Sumber: KOMPAS.COM
cssmoraorg-Ketua Departemen Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat (P3M) CSSMoRA Nasional, Ardian Hafizh Nur Faqih, menegaskan bahwa peristiwa wafatnya Sumarna di kawasan Waduk Jatiluhur menghadirkan duka sekaligus tanda tanya besar di tengah masyarakat. Dalam situasi seperti ini, penting bagi publik untuk tetap menjunjung tinggi prinsip tabayyun (klarifikasi) dan tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan. Islam mengajarkan kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi, sebagaimana firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6).
Kasus ini juga menunjukkan pentingnya peran aparat penegak hukum dalam mengungkap kebenaran secara transparan dan akuntabel. Harapan keluarga korban dan masyarakat luas agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh merupakan bentuk tuntutan keadilan yang sejalan dengan nilai-nilai syariat. Dalam kaidah fiqh disebutkan:
“Al-‘adl asas al-mulk” (keadilan adalah fondasi utama dalam kehidupan sosial).
Di sisi lain, peristiwa ini menjadi pengingat akan keterbatasan hidup manusia. Kematian dapat datang kapan saja dan dalam kondisi yang tidak terduga. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk senantiasa mempersiapkan diri dengan amal saleh serta menjaga keselamatan diri dalam setiap aktivitas, termasuk dalam bekerja.
Adanya beberapa kejadian kematian sebelumnya di lokasi yang sama juga patut menjadi perhatian serius bagi pihak pengelola dan otoritas setempat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keamanan dan keselamatan di kawasan tersebut. Upaya preventif harus diutamakan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Dalam perspektif etika sosial, masyarakat diharapkan tidak membangun spekulasi liar yang dapat memperkeruh suasana dan menyakiti pihak keluarga. Sebaliknya, sikap empati, doa, serta dukungan moral menjadi bentuk kontribusi yang lebih bijak dalam menyikapi musibah ini. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”* (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, pengungkapan fakta yang objektif, sikap kehati-hatian dalam menyikapi informasi, serta kepedulian sosial menjadi nilai-nilai penting yang harus dijaga bersama dalam merespons peristiwa ini.
Latar belakang
Kejadian bermula pada Kamis (23/7) malam, ketika Sumarna berangkat bertugas lebih awal dari biasanya. Siti Maryam, istri korban, menuturkan bahwa sang suami tampak lebih awal dari biasanya dan memilih melewatkan kegiatan yasinan rutinan yang biasa diikutinya sebelum berangkat kerja. Meski terlihat letih, Sumarna tetap berpamitan dan berdoa seperti biasanya sebelum berangkat bertugas.
Namun, kepulangan yang dinanti keluarga tak berujung terjadi. keesokan harinya, jasad Sumarna ditemukan dalam kondisi mengambang di perairan Waduk Jatiluhur. Kejanggalan utama yang menjadi sorotan adalah posisi tangan korban yang terbogol ke belakang saat ditemukan. Kondisi ini menimbulkan dugaan kuat adanya tindak pidana sebelum korban tercebur ke waduk.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional
Editor: Thariq Afdhala



