Kepemimpinan adalah sebuah seni mempengaruhi orang lain. Ia bisa dibentuk oleh situasi dan keadaan, tapi juga suatu bakat alamiah yang membikin orang lain terpengaruh walaupun yang mempengaruhi tidak memiliki motif atau tujuan untuk mempengaruhi. Dalam hal ini, seseorang mungkin mampu mempengaruhi orang lainnya oleh karena ia telah mampu memimpin dirinya sendiri.
Sejalan dengan sebuah hadist yang mengatakan bahwa setiap kita adalah pemimpin untuk dirinya masing-masing كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. Lantas, benarkah kita sudah memimpin diri, atau sedikitnya telah berusaha memimpin diri sendiri untuk mencapai pribadi yang lebih baik lagi.
Semisal contoh kepemimpinan atas diri sendiri yang paling sederhana adalah Ketika kita sudah mesti menggerakan badan dari tidur di subuh hari, sudah mesti melawan rasa malas dan kantuk kemudian melangkahkan kaki menuju jamban. Lalu, bila ia seorang mahasiswa, ia akan mandi dan bersiap-siap menuju kampus, lalu makan dengan lauk yang bergizi dan menjalani perkuliahannya dengan sepenuh hati, serta pulang membawa ilmu yang bertambah di benaknya. Itu adalah kedisiplinan. Maka, apakah disiplin adalah bagian terkecil dari kepemimpinan? Sebelum bertekad memimpin orang lain, bukankah terlebih dahulu harus mampu memimpin diri sendiri? Mengalahkan setan yang menguasai diri.
Bagaimanakah sikap yang baik dalam memimpin itu dan siapakah tolak ukur yang paling mumpuni dalam hal ini? Tentu, sebagai seorang muslim yang ingin berusaha mengenal agamanya dan menjalankan ajarannya secara kaffah di keseharian, kita mesti mengacu kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai tolak ukur sikap yang paling ideal.
Sebelum Nabi Muhammad diangkat dan diutus menjadi Rasul, beliau memang sudah terkenal sebagai pribadi yang sangat menjaga integritas bahkan dikenal dengan gelar Al-Amin. Gelar ini beliau peroleh karena konsisten bersikap jujur, amanah, dan disiplin dalam bersikap. Tanpa sedikitpun Nabi mengharapkan sesuatu atas sikap baiknya itu, semata-mata kebaikan untuk kebaikan. Karena ketulusan dalam bersikap inilah Nabi mampu mempengaruhi orang lain dan dihargai masyarakatnya, seperti pada saat Ka’bah direnovasi oleh kaum Quraisy, terjadi perselisihan besar. Semua kabilah merasa paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad di sudut Ka’bah. Perselisihan itu hampir saja berujung pertumpahan darah, sebab tidak ada yang mau mengalah. Lalu, muncullah usulan bijak: biarkan orang yang pertama kali masuk ke pintu Masjidil Haram yang memutuskan perkara itu.
Takdir membawa Nabi Muhammad muda—yang kala itu belum diangkat menjadi Rasul—masuk pertama kali. Begitu orang-orang melihatnya, mereka bersorak lega: “Inilah al-Amin! Kami rela dengan keputusan Muhammad.”
Dengan kebijaksanaan, Nabi Muhammad tidak meletakkan Hajar Aswad sendirian. Beliau meminta sehelai kain besar. Batu suci itu diletakkan di tengah kain, lalu setiap pemimpin kabilah memegang ujung kain itu bersama-sama, mengangkatnya hingga mendekati posisi sudut Ka’bah. Setelah itu, barulah Nabi Muhammad sendiri yang mengambil Hajar Aswad dengan tangannya, lalu meletakkannya ke tempat semula.
Dari kisah tersebut dapat dipetik Pelajaran bahwa jauh sebelum menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW sudah menunjukkan kepemimpinan yang lahir dari kedisiplinan moral, kejujuran, dan kebijaksanaan.
Dapat ditarik pula kaitannya dengan ilmu kebiasaan alias habits. Dalam ilmu kebiasaan, hal-hal kecil yang diulang setiap hari akan menumbuhkan karakter. Dan karakter itulah yang kemudian melahirkan kepercayaan orang lain. Rasulullah SAW tidak tiba-tiba dihormati saat konflik Hajar Aswad, tetapi karena habits yang beliau rawat sejak dini yaitu sikap disiplin, jujur, adil, dan konsisten.
kepemimpinan besar lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang baik yang terus dirawat. Jika hari ini kita membiasakan diri bangun tepat waktu, belajar sungguh- sungguh, menjaga kepercayaan orang lain kepada kita, dan melatih ketenangan, kelak orang lain pun akan menaruh hormat dan percaya kepada kita. Pemimpin besar bukanlah seseorang yang terlihat gagah di muka umum, namun dialah yang mampu mengalahkan dirinya sendiri dan bersikap sesuai idealnya yang telah di contohkan Nabi Muhammad SAW.
Arifin Fatturrohman (CSSMoRA UIN Walisongo Semarang, 2025)



