Kidung Luka Sang Raksasa

Malam selalu menjadi musuh sekaligus kawan yang paling setia bagi kaumku. Di dalam gua yang lembap ini, di mana akar-akar pohon besar menembus langit-langit seperti jemari dewa yang murka, aku duduk meringkuk. Kulitku yang sekeras kulit kayu tua dan berwarna pucat seperti abu jenazah sering kali dianggap sebagai simbol kekejian. Namun, tahukah mereka bahwa di balik rongga dada yang lebar ini, ada sebuah denyut jantung yang lebih berat daripada gunung berapi?

Namaku tidak penting. Bagi manusia, aku hanyalah “Raksasa”. Sebuah kata yang mengandung teror yang menakutkan, sebuah nama yang digunakan ibu-ibu di desa untuk menakut-nakuti anak mereka agar segera tidur. Namun, mereka tidak pernah tahu tentang kesepian yang mengkristal di tulang-tulangku selama berabad-abad.

Rahasia di Balik Perjanjian

Sore itu, langit di atas hutan jati nampak seperti luka yang terbuka merah tembaga dan perih. Matahari tergelincir perlahan di ufuk barat, menciptakan bayang-bayang panjang yang meliuk di antara batang pohon seperti jemari hitam yang hendak mencekik tanah. Angin pegunungan yang dingin mulai berbisik, membawa aroma tanah basah dan daun-daun busuk yang semakin menambah suasana mencekam.

Aku berdiri di kegelapan hutan, sebuah bayangan raksasa yang sudah lama melupakan hangatnya suara percakapan. Dunia hanya mengenalku sebagai pemangsa dan monster yang menakutkan hingga aku bertemu dengannya.

Dari balik kabut senja, Mbok sarni menyusup laksana bayang bayang yang kehilangan raga. Tubuhnya serapuh serat daun jati yang meranggas, menanti lumat oleh takdir. Setiap remah ranting kering yang patah di bawah langkah lunglainya, terdengar serupa ketukan nasib yang sedang mengeja sisa usia. Namun, ketika netra kami saling menjerat, tak kutemukan riak ketakutan yang biasa dihubuskan manusia padaku. Di dalam matanya, aku melihat sebuah kehampaan yang sangat aku kenali yaitu kesepian mutlak.

“Hei, mau ke mana kamu?” tanyaku, suaraku menggelegar hingga membuat burung-burung beterbangan dan hutan menjadi sunyi, namun di dalamnya terselip rasa ingin tahu yang aneh.

“Aku… aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi izinkanlah aku lewat” jawabnya dengan suara gemetar dan ketakutan, namun matanya tetap terpaku padaku, mencari setitik belas kasihan di tengah wujudku yang mengerikan.

Aku tertawa, sebuah suara hampa yang memantul di dinding-dinding tebing yang tinggi. “Kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap,” kataku, mencoba kembali ke peranku sebagai monster yang kejam seperti yang selalu mereka pikirkan. Namun, jauh di lubuk hatiku, ada rasa getir saat melihat wanita ini juga tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini.

“Tetapi aku tidak mempunyai anak,” bisiknya lirih, dan kejujuran itu menghantamku lebih keras daripada batu gunung. “Aku ingin seorang anak,” sambungnya lagi, suaranya gemetar namun penuh harap.

Saat itu, aku tertawa. Tawa yang mereka anggap sebagai ancaman haus darah. Padahal, aku tertawa karena ironi. Kami berdua adalah dua jiwa yang sama-sama tersisih, dipisahkan oleh ukuran dan prasangka. Aku memberinya biji mentimun itu bukan semata-mata karena aku ingin menyantap manusia di kemudian hari. Ada sebuah hukum kuno di kaumku sebuah kutukan, tepatnya bahwa kami hanya bisa merasakan kehangatan kehidupan melalui perjanjian-perjanjian yang pahit.

“Tanamlah,” kataku padanya. “Serahkan dia padaku setelah usianya enam tahun”.

Aku memberinya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan, meski aku tahu itu memiliki batas waktu. Saat ia pergi dengan tangan gemetar mendekap biji itu, aku menyadari bahwa perjanjian ini bukan hanya tentang membesarkan mangsa, melainkan tentang menciptakan satu nyawa yang mungkin saja bisa membuat hutan ini tidak lagi terasa begitu sepi, setidaknya untuk sementara waktu

Enam tahun. Bagiku, itu hanyalah kedipan mata. Tapi bagi manusia, itu adalah masa yang lama dan sangat berharga. Aku tidak menginginkan santapan. Aku menginginkan seorang ahli waris. Seseorang yang bisa melihat dunia dari ketinggian yang sama denganku, tanpa rasa takut. Seseorang yang bisa menemaniku di keabadian yang dingin ini.

Menanti dalam Senyap

Dua minggu kemudian, dari kejauhan, aku melihat mentimun itu tumbuh dengan ajaib. Dan dari dalamnya, lahir seorang bayi yang mereka beri nama Timun Emas. Aku memperhatikan dari balik kabut hutan saat ia tumbuh besar. Aku melihatnya membantu Mbok Sarni, tawanya menggema di antara pepohonan, menghidupkan hutan yang biasanya mati.

Ada sebuah rasa aneh yang tumbuh di hatiku sesuatu yang mungkin manusia sebut sebagai “kasih sayang,” namun bagiku terasa seperti duri yang menusuk perlahan. Aku cemburu pada Mbok Sarni. Dia memiliki apa yang seharusnya menjadi milikku dalam kontrak itu.

Ketika waktu enam tahun itu tiba, aku datang menagih janji. Bukan karena lapar akan daging, tetapi karena aku lapar akan pengakuan. Namun, wanita tua itu memohon. Dia memberiku janji tambahan: “Tunggu dua tahun lagi”. Aku setuju. Mengapa? Karena aku ingin Timun Emas memiliki lebih banyak waktu untuk mencintai dunia sebelum dia harus berbagi kesunyian denganku.

Pengkhianatan dan Pengejaran

Waktu dua tahun berlalu seperti embusan angin di puncak gunung yang dingin. Hari yang dijanjikan itu akhirnya telah tiba. Aku melangkah keluar dari kegelapan hutan dengan kegelisahan di dada yang sulit kujelaskan. Selama ini, aku menanti hari ini bukan sekadar karena rasa lapar yang menggerogoti perut, melainkan karena sebuah harapan yang membubung tinggi yaitu harapan untuk melihat “benih” yang kuberikan pada wanita tua itu tumbuh menjadi nyata.

Namun, saat kakiku menginjak halaman rumah Mbok Sarni, sambutan yang kuterima menghancurkan sisa-sisa sisi manusiawi yang coba kurawat.

“Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya!” teriakku, suaraku sengaja kubuat menggelegar untuk menutupi rasa cemas yang aneh. Aku berharap menemukan kepatuhan, sebuah pengakuan atas “anugerah” yang pernah kuberikan.

Sebaliknya, Mbok Sarni jatuh bersimpuh di depanku. Ia menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi tanah kering seolah-olah aku adalah monster tanpa nurani yang datang hanya untuk menghancurkan dunianya. “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap,” ratapnya dengan suara yang pecah oleh ketakutan.

Pengorbanannya terasa seperti tamparan bagiku. Aku telah memberinya kehidupan di tengah kesunyiannya, namun kini aku justru dianggap sebagai pencuri kebahagiaan.

Lalu, ia muncul.

Timun Emas keluar dari tempat persembunyiannya karena tidak tega melihat tangis ibunya. Ia berdiri tegak di ambang pintu, seorang gadis yang kecantikannya bahkan melebihi bunga hutan yang paling langka. Sinar matahari sore menerpa wajahnya, menonjolkan garis wajah yang sempurna, namun matanya… matanya menatapku dengan rasa kebencian yang membakar.

“Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!” tantangnya dengan keberanian yang mematikan.

Tidak ada rasa syukur dalam tatapan itu. Tidak ada pengakuan bahwa tanpa biji dariku, ia tidak akan pernah ada di dunia ini. Di hadapan kecantikan yang luar biasa itu, aku merasa semakin buruk rupa, semakin terasing, dan semakin sendirian. Harapanku untuk setidaknya “dihargai” hancur seketika, menyisakan kemarahan besar yang membakar habis sisa rasa kasihan di hatiku.

Pengejaran itu dimulai. Dia melemparkan biji mentimun yang berubah menjadi ladang yang melilit tubuhku. Setiap lilitan itu terasa seperti pengkhianatan. Aku berjuang melepaskan diri, kakiku terluka oleh jarum-jarum bambu yang tiba-tiba tumbuh menusuk kulitku yang tebal. Darahku yang kental membasahi tanah hutan, namun aku tidak berhenti.

Aku terus mengejar melewati lautan garam yang tiba-tiba muncul. Aku hanya ingin bicara. Aku ingin menjelaskan bahwa di dunia ini, tidak ada tempat bagi mereka yang berbeda kecuali jika mereka saling memiliki. Namun, bagi Timun Emas, aku hanyalah monster yang mengejar di belakang.

Lumpur Keabadian

Bungkusan terakhir dijatuhkan berisi terasi. Seketika, bumi di bawah kakiku melembut, berubah menjadi lautan lumpur hitam yang mendidih. Aku terperosok. Panasnya bukan hanya membakar kulitku, tapi juga menghanguskan sisa-sisa harapanku.

Saat aku tenggelam perlahan, aku melihat Timun Emas berdiri di tepian, menatapku dengan napas tersengal. Tidak ada belas kasihan di matanya, hanya kelegaan karena monster itu akhirnya akan mati.

Aku tidak berteriak kesakitan. Aku hanya menatap langit untuk terakhir kalinya, melihat rembulan yang sama yang menyinari gubuk Mbok Sarni dan guaku yang sepi. Aku menyadari bahwa di mata manusia, keindahan mereka dibangun di atas reruntuhan makhluk-makhluk seperti aku.

Lumpur ini kini menjadi selimutku. Aku mati bukan karena sihir petapa, melainkan karena kebenaran pahit bahwa aku tidak pernah ditakdirkan untuk memiliki siapapun. Di akhir segalanya, Timun Emas kembali ke pelukan Mbok Sarni, hidup bahagia dalam cahaya, sementara aku abadi dalam kegelapan yang tenang.

Mungkin, memang begitulah dongeng seharusnya berakhir. Sang cantik harus menang, dan sang raksasa harus menjadi tumbal bagi kebahagiaan mereka.

Penulis: Ahmad Latiful Azka (UIN Maulana Malik Ibrahim Angkatan 2025

Editor: Konah Wulanah (PSDM CSSMoRA Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Langganan buletin CSSMoRA untuk menerima notifikasi update kami​