Di balik bening mata yang memandang dunia,
aku menemukan celah sunyi bernama jiwa.
Di sana terpendam cerita yang tak selalu terucap,
tertulis perlahan oleh waktu dan bisikan harap.
Aku bukan hanya tubuh yang melangkah di bumi,
bukan sekadar rupa semu yang singgah lalu pergi.
Aku adalah rumah bagi mimpi-mimpi yang tumbuh,
meski kadang dilanda lelah dan rapuh yang runtuh.
Ada retakan kecil di ruang batin yang pernah terluka,
namun dari retakan itulah cahaya belajar menyala.
Aku menyadari bahwa hancur bukan akhir segalanya,
kadang luka hanya cara hidup mengajarkan makna.
Dalam sepi, aku belajar mendengar diriku sendiri,
tentang takut yang tersamar dalam sunyi,
Tentang tangis yang jatuh tanpa suara,
dan tentang impian yang tetap hidup di antara kecewa.
Aku pernah terperangkap di jalan yang gelap,
memeluk ragu saat dunia terasa penat.
Namun langkah ini terus mencari arah,
karena hati selalu berharap pada cahaya yang merekah.
Aku seperti hujan yang turun setelah kemarau panjang,
membasuh luka yang diam-diam datang.
Aku juga langit yang tetap luas terbentang,
meski awan kelam berkali-kali menghadang.
Tak semua perjalanan diwarnai tawa dan bahagia,
ada hari ketika aku hampir mengalah pada dunia.
Namun dari setiap jatuh, aku tetap belajar berdiri,
menyusun kembali pecahan mimpi di dalam diri
Dengan hakikat diri yang kupeluk erat dalam dada,
aku menumbuhkan harapan meski perlahan adanya.
Belajar mencintai diri tanpa syarat yang rumit,
meski langkah kadang lemah dan hati terasa sempit.
Hidup ini seperti puisi yang belum selesai ditulis,
setiap duka dan bahagia menjadi bait yang manis.
Dan aku, dengan segala rapuh serta kuat yang kupunya,
akan terus menjadi karya yang indah bagi diriku sendiri selamanya.
Penulis: Putri Muvita (CSSMoRA Universitas UIN Alauddin Makassar)
Editor: Abdul Aziz Maulana Rachman (PSDM Nas)



