Cssmora.org,- Dunia tengah menahan napas setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Iran tidak hanya membalasnya dengan serangan serupa, tetapi juga menutup salah satu urat nadi energi dunia, yaitu Selat Hormuz. Pemblokadean ini memicu gelombang kejut di pasar energi global. Hal ini terlihat dari harga minyak dunia yang meroket. Akibatnya, inflasi mulai mengintai dari Washington hingga Jakarta, sehingga para pemimpin dunia berlomba mencari strategi untuk menyelamatkan perekonomian.
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur paling sibuk dalam distribusi minyak dunia. Hal ini karena jalur air tersebut diapit oleh negara-negara produsen minyak terbesar di dunia, yaitu Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab. Dengan kondisi geografis tersebut, Selat Hormuz menjadi jalur paling vital dalam sistem peredaran energi dunia. Sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak global, atau setara dengan 20,1 juta barel per hari, harus melewati celah strategis ini setiap hari.
Pasar energi bereaksi dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Data perdagangan menunjukkan harga minyak mentah dunia langsung meroket. Laporan GoodStats (2026) mencatat bahwa harga minyak mentah Brent pada 2 Maret 2026 sempat menyentuh US$82,11 per barel pada pukul 14.51 WIB. Angka ini menjadi level tertinggi dalam enam bulan terakhir, melonjak 19,32 persen hanya dalam hitungan hari pasca-penutupan Selat Hormuz.
Lonjakan harga tidak terjadi begitu saja. Pada Sabtu (28/2/2026), militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran. Langkah ini kemudian ditanggapi Iran dengan tindakan balasan yang sangat strategis, yakni penutupan Selat Hormuz. Keesokan harinya (1/3/2026), dilaporkan tiga kapal dari Inggris dan Amerika Serikat diserang di perairan Selat Hormuz. Insiden ini menegaskan bahwa penutupan selat tersebut bersifat efektif dan mengancam langsung arus perdagangan energi global.
Di tengah kekacauan yang terjadi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan di media sosial Truth Social bahwa, “Jika perlu, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz sesegera mungkin,” tulis Trump. Pernyataan tersebut memicu perdebatan internasional karena tawaran tersebut datang dengan syarat yang tidak biasa, yaitu “harus bayar”.
Melalui DFC (Development Finance Corporation), sebuah lembaga keuangan pembangunan Amerika Serikat yang didirikan pada 2019, Trump menginstruksikan penyediaan layanan keamanan maritim yang disertai “harga wajar”, asuransi risiko politik, hingga jaminan keamanan keuangan bagi seluruh perdagangan maritim, terutama energi yang melewati Teluk. Sikap ini menuai kritik dari berbagai pihak yang menilai Amerika Serikat mencoba mengambil keuntungan dari krisis global dan berpotensi melanggar norma-norma internasional tentang kebebasan jalur pelayaran.
Indonesia tidak luput dari dampak eskalasi ini. Sebagai negara pengimpor minyak, dampak krisis Selat Hormuz terasa sangat dekat. Data dari Republika (2026) menunjukkan angka yang mencengangkan, sekitar 19 persen kebutuhan minyak mentah nasional, atau setara dengan 25,36 juta barel per tahun, berasal dari kawasan Teluk dan melewati Selat Hormuz. Sektor lain juga tidak kalah rentan. Kebutuhan LPG nasional yang mencapai 7,3–7,8 juta ton per tahun masih dipenuhi melalui impor. Jika jalur pasok terganggu, harga LPG di dalam negeri berpotensi melambung dan berdampak langsung pada rumah tangga serta Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Menanggapi hal tersebut, pemerintah Indonesia bergerak cepat menghadapi ancaman ini. Melalui Sidang Dewan Energi Nasional (DEN) ke-1 tahun 2026 yang diketuai oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026), sejumlah skenario antisipatif mulai disiapkan. Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi, menegaskan bahwa mitigasi risiko harus segera diperkuat agar dampak gejolak global tidak mengganggu stabilitas energi dalam negeri. Ia juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar tidak terjadi kelangkaan energi di dalam negeri sebagai bentuk komitmen menjaga stabilitas nasional melalui Kementerian ESDM.
Pemerintah disebut telah menyiapkan pengalihan sebagian impor minyak mentah ke negara lain, termasuk meningkatkan suplai dari Amerika Serikat. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada satu jalur pasokan yang rawan konflik. Menurut Abdul, langkah pengalihan impor harus dibarengi dengan penguatan energi domestik. Salah satu potensi yang perlu segera dioptimalkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal.
Krisis ini bukan sekadar angka di lantai bursa. Dalam kajian ekonomi, kenaikan harga minyak dan BBM sering disebut sebagai “ibu dari segala inflasi” (the mother of all inflations). Literatur akademis dari berbagai sumber menjelaskan mekanisme penularannya. Ketika harga minyak mentah dunia naik, harga BBM di dalam negeriakan mengikuti, jika tidak disubsidi. Kenaikan harga BBM kemudian memicu serangkaian reaksi berantai: biaya transportasi membengkak, biaya logistik meningkat, harga pangan ikut meroket, ongkos produksi pabrik melambung, harga barang dan jasa secara umum naik (inflasi), daya beli masyarakat tergerus, dan kepanikan massal.
Teori dampak kenaikan BBM yang dirujuk dari jurnal El-Mal dan Sunan Kalijaga: Islamic Economics Journal menjelaskan bagaimana gejolak harga energi dapat memicu penurunan kesejahteraan masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Inilah yang paling dikhawatirkan oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Oleh karena itu, keputusan tentang harga BBM bukan sekadar keputusan teknis ekonomi, tetapi juga keputusan politik dengan implikasi kemanusiaan yang luas. Krisis Selat Hormuz membuka mata dunia akan kerapuhan sistem energi global. Satu titik konflik di Timur Tengah mampu mengguncang ekonomi dari Asia hingga Amerika. Bagi Indonesia, krisis ini menjadi ujian serius bagi ketahanan energi nasional. Pemerintah telah menunjukkan respons cepat dengan menyiapkan diversifikasi impor dan penguatan energi domestik. Namun, tantangan ke depan masih panjang.
CSSMoRA turut prihatin terhadap konflik yang terjadi antara Amerika Serikat–Israel dan Iran serta turut berduka atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei. CSSMoRA juga berharap kedua belah pihak dapat menurunkan ego masing-masing agar konflik dapat diselesaikan sesegera mungkin. Atas langkah pemerintah Indonesia dalam menanggapi konflik dan potensi kelangkaan energi, CSSMoRA memberikan apresiasi dan mendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional.
Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Teheran, Washington, dan para aktor global lainnya. Apakah eskalasi akan terus berlanjut, atau masih ada celah diplomasi yang dapat membuka kembali jalur minyak paling penting di planet ini? Satu hal yang pasti, harga yang harus dibayar dunia untuk sebotol minyak mungkin akan jauh lebih mahal dari yang pernah kita bayangkan. Kekacauan massal pun tak dapat dihindarkan.
https://goodstats.id/article/selat-hormuz-ditutup-harga-minyak-dunia-tembus-us80-27Fsn
https://www.tempo.co/ekonomi/pemerintah-belum-putuskan-kenaikan-harga-bbm-2119379
https://journal-laaroiba.com/ojs/index.php/elmal/article/view/1112
https://ejournal.uin-suka.ac.id/febi/skiej/article/view/2621?utm_source=chatgpt.com
Penulis : Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor : Ainul Adhim (Kominfo CSSMoRa Nasional)
