SIMBOL CINTA DAN PERJUANGAN RAKYAT PALEMBANG (JEMBATAN AMPERA)

Di tengah gemerlap Kota Palembang yang dilintasi Sungai Musi nan megah, berdirilah  sebuah jembatan yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan yakni Jembatan  Ampera. Di balik kokohnya struktur baja yang membentang sejauh lebih dari satu kilometer  itu, tersimpan kisah sejarah yang tak kalah menggetarkan hati, kisah tentang perjuangan,  harapan, dan cinta rakyat Palembang terhadap negerinya. 

Cerita dimulai pada era pasca-kemerdekaan Indonesia. Kota Palembang yang terbagi  oleh Sungai Musi mengalami kendala dalam konektivitas antarkawasan. Aktivitas masyarakat  terganggu karena akses transportasi yang lambat dan terbatas. Kala itu, kapal feri dan perahu  menjadi satu-satunya alat penghubung antara daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir. 

Melihat kenyataan tersebut, Presiden Soekarno tergerak untuk membangun jembatan yang  mampu menyatukan dua sisi kota. Namun, rencana ini tak mudah diwujudkan karena  keterbatasan anggaran negara. Dalam semangat gotong royong dan optimisme bangsa yang  baru merdeka, muncullah bantuan dari pemerintah Jepang melalui skema pampasan perang. 

Peletakan batu pertama pembangunan jembatan dilakukan pada bulan April 1962, dan  pembangunan memakan waktu sekitar tiga tahun. Awalnya, jembatan ini dikenal sebagai  “Jembatan Bung Karno” karna sebagai penghormatan atas jasa besar Presiden Soekarno. 

Namun, pada masa pemerintahan Orde Baru, nama itu diubah menjadi Jembatan Ampera,  singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat

Pergantian nama ini merefleksikan filosofi mendalam bahwa jembatan ini bukan sekadar  proyek infrastruktur, melainkan lambang dari hasil perjuangan dan penderitaan rakyat yang tak  sia-sia. Jembatan Ampera menjadi saksi bisu bagaimana rakyat Palembang bergandengan  tangan mewujudkan mimpi besar untuk kemajuan kotanya. 

Salah satu keunikan Jembatan Ampera adalah sistem pengangkat di bagian tengah  jembatan. Dahulu, bagian tengah jembatan bisa diangkat secara vertikal agar kapal-kapal besar  bisa melintasi Sungai Musi tanpa hambatan. Mekanisme ini menggunakan tenaga mesin dan  kabel baja, yang menjadikannya salah satu jembatan angkat paling canggih di Asia Tenggara  pada masanya. 

Namun, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya arus kendaraan, sistem pengangkat ini  dihentikan demi keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Meskipun fungsi tersebut sudah tidak  lagi digunakan, keunikan ini tetap menjadi bagian dari sejarah dan daya tarik wisata Jembatan  Ampera. 

Kini, Jembatan Ampera bukan hanya infrastruktur penghubung dua daratan, melainkan  simbol jati diri masyarakat Palembang. Setiap malam, cahaya lampu warna-warni menghiasi  jembatan, seakan menari di atas air Sungai Musi. Di sekelilingnya tumbuh pusat kuliner,  wisata, dan ekonomi yang menjadikan kawasan ini sebagai jantung kota. 

Jembatan ini mengajarkan bahwa kemajuan bukan semata soal teknologi, tapi juga tekad dan  persatuan rakyat. Ia adalah monumen yang berdiri dari harapan dan jerih payah, serta kenangan  akan masa ketika bangsa ini berjuang menata masa depan dengan segala keterbatasan. 

Cerita asal mula Jembatan Ampera ini adalah refleksi dari perjuangan panjang sebuah  bangsa muda yang sedang membangun. Ia hadir bukan hanya sebagai sarana transportasi, tetapi  juga sebagai saksi bisu semangat gotong royong, cinta tanah air, dan keinginan yang kuat untuk  menyatukan yang terpisah. Melalui Jembatan Ampera, Palembang tidak hanya menghubungkan dua daratan, tetapi juga menyatukan sejarah dengan masa depan.


Dania Ramadani (CSSMoRA Universitas Wahid Hasyim Semarang 2023)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *