terbaik. Kemudian diakhiri dengan doa dan foto bersama.
Ketua Pelaksana KTR Regional 2 Tahun 2026 menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan berharga untuk mempertemukan kader dan membangun kebersamaan dalam CSSMoRA. Kaderisasi tidak hanya tentang materi, tetapi juga tentang membangun kebersamaan untuk menjaga keberlanjutan organisasi. Meskipun jumlah peserta tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, peserta yang hadir diharapkan dapat menjadi kader yang mampu melanjutkan estafet kepengurusan CSSMoRA Nasional. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam menjalankan peran organisasi ke depan.
Harapan yang sama juga disampaikan oleh Perwakilan PSDM CSSMoRA Nasional selaku penanggungjawab kegiatan. KTR Regional 2 diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk melanjutkan estafet kepengurusan, sekaligus melahirkan gagasan dan inovasi baru yang dapat mendorong CSSMoRA terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih luas.
Oleh: Dania Rofida (PSDM CSSMoRA Nasional)


