API MELAHAP RUMAH DAN BUDAYA DI KAMPUNG ADAT KASEPUHAN CIPTAMULYA

Sumber: KOMPAS.COM

cssmoraorg-Ketua Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menyatakan bahwa peristiwa kebakaran yang melanda Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya di Sukabumi merupakan musibah besar yang tidak hanya menghanguskan puluhan rumah, tetapi juga merusak warisan budaya dan kehidupan sosial masyarakat adat. Puluhan rumah, lumbung padi, serta bangunan penting seperti masjid dan rumah adat turut terbakar, menyebabkan ratusan warga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi.

Dugaan penyebab kebakaran akibat korsleting listrik menunjukkan pentingnya perhatian terhadap aspek keselamatan, terutama pada lingkungan dengan kondisi bangunan yang mudah terbakar seperti rumah berbahan kayu dan ijuk. Hal ini menjadi pengingat bahwa kelalaian kecil dapat berujung pada kerugian besar yang berdampak luas bagi masyarakat. Dalam perspektif Islam, musibah seperti ini merupakan ujian sekaligus pengingat bagi manusia untuk meningkatkan kehati-hatian dan kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berfirman: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…” (QS. Al-Baqarah: 155).

Di sisi lain, musibah ini juga menuntut hadirnya solidaritas sosial. Nilai gotong royong yang ditunjukkan masyarakat dalam membantu korban menjadi cerminan ajaran Islam tentang pentingnya tolong-menolong dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Selain itu, dalam kaidah fiqh disebutkan:

الضرر يزال

(Kemudaratan harus dihilangkan)

Kaidah ini menegaskan bahwa segala bentuk potensi bahaya, termasuk instalasi listrik yang tidak aman, harus segera diperbaiki agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar di kemudian hari. Kehilangan rumah dan warisan adat juga menjadi pukulan berat bagi identitas budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus memperhatikan nilai-nilai adat dan kearifan lokal yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat tersebut.

Latar belakang

Kebakaran ini berawal dari korslesting listrik di fasilitas Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) umum dan dengan cepat merambat ke rumah-rumah panggung berbahan kayu dan beratap ijuk yang saling berdempetan, menghauskan puluhan bangunan. Pemadaman terkendala medan terjal dan akses jalam sempit, namun TNI dan tim gabungan berhasil menembus lokasi. Api berhasil dipadamkan pada pukul 17.15 WIB.

Berdasarkan data BNPB yang diperbarui pada Senin (27/7), kebakaran menghanguskan 51 rumah warga dengan keadaan rusak berat yang terdampak sebanyak 159 jiwa dari 51 kepala keluarga (KK). Selain rumah warga, 49 leuit (lumbung padi), Imah Gede (rumah utama sesepuh adat), masjid, gedung PAUD, balai pertemuan, dan galeri budaya ikut terbakar.

Sumber: Berbagai Sumber

Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional

Editor: Thariq Afdhala

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *