Malam itu hujan turun terlalu lama di kota kecil yang bahkan jarang muncul di peta wisata. Lampu jalan memantul di genangan air, sementara suara mesin jahit dari sebuah rumah kayu di ujung gang masih terdengar pelan, tetapi disitulah Arsen tumbuh bersama keluarganya.
Ayahnya seorang tukang jahit. Ibunya berjualan gorengan di depan sekolah dasar setiap pagi. Kehidupan mereka jauh dari kata cukup, kadang untuk membayar listrik saja harus menunggu hingga akhir minggu. Tidak ada latar belakang seni dalam keluarganya. Dinding rumah mereka hanya dipenuhi kalender bekas dan jam tua yang sering berhenti sendiri.
Arsen bahkan tidak pernah bermimpi menjadi seniman.
Sejak kecil, ia dikenal pendiam. Saat anak-anak lain bermain di lapangan, Arsen lebih sering duduk di samping ayahnya, membantu memotong pola kain atau membereskan sisa benang di lantai. Namun diam-diam, ia memiliki kebiasaan yang tidak pernah benar benar diketahui siapa pun, yaitu menggambar wajah manusia.
Ia menggambar di buku tulis, kardus bekas, bahkan dibalik nota jahitan ayahnya. Wajah-wajah itu terasa hidup-keriput para pedagang pasar, mata lelah ibunya, atau senyum kecil ayahnya saat pelanggan membayar tepat waktu.
Suatu malam, tidak sengaja ayahnya melihat tumpukan gambar dibawah meja belajar Arsen.
“Bagus,” katanya singkat.
Arsen tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari itu.
Namun beberapa detik kemudian ayahnya melanjutkan, “Tapi jangan terlalu berharap dari gambar. Hidup bukan soal itu.”
Kalimat itu tidak terdengar kasar, justru terlalu jujur hingga sulit di bantah.
Sejak saat itu Arsen mulai menyembunyikan gambarnya.
Ia memilih jurusan akuntansi saat kuliah karena katanya masa depan harus realistis. Ia menjalani hari seperti kebanyakan mahasiswa lain, datang kuliah, mencatat, lalu bekerja sambilan di tempat fotokopi dekat kampus.
Hidupnya terasa datar
Sampai akhirnya ia bertemu dengan perempuan bernama Kala.
Perempuan itu pertama kali ia lihat di halaman fakultas seni. Rambutnya pendek sebahu, tangannya penuh cat berwarna biru. Kala sedang melukis mural di tembok kampus sendirian ketika Arsen tanpa sadar berhenti cukup lama untuk memperhatikannya.
“Kamu dari seni?” tanya Kala tanpa menoleh.
Arsen menggeleng sambil berkata “bukan sih”
“Terus kenapa lihat-lihat?”
“Cuma penasaran.”
Kala tertawa kecil. “Orang yang penasaran biasanya menyimpan sesuatu.”
Arsen tidak menjawab.
Sejak saat itu mereka mulai sering bertemu. Awalnya kebetulan, lama-lama menjadi kebiasaan. Kala berbeda dari orang-orang yang pernah Arsen kenal. Ia berbicara tentang seni seperti bicara tentang kehidupan. Tentang bagaimana warna bisa menyimpan luka, dan bagaimana manusia kadang hanya butuh di dengar agar tetap bertahan.
Suatu sore, Kala menemukan sketsa wajah di buku catatan Arsen.
Ia terdiam cukup lama melihat gambar itu.
“Kamu gambar ini?”
“Iya…Cuma iseng aja.”
Kala menatapnya serius. “Orang yang busa menggambar mata sehidup ini tidak mungkin Cuma iseng.”
Arsen tertawa pelan. “Semua orang bilang aku tidak cocok jadi seniman.”
“Semua orang siapa?”
“Keluarga, lingkungan.”
Kala menghela napas kecil. “Terkadang orang lain terlalu sibuk menentukan siapa diri kita sampai lupa kalau kita juga punya hak untuk memilih.”
Kalimat itu tertinggal lama di kepala Arsen.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang percaya pada kemampuannya bahkan sebelum ia percaya pada dirinya sendiri.
Hari-hari setelah itu terasa berbeda. Kala sering mengajak Arsen menggambar di taman kota, di halte tua, atau di pasar malam. Kala melukis, sedang Arsen membuat sketsa wajah orang-orang yang mereka temui.
Perlahan, tangan Arsen yang sempat berhenti mulai hidup kembali.
Namun hidup tidak pernah berjalan semudah cerita film.
Saat memasuki semester akhir, ayah Arsen jatuh sakit. Mesin jahit tua di rumah mulai jarang menyala. Penghasilan keluarga menurun drastis. Ibunya mulai berutang di warung tetangga untuk sekedar membeli beras.
Arsen pulang lebih sering.
Ia mengambil banyak pekerjaan sampingan, seperti menjadi kurir, menjaga toko malam, bahkan membantu mengangkut barang dipasar. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh.
Baginya menggambar kembali terasa seperti kemewahan.
Suatu malam, Arsen duduk di depan rumah dengan mata kosong, tidak lama Kala datang membawa dua bungkus nasi hangat.
“Kamu belum makan, kan?” tanyanya.
Arsen menerima nasi bungkus itu dengan pelan.
“Aku capek, Kala.”
Kala duduk di sampingnya tanpa bicara.
“Aku takut semua ini Cuma mimpi yang terlalu tinggi,” lanjut Arsen lirih. “Keluargaku butuh uang bukan gambar.”
Hujan gerimis pun mulai turun perlahan.
Kala menatap jalanan basah di depan mereka sebelum akhirnya berkata, “Terus siapa bilang kamu harus memilih salah satu?”
Arsen terdiam.
“Kamu bisa bertahan untuk keluargamu dan tetap menjadi dirimu sendiri.”
“Tidak semudah itu Kala..”
“Aku tahu,” jawab Kala pelan. “Makanya itulah sebabnya manusia tidak hidup sendirian.”
Arsen meunduk. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.
Selama ini ia selalu berpikir bahwa kuat berarti mampu memikul semuanya sendiri. Namun Kala membuatnya sadar bahwa manusia yang paling kuat pun tetap membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Sejak malam itu, Arsen mulai menggambar lagi di sela-sela kesibukannya. Ia menerima pesanan ilustrasi kecil-kecilan dari media sosial. Bayarannya tidak besar, kadang bahkan terlalu kecil untuk usaha sebanyak itu.
Tetapi Kala selalu ada.
Saat Arsen ingin menyerah, Kala berkata, “Lanjutkan.”
Saat gambarnya ditolak, Kala berkata, “Coba lagi”
Saat Arsen merasa dirinya gagal, Kala hanya duduk di sampingnya sampai rasa sesak itu perlahan hilang.
Dukungan sederhana itu ternyata lebih berarti dari apapun.
Hingga suatu hari, salah satu karya Arsen viral di media sosial.
Bukan gambar tokoh terkenal atau karya mewah, melainkan potret sederhana seorang tukang jahit tua yang tertidur di kursi kayu dengan mesin jahit disampingnya.
Ayahnya.
Orang-orang menyukai gambar itu karena terasa nyata. Mereka bilang ada rasa lelah, kasih sayang, dan perjuangan di dalamnya.
Sejak saat itu, pesanan pun mulai berdatangan.
Arsen mulai dikenal sebagai ilustrator muda dengan karya yang “terlalu jujur untuk diabaikan.” Ia mengikuti beberapa pameran kecil, menjual lukisan, dan perlahan memperbaiki keadaan keluarganya.
Hal pertama yang ia beli bukan untuk dirinya sendiri, tetapi ia membeli mesin jahit baru untuk ayahnya.
Ketika mesin itu datang, ayahnya hanya diam cukup lama sambil mengusap permukaannya perlahan.
“Ayah salah dulu,” katanya lirih.
Arsen menggeleng kecil. “Tidak ayah, ayah tidak salah…ayah cuma takut Arsen susah.”
“Ayah Cuma tidak tahu kalau ternyata gambar bisa membuat orang bertahan.”
Mata Arsen terasa panas.
Beberapa bulan kemudian, Arsen mengadakan pameran pertamanya sendiri di sebuah galeri kecil di kota. Banyak orang yang datang. Mereka berdiri lama di depan karya-karyanya yang penuh cerita tentang kehidupan sederhana yaitu ibu penjual gorengan, pekerja malam, anak kecil di pasar, dan keluarga yang bertahan dalam kekurangan.
Di sudut terakhir ruangan, ada satu lukisan besar yang belum sepenuhnya selesai.
Lukisan seorang perempuan berambut pendek yang sedang duduk sambil memegang kuas dengan tangan yang dipenuhi cat berwarna biru.
Di bawahnya tertulis :
Sketsa yang belum selesai
Kala menatap lukisan itu cukup lama.
“Kamu belum menyelesaikannya?” tanyanya pelan.
Arsen tersenyum kecil.
“Karena hidup juga belum selesai.”
Kala menoleh dan menatapnya.
Arsen melanjutkan, “Aku pikir dulu manusia harus kuat sendiri supaya bisa berhasil. Ternyata tidak begitu.”
“Hm?”
“Kita memang harus memulai dari diri kita sendiri,” katanya perlahan. “Tapi sejauh apa pun kita berjalan tetap akan ada titik di mana kita membutuhkan orang lain untuk percaya pada kita.”
Kala tersenyum tipis. Matanya tampak berkaca.
Diluar galeri, hujan kembali turun seperti malam pertama mereka bertemu.
Namun kali ini, Asen tidak lagi merasa sendirian.
Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia sadar bahwa beberapa hal memang tidak perlu segera diselesaikan.
Karena terkadang, sketsa yang belum selesai justru menjadi bagian paling indah dari sebuah perjalanan.
Penulis: Raissa Shafa kamilah (CSSMoRA UIN Alauddin Makassar 2025)
Editor: Abdul Aziz Maulana Rachman (PSDM Nasional)



