Tangis di Pusara Abah

Sudah tiga fajar berlalu dalam luka,

Tiap sujudku basah oleh getir yang tak mereda, tanpa jeda.

Pagi ini aku bersimpuh di depan pusara,

Tahlil bergema, namun hatiku justru asyik dengan gemuruhnya.

Saat semua berlalu satu persatu, aku menetap… sendiri.

Hatiku riuh, tapi mulutku tak kuasa menuturkan kata.

Tanpa perlu aku kisahkan, kurasa Abah sudah mengerti:

santrinya sedang patah, digerus sunyi yang tak kasat mata.

Tangisku tak perlu saksi mata,

cukup Allah dan tanah tempat Abah Yai beristirahat.

Aku tak meminta balas,

biarlah Allah yang menimbang duka dengan adilnya

 

Yang menggores luka akan tahu rasanya,

sebab semesta tak pernah lelah berbahasa,

dan doa yang lirih di bawah langit,

selalu menemukan jalan pulangnya.


Siti Sofia Rohati (Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta 2024)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *