Tangkapan layar diskusi terbuka dengan pakar dalam acara talkshow di kanal YouTube SINDOnews. Menyoroti debat Permadi Arya (Abu Janda) dengan Ferry Amsari mengenai sejarah Palestina.
Cssmora.orgPanggung diskusi publik belakangan ini kian menyerupai sirkus ketimbang meja dialektika. Peristiwa memalukan dalam sebuah forum debat di salah satu stasiun televisi nasional baru-baru ini, ketika seorang tokoh media sosial diusir oleh moderator akibat cacian verbal, bukan sekadar insiden teknis biasa.
Dalam forum tersebut, diskusi diisi oleh pihak yang bukan pakar di bidangnya. Permadi Arya (Abu Janda) dikenal sebagai pegiat media sosial, bukan sejarawan Timur Tengah. Terlebih, rujukan yang digunakan disebut hanya bersandar pada sumber umum seperti Wikipedia.
Di era algoritma, kita kerap menyaksikan lahirnya kasta baru bernama “pakar karbitan”. Mereka adalah individu yang kredibilitasnya dibangun dari jumlah pengikut dan keberanian berbicara lantang tanpa batas, bukan dari rekam jejak akademik yang ditempa melalui riset bertahun-tahun. Tragisnya, isu-isu strategis bangsa—mulai dari peta jalan geopolitik hingga kedaulatan ekonomi—justru kerap diserahkan kepada mereka yang bermodalkan retorika instan dan kontroversi.
Meski pendapat mereka dapat memicu diskusi luas di ruang publik dengan berbagai sudut pandang, penting digarisbawahi bahwa mereka bukanlah ahli yang secara akademis mendalami geopolitik, sejarah Timur Tengah, maupun studi strategis internasional yang mereka komentari.
Masalah utama dari “pakar karbitan” bukan semata ketidaktahuan, melainkan ketidaksadaran atas batas pengetahuan mereka sendiri—fenomena yang dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect: seseorang yang tidak tahu, dan tidak menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui (rojulun lā yadri wa lā annahu lā yadri). Akibatnya, ketika membahas isu sensitif seperti konflik internasional atau kebijakan energi, persoalan kompleks cenderung disederhanakan menjadi hitam-putih serta dipenuhi emosi.
Masyarakat yang haus akan kepastian cepat sering terjebak dalam “ilusi pengetahuan”. Kita mudah mengamini influencer yang berbicara penuh keyakinan meski minim data, seolah jumlah likes dan popularitas menjadi dalil kebenaran. Padahal, akademisi kerap berbicara dengan kehati-hatian justru karena memahami kompleksitas variabel di lapangan.
Membiarkan isu strategis bangsa dikelola oleh narasi karbitan merupakan langkah berbahaya yang dapat menjerumuskan masyarakat ke jurang kecemasan kolektif, alih-alih menuju cita-cita bangsa emas yang kerap digaungkan.
Kebijakan publik dan posisi diplomatik suatu negara seharusnya dibangun di atas fondasi riset yang kuat serta data yang valid, bukan dorongan ego dan sensasi semata. Jika opini publik terus digiring oleh misinformasi yang dibungkus kepercayaan diri tinggi, maka kita sedang membangun masa depan bangsa di atas pondasi pasir yang rapuh.
Tulisan ini bukan untuk membungkam suara di ruang publik, melainkan menuntut tanggung jawab atas setiap kata yang dilontarkan. Kebebasan berpendapat tidak boleh menjadi tameng bagi kedangkalan berpikir.
Sebagai mahasiswa yang digadang-gadang menjadi aset Generasi Emas 2045, penulis berharap media massa kembali pada khitahnya sebagai gatekeeper informasi. Rating memang penting bagi keberlangsungan bisnis media, namun kewarasan publik adalah taruhan yang terlalu mahal untuk dikorbankan demi sekadar trending topic. Media perlu berani memberikan panggung utama kepada akademisi dan praktisi yang berbicara berbasis data, bukan sekadar mereka yang piawai bersilat lidah.
Penulis: Abdul Aziz Maulana Rachman (CSSMoRA Universitas Islam Makassar)
Editor : Ainul Adhim (Kominfo CSSMoRa Nasional)
