PENDIDIKAN DALAM BAYANG PENJAJAHAN

Di masa ketika langit terasa rendah,
dan langkah-langkah dibatasi arah,
ilmu bukan milik setiap jiwa,
ia dijaga, dipagari, dan dijauhkan dari mata yang ingin tahu.

Buku-buku berdebu dalam sunyi,
seakan takut disentuh tangan pribumi.
Pena pun gemetar dalam genggaman,
karena kata bisa dianggap ancaman.
Sekolah berdiri, namun bukan untuk semua,
hanya segelintir yang boleh menyapa dunia,
Sementara yang lain?
Mereka menatap dari kejauhan,
menganyam mimpi dari serpihan yang rapuh.

Di balik dinding penjajahan yang dingin,
lahir rindu yang tak pernah ingin padam.
Rindu akan huruf, akan makna,
akan kebebasan membaca semesta.

Namun sejarah tak selalu kelam,
ada bara yang terus menyala diam-diam.
Dalam dada mereka yang percaya,
bahwa terang akan datang pada waktunya.
Dan benar, ketika pagi itu akhirnya tiba,
pintu-pintu ilmu terbuka lebar,
menyambut langkah yang dulu terpinggirkan.

Kini kita duduk tanpa rasa takut,
menyusun mimpi diatas bangku-bangku,
membaca dunia tanpa batas,
menulis masa depan dengan bebas.

Wahai jiwa yang kini merdeka,
jangan biarkan cahaya redup tanpa makna.
Kenanglah pekatnya malam yang pernah menyapa,
agar setiap langkahmu tetap menyala penuh cahaya.

Sebab pendidikan bukan sekedar hak,
ia adalah warisan dari perjuangan panjang,
yang dititipkan pada setiap generasi,
agar tetap hidup dan bermakna tak tergerus waktu.

Dan diantara lembar-lembar yang kau buka,
tersimpan jejak mereka yang pernah terluka,
yang bermimpi meski tak sempat membaca.
Agar engkau hari ini bisa berkata:
“Aku belajar……. dengan bebas.”

Penulis: Zidna Uluuman Nafi’ah (CSSMoRA UIN Sunan Ampel Surabaya Angkatan 2025)

Editor: Dania Rofida (PSDM CSSMoRA Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan buletin CSSMoRA untuk menerima notifikasi update kami​