Di Antara Ragu dan Tumbuh

Gadis kecil itu kebingungan tanpa arah. Sedari kecil, tiap-tiap keputusan menjadi tanggung jawabnya secara pribadi. Selama gadis itu yakin dan mau, kedua orang tuanya akan selalu mendukung setiap langkahnya. Sampailah pada suatu hari setelah kelulusan. Banyak santri lain, dengan berbagai pertimbangan, mendaftar ke kampus impian masing-masing.

 Masih dalam kebingungan, gadis kecil itu mau tak mau harus berusaha lebih untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi. Nduk, kalau kamu kepengen kuliah, belajarlah dengan rajin. Syukur-syukur kalau bisa dapat beasiswa. Apa pun keinginanmu, selama masih tentang pendidikan, akan bapak ibu upayakan”.  Dalam setiap langkahnya, gadis kecil itu selalu berupaya.

Dalam setiap doanya, ia berharap semoga Allah memudahkan setiap urusannya. Tibalah pada Agustus 2024, hari pengumuman kelulusan itu diumumkan. Tak henti-hentinya gadis kecil itu mengucap syukur. Ya, dia lolos. Satu kemenangan kala itu, namun kebingungan tetap mengiringinya. Ia harus merantau menuju provinsi seberang.

Hidup di perantauan bukanlah hal yang sulit, namun juga bukan hal yang mudah. Gadis kecil itu bertemu teman-temannya. Ia berkenalan dan mulai beradaptasi sewajarnya. Dua hingga tiga minggu berlalu, kegiatan di pondok baru dan kampus mulai aktif. Banyak pelajaran baru yang gadis kecil itu dapatkan. Satu hingga dua bulan di awal menjadi masa-masa sulit untuk beradaptasi dan bertahan. Banyak hal baru yang terasa asing. Namun, lambat laun semua menjadi biasa.

Gadis kecil itu mulai terbiasa dengan kehidupan dan aktivitas baru di kota perantauannya. Ia dikenal oleh cukup banyak mahasiswa tingkat atas. Ia turut serta dalam berbagai kepanitiaan.

Kehidupan itu berjalan sebagaimana mestinya, sampai suatu hari gadis kecil itu merasa sendiri, kehilangan arah, dan kembali diusik kebingungan. Ia termenung, merenungkan kehidupannya. “Sebenarnya, sejauh ini apa yang ia cari?”

Pertanyaan itu menghantuinya, mempertanyakan kelayakan dirinya sendiri. Satu dua teman menjadi tempatnya bertukar pikiran, berbagi keluh kesah, dan bercerita. Namun, jawaban mereka tak cukup memberikan ketenangan. Sampai suatu hari, ia pergi sendiri ke Jakarta. Benar-benar sendiri, tanpa teman dan tanpa arah.

Pada suatu acara di Jakarta itu, banyak hal menghampirinya, menyadarkannya, dan membuka sudut pandang baru terhadap dunia. Dunia terasa terlalu samar dan luas bagi seseorang yang kehilangan arah. Dunia juga cukup kejam bagi orang yang tak memiliki pengetahuan dan kemampuan.

Sejak hari itu, gadis kecil itu bertekad untuk mengupayakan masa depan yang cerah dan terarah. Tak lagi mempertanyakan kelayakan dirinya, tak lagi terlalu mengkhawatirkan perasaan, tak lagi menuntut untuk dianggap, dan tak lagi mempermasalahkan kesalahpahaman. Selama yang ia lakukan baik dan tidak merugikan orang lain, ia akan terus mengejar mimpinya.

Dalam sunyinya malam, ditemani berisiknya isi kepala, ia tersadar bahwa dewasa tak semenyenangkan bayangan kala masa kecil dahulu. Namun, menjadi dewasa juga tidak harus sempurna. Seandainya saat ini kalian merasa sama seperti gadis kecil kala itu, maka percayalah bahwa di kehidupan pertama ini, bukan kesempurnaan yang harus dikejar, melainkan kemauan untuk terus mencoba, tumbuh, dan berbenah.

Semua orang punya masalahnya masing-masing, namun semua orang juga layak bahagia. Jika hari ini kamu merasa kehilangan arah, maka cobalah untuk merenung, bersyukur, dan mengingat kembali sejauh apa kamu telah berupaya.

Mungkin sampai detik ini pun gadis kecil itu belum sebersinar orang lain. Namun setidaknya, ia telah sadar bahwa standar keberhasilan tak harus sama dengan orang lain, karena setiap manusia berbeda dan memiliki potensinya masing-masing.

Cukupkan diri dengan terus bersyukur dan menerima bahwa rencana Allah adalah yang terbaik.

Penulis: Nia Uswatun Khasanah (CSSMoRA Universitas Wahid Hasyim Semarang)

Editor: Konah Wulanah (PSDM CSSMoRA Nasional)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *