Bukan Lagi Dia yang Kukenal

Dulu,
kau adalah nama
yang selalu datang bersama ketenangan.
Seseorang yang hadir
bukan hanya saat senang,
tetapi juga ketika hidupku
sedang berantakan.

Kita pernah berdiri
di sisi jalan yang sama,
saling menggenggam semangat
saat dunia terasa terlalu berat.

Saat aku jatuh,
kau yang pertama mengulurkan tangan.
Saat kau lelah,
aku yang memilih tinggal,
meski tak tahu harus berbuat apa.

Kita pernah saling memperjuangkan,
bukan dengan kata-kata besar,
melainkan lewat hal-hal sederhana:
menemani saat sunyi,
mendengar tanpa bosan,
percaya ketika orang lain ragu,
dan bertahan
saat keadaan tak mudah.

Dulu rasanya
tak perlu banyak bicara
untuk saling mengerti.
Diam pun terasa cukup,
karena hati sudah tahu
bagaimana caranya saling memahami.

Namun entah sejak kapan,
langkahmu berubah arah.
Tatapanmu tak lagi sama.
Suaramu masih terdengar,
tetapi hangatnya tak lagi tinggal.

Kau masih orang yang sama secara rupa,
namun asing dalam sikap.
Masih nama yang sama,
tetapi tak lagi membawa rasa
yang dulu begitu akrab.

Aku sering bertanya sendiri,
apa yang sebenarnya berubah?
Apakah waktu mengambil sesuatu darimu?
Ataukah selama ini
aku hanya mengenal bagian terbaikmu,
sementara sisanya
baru kini kau tunjukkan?

Kau yang dulu berjuang bersama,
kini seolah lupa
bagaimana susahnya kita dulu.
Kau yang dulu peduli pada luka kecilku,
kini bahkan tak sempat bertanya
apakah aku baik-baik saja.

Bukan tentang balas budi
yang kuharapkan.
Bukan pula ingin dihitung
segala hal yang pernah kuberi.
Aku hanya tak menyangka
seseorang yang dulu begitu tulus
bisa berubah
sedingin ini.

Kadang yang paling menyakitkan
bukanlah kepergian,
melainkan perubahan
dari seseorang yang pernah berarti.
Karena pergi memberi jarak,
tetapi berubah
membuat kenangan terasa seperti ditipu.

Kini aku menatapmu
seperti menatap rumah lama
yang sudah direnovasi habis-habisan.
Masih berdiri di tempat yang sama,
namun tak ada lagi sudut
yang terasa familiar.

Aku rindu dirimu yang dulu,
yang sederhana,
yang tahu arti perjuangan,
yang tak malu menghargai orang lain,
yang tak lupa pada mereka
yang pernah berjalan bersamamu.

Namun mungkin
yang kurindukan bukan dirimu,
melainkan masa
ketika kau masih memilih menjadi baik.

Jika memang hidup telah mengubahmu,
aku tak akan memaksa kembali.
Setiap orang punya jalannya sendiri,
dan mungkin aku hanya bagian kecil
dari perjalananmu
yang kini sudah tak kau perlukan lagi.

Aku hanya ingin kau tahu,
dulu aku sungguh bangga mengenalmu.
Bangga pernah berjalan bersama seseorang
yang kupikir tak akan berubah oleh keadaan.

Ternyata aku keliru.

Kini aku belajar menerima
bahwa tidak semua yang pernah dekat
akan tetap sama.

Penulis: Muhammad Sayyid Alharis (CSSMoRA Universitas Mataram Angkatan 2024)

Editor: Dania Rofida (PSDM CSSMoRA Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *