
Kericuhan besar pecah di Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Jumat malam (8/5/2026) usai pertandingan antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC. Kekalahan Persipura memicu kekecewaan sebagian suporter yang kemudian berubah menjadi amarah massal. Situasi yang awalnya hanya dipenuhi luapan emosi perlahan berkembang menjadi aksi perusakan fasilitas stadion, bentrokan, hingga gangguan keamanan di sekitar arena pertandingan.
Insiden bermula sesaat setelah laga berakhir. Sejumlah suporter yang kecewa diduga mulai melempar benda ke arah lapangan dan merusak fasilitas stadion. Ketegangan semakin meningkat ketika massa memasuki area tertentu di stadion, sementara aparat keamanan berusaha mengendalikan situasi yang kian tidak terkendali. Dalam kondisi yang memanas tersebut, aparat kepolisian kini mendalami dugaan adanya provokator yang memicu eskalasi kericuhan. Rekaman video serta kesaksian para saksi di lokasi tengah dianalisis untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga menjadi aktor utama di balik kerusuhan itu.
Kericuhan tersebut meninggalkan kerusakan yang tidak sedikit. Sejumlah kendaraan dilaporkan rusak bahkan hilang di tengah kepanikan massa. Area tribun dan beberapa fasilitas pendukung stadion juga mengalami kerusakan akibat aksi anarkis yang terjadi. Polisi pun melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mendata dampak kerusuhan sekaligus mengumpulkan barang bukti. Situasi ini memperlihatkan bagaimana sebuah pertandingan olahraga yang seharusnya menjadi ruang hiburan dan persatuan justru berubah menjadi arena kekacauan akibat hilangnya kontrol emosi.
Hingga kini, aparat keamanan telah menangkap sedikitnya 14 orang yang diduga terlibat langsung dalam kerusuhan tersebut. Polisi menegaskan bahwa proses hukum akan dilakukan terhadap para pelaku perusakan maupun pihak yang terbukti memprovokasi massa. Pasca-insiden, ratusan personel TNI diterjunkan untuk membantu membersihkan area stadion yang dipenuhi puing-puing kerusakan agar kawasan tersebut dapat kembali digunakan dengan aman.
Namun di tengah proses investigasi, aparat juga menghadapi hambatan serius setelah diketahui sejumlah kamera CCTV di stadion tidak berfungsi saat kerusuhan berlangsung. Kondisi ini menyulitkan proses rekonstruksi kejadian secara menyeluruh dan memunculkan pertanyaan besar mengenai kesiapan sistem keamanan stadion dalam mengantisipasi potensi kerusuhan.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Papua turut menyayangkan insiden tersebut dan meminta seluruh pihak untuk menahan diri. Mereka menekankan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil serta penegakan hukum yang tetap mengedepankan prinsip proporsionalitas. Di sisi lain, kerusuhan ini kembali memicu kritik terhadap tata kelola sepak bola nasional yang dinilai belum mampu menghadirkan sistem keamanan pertandingan yang benar-benar matang. Bahkan, muncul desakan kepada pemerintah dan PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen kompetisi dan pengamanan stadion.
PSSI sendiri mengingatkan bahwa insiden tersebut menjadi perhatian serius FIFA. Federasi sepak bola internasional itu disebut terus memantau perkembangan keamanan pertandingan di Indonesia. Karena itu, seluruh pihak diminta menjaga kondusivitas demi menghindari sanksi yang dapat merugikan sepak bola nasional secara lebih luas. Sementara itu, Polres Jayapura membuka posko pengaduan bagi masyarakat yang terdampak kerusuhan, termasuk korban kehilangan kendaraan maupun kerusakan barang pribadi.
Kericuhan di Stadion Lukas Enembe kembali menunjukkan rapuhnya pengelolaan keamanan dalam pertandingan sepak bola Indonesia. Lebih dari itu, peristiwa ini juga menjadi refleksi bahwa fanatisme tanpa kontrol dapat berubah menjadi tindakan destruktif yang merugikan banyak pihak. Sepak bola yang seharusnya menjadi ruang sportivitas dan persatuan justru kembali meninggalkan luka akibat ekspresi emosi yang tidak dibarengi dengan nalar dan tanggung jawab.
CSSMoRA mengecam segala bentuk tindakan anarkis dan kekerasan yang terjadi dalam kericuhan Stadion Lukas Enembe. Olahraga seharusnya menjadi ruang persaudaraan, sportivitas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, bukan arena pelampiasan emosi yang berujung pada perusakan dan ancaman keselamatan publik. CSSMoRA mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas para provokator dan pelaku kerusuhan secara adil dan transparan, serta meminta PSSI dan pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pertandingan sepak bola nasional. Lebih jauh, CSSMoRA mengajak seluruh masyarakat, khususnya suporter sepak bola, untuk membangun budaya dukungan yang dewasa, kritis, dan beretika, karena kecintaan terhadap klub tidak boleh menghilangkan akal sehat dan nilai kemanusiaan.
Penulis: Tim Literasi PSDM CSSMoRA Nasional
Editor: Konah Wulanah


