RASULULLAH SAW: SEBAGAI FIGUR TELADAN DALAM KEPEMIMPINAN, UKHUWAH ISLAMIYAH,

Abstrak

Rasulullah Muhammad SAW adalah figur universal yang meninggalkan keteladanan abadi bagi seluruh umat manusia. Beliau bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga pemimpin, pendidik, dan pembaharu sosial yang berhasil membangun peradaban baru di tengah masyarakat yang terpecah belah. Tulisan ini membahas tiga aspek utama keteladanan Rasulullah saw: kepemimpinan berbasis akhlak, semangat ukhuwah islamiyah, dan kepeduliaan kemanusiaan. Dengan mengutip al-qur’an dan hadis, esai ini menegaskan bahwa keteladanan rasulullah tetap relevan dalam konteks kekinian, ketika umat menghadapi kritis moral, perpecahan sosial, dan lemahnya solidaritas kemanusiaan. Rasulullah SAW hadir sebagai inspirasi untuk membangun kepemimpinan yang adil, persatuan yang kokoh, dan kepeduliaan sosial yang tulus demi terciptanya masyarakat yang damai dan penuh rahmat.

Kata kunci: Rasulullah SAW, keteladanan, kepemimpinan, ukhuwah islamiyah,

PENDAHULUAN

Setiap zaman melahirkan tokoh-tokoh besar. namun hanya sedikit yang mampu meninggalkan jejak abadi, melampaui sekat ruang dan waktu. Di antara tokoh itu, Rasulullah muhammad SAW menempati posisi istimewa.beliau bukan sekedar pemimpin agama, tetapi juga negarawan, pendidik, danpeletak dasar peradaban. Keteladanan beliau dalam kepemimpinan, ukhuwah islamiyah, dan peduli kemanusiaan tidak hanya relevan di masa lalu, tetapi juga sangat dibutuhkan di tengah tantangan dunia modern zaman sekarang ini.

PEMBAHASAN

A. Kepemimpinan Berbasis Akhlak
Kepemimpinan Rasulullah saw berbeda dari model kepemimpinan yang hanya mengandalkan kekuasaan. Beliau memimpin dengan keteladanan, Sikap rendah hati beliau terlihat jelas seperti makan bersama rakyat biasa, menambal sendiri sandalnya, bahkan ikut mengangkat batu dalam pembangunan masjid nabawi. Pengangkatan beliau sebagai nabi dan rasul, yakni karena budi pekerti yang luhur yang berada “di atas” keluhuran budi pekerti manusia selainnya. Di dalam al-qur’an menegaskan:               “Dan sesungguhnya engkau (muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung” (q.s al qalam:4). Demikian al-qur’an menggambarkan keadaan nabi untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia.

Selain itu, rasulullah mengedepankan prinsip musyawarah. Dalam perang uhud, beliaun mengikuti pendapat mayoritas sahabat meskipun berbeda pandangan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukanlah yang merasa paling benar, melainkan yang mampu merangkul dan mendengarkan umat sebab setiap pemimpin dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya di akhirat kelak sebagaimana dalam hadis menegaskan “setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

B. Ukhuwah Islamiyah: membangun persatuan umat
Sebelum datangnya islam, masyarakat arab hidup dalam fanatisme kesukuan yang kerap berujung konflik. Rasulullah SAW hadir membawa risalah persatuan dengan meniadakan diskriminasi ras dan suku. Dalam al-qur’an menegaskan bahwa:                                                                                      “sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada allah agar kamu mendapat rahmat.”(qs.al-hujurat:10).

Salah satu bukti nyata adalah piagam madinah, yang berhasil menyatukan kaum muslimin, yahudi, dan komunitas lain dalam ikatan sosial-politik yang adil. Prinisp ini relevan hari ini, ketika umat sering terpecah belah oleh perbedaan mazhab, politik, dan ideologi.

C. Kepeduliaan kemanusiaan tanpa batas
Rasulullah SAW bukan hanya pemimpin umat islam, tetapi juga simbol kasih sayang bagi seluruh alam. Beliau selalu berpihak kepada kaum lemah seperti kaum fakir, miskin, anak yatim, dan budak. Dalam al-qur’an allah swt menegaskan “dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”(q.s al-insan:8).

Rasulullah SAW bahkan menahan lapar bersama umatnya ketika mereka dilanda kesulitan. Kepeduliaan sosial ini menjadi teladan yang sangat penting di era modern, saat umat menghadapi krisis kemanusiaan, ketidakadilan ekonomi, dan bencana global. Jadi pentingnya kita meneladani sifat rasulullah SAW yaitu peduli terhadap sesama manusia dari sikap peduli,dan saling tolong menolong inilah kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat seperti dalam yang ditegaskan dalam hadis “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”(HR.ahmad).


Helmidayanti (CSSMoRA Ma’had Aly As’adiyah, 2023)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *