Sumber: Kompas.com
cssmora.org – Kepala Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menyatakan bahwa bencana longsor yang terjadi di Kecamatan Gunung Talang merupakan peristiwa yang memilukan dan duka bagi CSSMoRA. Pada peristiwa bencana alam ini, Kantor Bupati, RSUD Arosuka, dan sebelas kantor dinas ikut terdampak; jalur vital Padang–Solok pun terputus total.
Air yang mengalir deras hingga melumpuhkan sebuah kota bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tentukan kadarnya:
أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.” QS. Ar-Ra’d (13): 17
Ayat ini menegaskan bahwa sekalipun air tampak turun melampaui batas kewajaran hingga menimbulkan bencana, sesungguhnya semua itu tetap berjalan dalam ukuran dan ketentuan yang telah Dia tetapkan, jauh dari kesan kebetulan atau di luar kendali-Nya.
Kabar bahwa hanya empat orang mengalami luka-luka, tanpa ada korban jiwa, di tengah kedahsyatan material yang menerjang kompleks perkantoran, sepatutnya disyukuri sebagai bentuk penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mengabarkan bahwa setiap kelelahan dan kesusahan yang menimpa seorang muslim tidak pernah sia-sia:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, bahkan duri yang menusuknya sekalipun, melainkan Allah akan menghapus dengannya kesalahan-kesalahannya.” HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma.
Ada pula pemandangan yang menghangatkan di tengah lumpur setebal 20 hingga 60 sentimeter itu: warga yang tak menunggu perintah, langsung turun tangan membersihkan rumah dan jalan mereka begitu pagi tiba, berdampingan dengan alat berat dan personel gabungan yang bekerja tanpa henti. Kebersamaan semacam ini adalah wajah nyata dari umat yang saling menopang di tengah keterpurukan.
Sikap warga seperti Wini, yang memilih pasrah menunggu proses pembersihan selesai tanpa memaksakan diri melintasi jalur berbahaya, juga sejalan dengan ajaran Islam untuk mendahulukan keselamatan jiwa di atas kepentingan lain, sembari tetap berikhtiar dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang Maha Mengetahui kadar setiap ujian yang diberikan-Nya.
Latar belakang
Bencana ini dipicu oleh curah hujan yang mencapai 99 mm dalam semalam, jauh di atas normal, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama tiga hari berturut-turut sejak Sabtu, 19 September 2026. Tanah yang sudah jenuh air akhirnya tidak lagi mampu menahan limpasan permukaan, sehingga pada Senin sekitar pukul 19.45 hingga 20.00 WIB, longsoran bukit di hulu Sungai Batang Laso membawa material pasir, batu, lumpur, dan gelondongan kayu berukuran besar menerjang kawasan permukiman serta perkantoran di Kecamatan Gunung Talang.
Akibat bencana ini, empat orang mengalami luka-luka dengan tiga korban dirawat di RSUD Arosuka dan satu dirujuk ke Semen Padang Hospital karena luka berat, sementara 32 jiwa terpaksa mengungsi ke beberapa titik aman termasuk Mapolres Solok, Rumah Dinas Wakil Bupati, dan Kantor DPD Partai Golkar. Kerusakan infrastruktur pun sangat signifikan, dengan 11 kantor pemerintah terdampak dimana Kantor Dinas PUPR dan Dinas DPMN mengalami kerusakan terberat, sejumlah kantor lain seperti DPRD, Bapenda, Bapelitbang, Inspektorat, Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, dan BKPSDM tertimbun material setebal 20 hingga 60 sentimeter, 28 kendaraan rusak, serta satu jembatan penghubung di Arosuka tertimbun material sehingga tidak dapat digunakan.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala




