Tuan Guru, Masih Adakah?

(Teruntuk Bapak Pendidikan)

Tuan, Di tengah gegap gempita Hari Pendidikan, Izinkan aku bersila, bukan lagi di surau tua. melainkan di pelataran warisan yang mulai redup cahaya. Tak lagi dinding bambu yang bersahaja, melainkan tembok beton yang menggema kosong, dan sinyal semu yang lebih sering putus daripada sambung rasa dan makna.

Tuan,Dahulu sekali, kau tanam akar merdeka di ladang gersang,dengan tangan telanjang dan hati gemilang.Kau semai huruf-huruf seperti benih padi,hingga tumbuh menjadi ladang nalar yang tak bisa ditebas api.

Kau ajarkan kami,bahwa belajar bukan sekadar deretan angka di papan nilai,tetapi nyala jiwa yang peka seperti lentera kecil dalam badai zaman,yang tak padam meski angin bertiup dari segala penjuru kekeliruan.

Namun kini, Tuan,Tanahmu gamang, kami berjalan seperti bayang,Gawai di genggaman,namun arah kehilangan,Seolah kompas retak di lautan data tak bertepi.

Kami tahu cara mencari jawaban,dengan satu klik dan sekejap layar,namun lupa seni bertanya,yang dahulu kaulasakkan dengan sabar.Kami hafal tanggal, tokoh, dan medan perang,tapi tak kenal rasa perih di ujung bambu runcingatau doa yang dijahit di tengah malam sunyi.

Tuan,Kami membaca buku seperti menonton layarcepat, singkat, dan hilang makna setelah gulir terakhir.Kami menulis esai tanpa suara hati,dan berdebat demi tepuk tangan, bukan demi kebenaran.

Tuan,Masih adakah warisanmu di antara kami?Atau telah tercerai di antara suku kata dan kebisingan algoritma?

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *