ORGANISASI, RUANG BELAJAR ATAU PABRIK KORUPTOR?

Banyak orang percaya kalau organisasi itu tempat belajar. Dari sana kita bisa tahu gimana rasanya jadi pemimpin, gimana ngatur konflik, sampai ngerti cara kerja demokrasi. Tapi kenyataannya, nggak semua organisasi ngajarin hal-hal baik. Ada juga organisasi yang malah bikin anggotanya terbiasa dengan perilaku curang. Dari hal kecil kayak utak-atik kas organisasi, sampai skandal besar di politik, organisasi bisa jadi “sekolah” yang tanpa sadar mencetak koruptor baru.

Pertama, ada budaya permisif alias serba membiarkan. Manipulasi laporan keuangan misalnya, sering dianggap sepele. Anak baru yang lihat seniornya pakai uang organisasi semaunya, lama-lama juga nganggep itu normal. Akhirnya, kebiasaan curang itu turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kedua, politik transaksional. Di banyak organisasi, rebutan jabatan lebih sering ditentukan siapa punya modal, bukan siapa yang punya kapasitas. Suara bisa dibeli, jabatan bisa ditukar. Kalau sejak muda sudah terbiasa dengan logika transaksional semacam ini, wajar aja kalau nanti ketika masuk birokrasi atau politik, mental yang dibawa sama persis.

Ketiga, pembenaran moral. Banyak penyalahgunaan dana organisasi yang dibungkus dengan alasan “buat kepentingan bersama.” Misalnya, uang kas dipakai tanpa laporan jelas, tapi dibilang untuk kegiatan penting. Padahal itu cuma cara halus untuk melegalkan korupsi kecil-kecilan.

Kasus seperti ini nggak cuma ada di partai politik, tapi juga di organisasi mahasiswa. Laporan keuangan yang dimanipulasi, dana sponsor dipakai buat kepentingan pribadi, sampai jual beli jabatan kepanitiaan, semua jadi latihan sebelum masuk dunia nyata. Akhirnya, kebiasaan itu terbawa terus ketika mereka sudah kerja atau terjun ke politik.

Paulo Freire pernah bilang, pendidikan itu nggak pernah netral. Bisa jadi alat pembebasan, bisa juga jadi alat penindasan. Hal yang sama berlaku buat organisasi. Kalau kultur di dalamnya sehat, anggotanya bisa tumbuh dengan integritas. Tapi kalau dari awal udah bobrok, jangan kaget kalau kader yang lahir justru bermental koruptor.

Mochtar Lubis dalam esainya Manusia Indonesia juga pernah nyeletuk, mental bangsa kita sering feodal dan munafik. Dalam organisasi, budaya feodal ini bikin junior tunduk pada senior meskipun jelas salah. Dari sinilah kebiasaan buruk terus dilestarikan.

Jadi, organisasi memang tempat belajar. Tapi belajar jadi apa? Itu tergantung kultur yang dibangun di dalamnya. Kalau yang dibiasakan transparansi, akuntabilitas, dan kejujuran, ya anggotanya tumbuh jadi pribadi yang bersih. Tapi kalau yang ditanam justru manipulasi, transaksi, dan pembenaran moral atas kecurangan, organisasi nggak lebih dari pabrik koruptor. Karena itu, pembenahan organisasi bukan cuma soal struktur atau aturan, tapi juga soal budaya. Kalau nggak, ya siap-siap aja generasi koruptor baru lahir dari sana.


Konah Wulanah (CSSMoRA Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia)

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *