Kenapa sih Orang Nonis Terlihat Kaya-Kaya?

“Kenapa ya orang nonis itu kaya-kaya, orang Islam malah miskin-miskin? Allah nggak adil, ya.” Pernyataan seperti ini mungkin sering kali kita dengar. Pernyataan ini adalah pernyataan yang menunjukkan kesalahan berpikir, karena realitanya tidak demikian.

Sebelum membahas lebih lanjut, kita kesampingkan terlebih dahulu masalah takdir dan bersyukur.

Ada beberapa argumen yang membuat pernyataan tersebut tidak benar, antara lain:

1. Coba kita lihat di negara luar seperti Arab Saudi dan Qatar. Banyak kok muslim yang kaya-kaya. Coba kita lihat negara Burundi. Banyak kok nonis yang miskin-miskin.

2. Di Indonesia, mayoritas penduduknya beragama Islam. Sedangkan agama selain Islam merupakan agama minoritas. Analoginya begini, anggap saja di suatu wilayah ada 1000 orang Islam yang 100 orangnya miskin, dan 100 orang nonis yang 20 orangnya miskin. Apakah dengan begitu orang Islam yang miskin lebih banyak? Secara jumlah iya, tapi secara persentase? Tentu tidak! Dengan begitu, karena kita mayoritas, jadi lebih kelihatan yang miskinnya. Padahal realitanya tidak demikian. Banyak loh orang muslim yang kaya di Indonesia. Tidak sedikit juga orang nonis yang miskin, tetapi karena mereka minoritas, yang lebih kelihatan adalah yang kaya. Coba kita lihat para homeless di Amerika, mereka mayoritas beragama nonis. Hal ini menjadi bukti bahwasanya orang miskin di negara mayoritas nonis juga beragama nonis.

Berdasarkan dua argumen di atas, agaknya cukup kalau kita bilang kaya atau miskinnya seseorang tidak bergantung pada agamanya.

Pernyataan “orang nonis kaya-kaya” biasanya dilanjutkan dengan, “Mereka nggak sholat bisa kaya, lah kita yang sholat terus gini-gini aja, mending nggak usah sholat!” Pernyataan ini jelas salah. Sebelumnya sudah dijelaskan bahwasanya ekonomi seseorang tidak bergantung pada agamanya. Bilang aja malas salat, cih.

Adapun sholat, apakah sholat dapat membuat rezeki menjadi lebih banyak? Seperti pada keutamaan sholat duha?

  • Sholat merupakan kewajiban umat Islam. Sholat menjadi pembeda antara orang Islam dengan orang non-Islam. Mau kita kaya ataupun miskin, sholat tetaplah kewajiban.
  • Adapun pada keutamaan sholat duha yang menambah rezeki, perlu diketahui bahwasanya rezeki tidak hanya berbentuk fisik, ada juga yang nonfisik seperti kesehatan.
  • Apabila berkaitan dengan ekonomi, mau tidak mau kita harus berusaha dan berikhtiar. Tidak cukup hanya sholat saja. Karena sekali lagi, sholat merupakan bukti bahwa kita adalah hamba Allah, bukan sebagai jalan untuk kaya. Kalau mau kaya ya harus kerja. DUIT = Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal. Xixixi.

Dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 10 (Juz 28), Allah Swt. berfirman:

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”

Pada ayat ini dijelaskan bahwasanya setelah selesai sholat Jumat, kita diperkenankan untuk kembali bekerja, mencari karunia Allah Swt. Ini menunjukkan bahwasanya bekerja adalah sesuatu yang dianjurkan bahkan bernilai ibadah dalam Islam. Kerja, kerja, kerja (slide 5).

Kita bergeser sedikit ke pertanyaan baru. Apa penyebab kemiskinan orang Islam?

Jawaban dari pertanyaan ini mungkin beraneka ragam, di antaranya adalah kurangnya wawasan dan kesadaran. Dalam Islam ada yang namanya zakat, sedekah, dan infak. Tiga fragmen ini bertujuan untuk membantu “mereka” yang lebih membutuhkan. Apabila ketiga fragmen ini terlembagakan, tersalurkan, dan digunakan dengan baik, maka kesejahteraan umat Islam akan terwujud.

Islam juga memotivasi umatnya agar menjadi kaya dengan ibadah. Ibadah apa itu? Jawabannya adalah ibadah haji. Haji hanya dapat dilakukan apabila kita mampu, baik dari segi finansial maupun fisik. Dengan begitu, ibadah haji dapat menjadi motivasi kita agar menjadi kaya. Sayangnya, kebanyakan dari kita pengin kaya tapi instan. Pengen kaya tapi rebahan doang. Mindset seperti ini harus diubah. Menjadi kaya tidak bisa dengan cara yang instan, kecuali kamu pewaris sih xixi.

Kesimpulannya, kaya atau miskinnya seseorang tidak bergantung pada agamanya, akan tetapi bergantung pada mindset dan usahanya. Teruslah belajar, luaskan wawasan, teruslah berusaha. Semoga kita semua dapat menjadi pelopor dalam mengentaskan kemiskinan, terutama kemiskinan umat Islam. Aamiin.

Penulis: Muhammad Dimas (CSSMoRA Ma’had Aly Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh Pati Angkatan 2024)

Editor: Dania Rofida (PSDM CSSMoRA Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan buletin CSSMoRA untuk menerima notifikasi update kami​