cssmora.orgmasyarakat di wilayah pesisir Manado tampak lengang pada Kamis pagi setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah tersebut. Warga memilih menjauh dari pantai menyusul peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan, sementara gempa susulan masih terus terjadi dalam beberapa jam setelah guncangan utama.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga pukul 09.00 WIB, telah terjadi 29 gempa susulan dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 5,5. Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado, Muhammad Zulkifli, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memastikan kondisi bangunan dalam keadaan aman.
Gempa utama terjadi pada Kamis (2/4/2026) sekitar pukul 05.48 WIB dengan durasi guncangan sekitar 10–20 detik. Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai laporan, gempa berpusat di laut pada koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur. BMKG mencatat kedalaman gempa sekitar 33 kilometer, sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutakhirkan data menjadi 62 kilometer.
Jenis gempa ini tergolong thrust fault, yaitu pergerakan naik akibat deformasi kerak bumi. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebutkan bahwa mekanisme tersebut berpotensi memicu tsunami. Peringatan dini sempat dikeluarkan dengan status siaga di sejumlah wilayah, seperti Ternate, Halmahera, Tidore, Bitung, Minahasa Selatan, dan Minahasa Utara, sebelum akhirnya dicabut pada siang hari setelah gelombang yang terpantau dinilai relatif kecil.
Pemantauan muka air laut melalui tide gauge menunjukkan adanya kenaikan gelombang di beberapa lokasi, di antaranya Minahasa Utara, Belang, dan Sidangoli. Meski demikian, otoritas memastikan tidak terdapat pantulan atau resonansi signifikan yang berpotensi membahayakan secara luas.
Dampak gempa juga dirasakan pada aspek kemanusiaan dan infrastruktur. Laporan dari sejumlah media nasional, seperti Antara, Kompas, dan Metro TV, menyebutkan satu warga meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Selain itu, korban luka juga dilaporkan akibat kepanikan saat gempa berlangsung.
Sejumlah bangunan mengalami kerusakan, termasuk Gedung KONI di kawasan Sario, Manado. Kesaksian warga menyebutkan bahwa tiang listrik bergerak dan bangunan berguncang kuat saat gempa terjadi. Dalam situasi tersebut, Wakil Wali Kota Bitung, Randito Maringka, meninjau langsung posko BPBD dan mengimbau masyarakat agar tetap tenang serta mengakses informasi dari sumber resmi.
Rangkaian peristiwa ini kembali menunjukkan tingginya aktivitas seismik di Indonesia, khususnya di wilayah timur yang berada di kawasan cincin api. Selain itu, dampak yang ditimbulkan memperlihatkan bahwa risiko bencana masih menjadi tantangan serius, baik dari sisi mitigasi maupun kesiapsiagaan masyarakat.
Dalam situasi tersebut, perhatian terhadap penanganan pascabencana menjadi semakin mengemuka. Respons cepat dan terkoordinasi dari pemerintah dinilai menjadi faktor kunci dalam meminimalkan dampak lanjutan, terutama dalam memastikan keselamatan serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Sejumlah pihak turut menyoroti pentingnya kehadiran negara dalam kondisi darurat, termasuk Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA). CSSMoRA menilai bahwa penanganan bencana tidak seharusnya terhambat oleh persoalan administratif, melainkan harus berorientasi pada kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
Pemerintah, baik pusat maupun daerah, diharapkan mampu memastikan distribusi bantuan berjalan cepat dan tepat sasaran, mencakup kebutuhan dasar seperti pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta penyediaan hunian sementara yang layak. Selain itu, dukungan psikososial juga dinilai penting untuk membantu masyarakat menghadapi dampak trauma akibat bencana.
Aspek transparansi informasi juga menjadi perhatian, mengingat pentingnya penyampaian informasi yang akurat dan terpusat dalam mengurangi kepanikan di tengah masyarakat. Pelibatan unsur lokal, seperti pemerintah desa, relawan, dan tokoh masyarakat, dinilai dapat memperkuat proses pendataan serta mempercepat distribusi bantuan sesuai kondisi riil di lapangan.
Pada akhirnya, peristiwa gempa di Bitung–Manado tidak hanya menjadi bencana alam semata, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan, mitigasi yang berkelanjutan, serta kehadiran negara dalam melindungi masyarakat di wilayah rawan bencana. Dalam konteks ini, pernyataan sikap yang disampaikan menjadi bagian dari dorongan agar penanganan tidak berhenti pada fase tanggap darurat, melainkan berlanjut pada pemulihan yang menyeluruh dan berkeadilan.
penulis : Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor : Ainul Adhim (Kominfo CSSMoRa Nasional)

