Awalnya kami hanya sekelompok Mahasantri,
datang dengan semangat yang bulat ;
sebulat tekad untuk belajar, berproses, dan memberi arti.
Kami duduk melingkar, berbagi rencana, berbagi mimpi.
Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih tahu,
semua sejajar dalam satu niat yang utuh.
Namun waktu, seperti biasa, mengubah bentuk segalanya.
Semangat yang bulat perlahan terlipat dalam kotak aturan:
kotak absensi, kotak evaluasi, kotak tanda tangan yang harus diisi.
Kami mulai bicara tentang struktur, bukan rasa.
Tentang deadline, bukan tujuan.
Tentang laporan, bukan dampak.
Kami menulis proposal, tapi lupa menulis perasaan sendiri.
Kami berbicara di forum, tapi lupa mendengarkan teman sebelah.
Kami menyusun kegiatan, tapi lupa mengingat kenapa dulu kami ingin berorganisasi.
Di dalam rapat, semua orang tampak sibuk.
Sibuk menentukan siapa yang salah, bukan apa yang salah.
Sibuk menunggu giliran berbicara, bukan menunggu giliran memahami.
Ruang yang dulu hangat mulai terasa sempit.
Ide-ide yang dulu bebas kini harus melewati persetujuan panjang.
Dan di tengah semua kesibukan itu,
aku baru sadar, organisasi ini punya bentuk segitiga.
Ada yang di puncak bersuara lantang,
ada yang di tengah menyalurkan pesan,
dan ada yang di bawah diam-diam bekerja paling keras.
Setiap sudutnya punya cerita,
kadang menyatu, kadang saling bertabrakan.
Aku sempat bertanya-tanya,
“Kenapa sesuatu yang bulat harus dikotakkan,
dan kenapa harus berakhir menjadi segitiga?”
Tapi kemudian aku mengerti,
di sanalah pelajarannya.
Bahwa dunia organisasi bukan soal jabatan,
melainkan tentang bagaimana kita bertumbuh
di tengah batas yang tak selalu kita sukai.
Pendidikan mungkin tak selalu di ruang kelas.
Ia hidup menjelma dalam rapat yang melelahkan,
dalam perbedaan pendapat yang membuat kita belajar menahan ego,
dalam diam seseorang yang ternyata sedang berjuang,
belajar menertawakan kekacauan, dan tetap bertahan meski kadang rasanya
ingin keluar dari grup WhatsApp divisi.
Dan Kini aku tahu,
menjadi bagian dari organisasi berarti belajar menjadi bentuk yang lentur:
tetap bulat dalam niat,
meski hidup dalam kotak sistem,
dan berdiri di antara sudut-sudut segitiga struktur.
Dan saat seseorang bertanya,
“Kenapa masih bertahan di sana?”
Aku hanya tersenyum, lalu menjawab pelan :
“Karena di balik bentuk yang aneh itu,
aku menemukan versi diriku yang paling manusia.”
Bulat Tapi Kotak Segitiga,
sebuah bentuk yang aneh, tapi disitulah semua pelajaran bermula.
Febri Wulanjani (CSSMoRA Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang, 2024)




