Sumber: CNBC Indonesia
Beberapa waktu lalu, dunia dikagetkan dengan penemuan virus yang menyebabkan beberapa orang meninggal dunia di atas kapal pesiar. Virus ini menimbulkan rasa kekhawatiran di tingkat global. WHO (World Health Orginzation) mengatakan bahwa virus tersebut bernama Hantavirus dan mengeluarkan peringatan terhadap penyebarannya. Meski bukan virus baru, namun Hantavirus dapat menjadi ancaman kesehatan bagi dunia.
Hantavirus ditularkan melalui beberapa hewan terutama tikus dan hewan pengerat lainnya. Virus ini dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, terutama gangguan pernapasan berat dan gagal ginjal. Penularan umumnya terjadi ketika manusia menghirupkan partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengandung virus.
WHO menegaskan bahwa Hantavirus berbeda dengan virus penyebab Covid-19 karena penularan tidak dominan antar manusia. Namun, tingkat fatalitasnya cukup tinggi pada beberapa jenis infeksi terutama jika tidak ditangani dengan cepat. Aktivitas seperti membersihkan gudang, menyapu area penuh kotoran tikus, atau berada di ruangan tetutup tanpa ventilasi dapat meningkatkan risiko paparan virus. Kasus terbaru yang menarik perhatian dunia terjadi di kapal pesiar MD Hondius, dimana wabah Hantavirus dilaporkan menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Insiden ini memicu perhatian internasional terhadap potensi penyebaran penyakit di ruang tertutup dengan sanitasi terbatas.
Gejala awal tepapar Hantavirus sering menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan. Namun, dalam beberapa kasus, kondisi dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan serius, tekanan darah rendah, hingga gagal organ. Pada kasus berat pasien dapat mengalami Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu kondisi yang menyerang paru-paru dan berpotensi fatal. Tingkat kematian pada beberapa varian Hantavirus dilaporkan cukup tinggi, terutama jika diagnosis terlambat dilakukan.
Pakar kesehatan menekankan bahwa pencegahan utama dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus. Masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus, serta menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat liar. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa Hantavirus bukan penyakit baru dan sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Edukasi masyarakat dinilai penting agar kepanikan tidak berkembang menjadi disinformasi.
Menindak lanjuti laporan virus tersebut, WHO mengingatkan negara-negara untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus. Di Indonesia sendiri, melalui Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya 23 kasus Hantavirus sejak 2024. Temuan ini memperlihatkan bahwa virus tersebut sebenarnya sudah pernah ditemukan di Indonesia dan bukan ancaman baru sepenuhnya. Sejumlah pakar meminta masyarakat tetap waspada tanpa panik. Mereka menilai ancaman terbesar bukan hanya virus itu sendiri, tetapi juga rendahnya kesadaran sanitasi dan pengendalian hama di lingkungan permukiman penduduk.
Adanya virus tersebut, CSSMoRA menyerukan kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan menjaga lingkungan agar bersih dari sarang penyakit. CSSMoRA menghimbau kepada masyarakat untuk tidak panik terhadap virus tersebut dan mempercayai kepada pihak-pihak terkait untuk menangani virus tersebut.
Munculnya kembali kasus Hantavirus menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit Zoonosis (penyakit yang berasal dari hewan) masih menjadi tantangan besar kesehatan global. Di tengah trauma dunia pasca pandemi Covid-19 kewaspadaan, edukasi publik, dan penguatan sistem kesehatan menjadi kunci untuk mencegah penyebaran penyakit mematikan ini.
Sumber: Berbagai Sumber
Penulis: Tim Literasi CSSMoRA Nasional



