Sumber: Detik.com
Adanya gempa bumi di Palu. Ketua Bidang Aksi kemanusian CSSMoRA Nasional, Muhammad Fajar Rizqullah, mengingatkan meski Gempa M6,7 terjadi di Palu. Namun, bencana alam tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman seismik di Sulawesi tidak hanya bersumber dari Sesar Palu-Koro, tetapi juga dari sesar-sesar aktif lain seperti Sausu yang terus bergerak. Meskipun bencana ini tidak memicu tsunami, kejadian ini tetap menimbulkan korban jiwa dan kerusakan yang memerlukan respons cepat dari pemerintah, dan yang terpenting saat ini adalah memastikan warga terdampak mendapatkan bantuan dan tempat tinggal yang aman, serta memastikan proses rekonstruksi berjalan dengan baik dan terencana.
Latar Belakang
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya pada Selasa (16/6). Badan Mateorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrum gempa terletak di darat pada koordinator 1,13° Lintang Selatan dan 120,23° Bujur Timur atau tepatnya 42 kilometer arah tenggara kota Palu, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. BMKG menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktiviitas Sesar Sausa, sebuah sesar aktif di Sulawesi Tengah bagian timur yang memiliki pergerakan turun atau normal fault.
Direktur Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS), Ardy Arsyad, mengungkapkan karakter gempa ini sangat berbeda dengan peristiwa dahsyat pada 28 September 2018. Analisis awal menunjukkan bahwa gempa ini merupakan gempa kerak dangkal yang terjadi pada koridor Palolo-Sausu yang terletak di bagian Lembah Palu.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala




