Pendahuluan
Rasulullah Saw. merupakan anugerah terbesar yang Allah hadirkan di tengah – tengah umat manusia sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik) di berbagai aspek kehidupan, sebagaimana firman Allah Swt.
Artinya: Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.
Beliau bukan hanya pembawa risalah tauhid, melainkan juga figur teladan lintas zaman. Keteladanan ini tampak jelas ketika beliau tampil sebagai seorang pemimpin yang bukan hanya dalam hal spiritual, namun juga sebagai pemimpin negara. Kepemimpinan beliau berlandaskan akhlak mulia, keberanian dan keterbukaan dalam mengambil keputusan, serta menjunjung tinggi nilai persatuan. Nilai-nilai inilah yang relevan untuk dijadikan inspirasi dalam membangun bangsa Indonesia saat ini.
Kini, bangsa Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai tantangan, seperti kemiskinan yang merata di berbagai daerah, keterbatasan akses pendidikan, tingginya angka pengangguran, kesenjangan sosial, maraknya korupsi, dan perpecahan yang mengancam persatuan bangsa. Berangkat dari realitas tersebut, penulis meyakini bahwa di era ini perlu menghidupkan kembali nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah Saw. di Indonesia.
Nilai Teladan Kepemimpinan Rasulullah
Rasulullah Saw. hidup di tengah-tengah masyarakat yang kala itu diliputi kebodohan, kezaliman, perpecahan, dan krisis sosial. Beliau tampil sebagai sosok pemimpin yang amanah, mampu menegakkan keadilan, dan merangkul semua golongan. Julukan Al-Amin menjadi bukti bahwa beliau adalah sosok yang terpercaya dan disegani masyarakat.
Keteladanan Rasulullah Saw. tidak hanya tampak dalam integritasnya, melainkan juga dalam kepeduliannya kepada kaum lemah. Beliau tidak pernah membedakan antara golongan kaya dan miskin, bahkan beliau tidak segan turun langsung membantu rakyat kecil dan turut memikul beban mereka. Demikian pula dalam mengambil sebuah keputusan, beliau selalu melibatkan para sahabat dalam musyawarah dan tidak pernah bersikap sepihak, melainkan selalu mendengar dan mempertimbangkan suara rakyat. Di sisi lain, Rasulullah Saw. juga berhasil merangkul kaum Muhajirin dan Ansar sebagai bentuk menegakkan persatuan dan persaudaraan. Oleh karenanya, sikap inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat Madinah yang harmonis dan bersatu.
Seluruh keteladanan Rasulullah Saw. sejatinya tercermin dalam Piagam Madinah, dokumen berharga yang bukan hanya tentang perjanjian politik, melainkan wujud nyata dari nilai amanah, keadilan, musyawarah, persatuan, dan kepedulian yang beliau terapkan. Melalui piagam tersebut, beliau tidak hanya berhasil merangkul golongan Islam saja, tetapi juga kaum Yahudi, Nasrani, dan berbagai suku Arab dengan menjunjung tinggi nilai persaudaraan, keadilan, dan kebebasan beragama. Oleh sebab itu, Piagam Madinah menjadi bukti historis bahwa kepemimpinan Rasulullah Saw. tidak hanya ideal pada tataran konsep, melainkan juga aplikatif dalam membangun masyarakat yang sejahtera.
Relevansi Nilai Kepemimpinan Rasulullah di Indonesia
Hemat penulis, keteladanan Rasulullah Saw. yang telah terwujud dalam masyarakat Madinah inilah yang kemudian dapat ditarik relevansinya dalam konteks Indonesia masa kini. Sebagaimana piagam tersebut mampu menjadi dasar persatuan masyarakat Madinah yang majemuk, demikian pula Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 yang hadir sebagai fondasi pemersatu bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya.
Namun, realitas membuktikan bahwa Indonesia masih dihadapkan dengan tantangan besar, seperti korupsi yang merajalela di kalangan pejabat, telah melemahkan kepercayaan rakyat pada pemerintah. Belum lagi kesenjangan sosial yang kian melebar, sehingga jurang antara si kaya dan si miskin semakin sulit dijembatani. Selain itu, perpecahan sosial dan polarisasi politik juga kerap mengancam persatuan bangsa. Semua ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 belum sepenuhnya terwujud.
Oleh karenanya, keteladanan Rasulullah Saw. sangat sesuai untuk dijadikan pedoman. Nilai amanah dapat memperkuat integritas pemimpin, keadilan dapat mencegah ketimpangan sosial, musyawarah dapat menghidupkan demokrasi, serta persatuan dan empati mampu merajut kembali persaudaraan.
Selain menetapkan kebijakan kepada rakyatnya, Rasulullah Saw. selalu menempatkan akhlak yang baik sebagai dasar dalam kepemimpinannya. Keberanian beliau dalam menjaga prinsip selalu dibarengi dengan tutur kata yang lembut serta sikap yang penuh empati. Bahkan dalam menghadapi musuh, beliau lebih mengedepankan pemaafan daripada pembalasan, sehingga hal ini membuat masyarakat tak hanya menaruh hormat, tetapi juga menumbuhkan cinta yang dalam kepada beliau. Seluruh keteladanan
ini sangat tepat untuk dijadikan acuan kepemimpinan di Indonesia yang saat ini tengah mengalami krisis akhlak.
Penutup
Keteladanan Rasulullah Saw. bukan hanya bernilai historis, tetapi juga relevan dalam menjawab tantangan bangsa Indonesia saat ini. Jika nilai amanah, keadilan, musyawarah, dan persatuan benar-benar dihidupkan kembali, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara yang maju dan sejahtera, melainkan tumbuh menjadi bangsa yang bermoral, berkarakter, dan menjadi teladan bagi bangsa lain. Oleh karena itu, saatnya para pemimpin bangsa menjadikan Rasulullah Saw. sebagai sumber inspirasi dalam menjalankan amanah kepemimpinan. Dengan demikian, meneladani Rasulullah Saw. bukan sekadar kewajiban religius, tetapi juga kebutuhan strategis untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang beradab dan bermartabat.
Daftar Pustaka
Al-Bukhari, M. I. (2002). Ṣaḥiḥ al-Bukhari. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Hamka. (1982). Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Hasyim, M. (2015). Piagam Madinah dan konstitusi Indonesia. Jakarta: Prenadamedia.
Shihab, M. Q. (2018). Membaca sirah Nabi Muhammad SAW dalam sorotan al-Qur’an dan hadis sahih. Tangerang: Lentera Hati.
Yusi Nurlaili Khabibah (CSSMoRA Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, 2022)





