Menembus Batas impian


Azhar berdiri di depan gerbang Ma’had Aly As’adiyah dengan koper kecil di tangan dan hati yang berdebar. Ia baru saja tiba di kota Sengkang, meninggalkan desanya yang jauh di pelosok Sulawesi Selatan. Di depannya berdiri bangunan pepohonan yang hijau yang menghiasi gerbang masuk, seakan menyambut setiap langkahnya dengan doa.

“Assalamu’alaikum,” sapa seorang santri senior yang bertugas di pos penerimaan. Wajahnya ramah, membuat Azhar merasa sedikit lebih tenang.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Azhar sambil tersenyum gugup.

Setelah melalui proses administrasi, ia diarahkan ke asrama bersama beberapa teman baru. Mereka semua memiliki mimpi yang sama: menjadi ulama yang bukan hanya fasih dalam ilmu agama, tetapi juga paham terhadap tantangan zaman.

Keesokan paginya, Azhar terbangun oleh suara azan subuh dari masjid utama Ma’had. Suaranya begitu syahdu, memecah keheningan dini hari. Dengan cepat, ia berwudu dan berjalan menuju masjid bersama teman-temannya.

Shalat subuh berjamaah menjadi momen pertama yang mengesankan baginya. Setelah shalat, seorang kiai memberikan pengajian subuh. Isi pengajian itu adalah ikhlas dalam menuntut ilmu. Kata-kata sang kiai seakan langsung menyentuh hati Azhar.

“Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada hati yang gelap oleh niat buruk. Maka luruskan niat, wahai para penuntut ilmu,” ujar kiai dengan penuh wibawa. Azhar merasa tertampar. Ia mengingat kembali niatnya. Apakah ia datang ke sini hanya demi kebanggaan keluarga, atau benar-benar ingin mencari ridha Allah? Ia berjanji dalam hati untuk memperbaiki niatnya.

Tantangan Awal

Hari-hari berikutnya di Ma’had penuh dengan aktivitas. Dari belajar kitab kuning seperti Fathul Mu’in dan matan jurumiah hingga diskusi isu-isu kontemporer dalam bahasa Arab. Azhar merasa kagum sekaligus kewalahan.

Salah satu momen yang menguji mentalnya adalah saat ia diminta mempresentasikan sebuah bab dari Kitab matan jurumiah dalam bahasa Arab. Azhar belum terlalu percaya diri dengan kemampuan bahasanya, tetapi ia mencoba yang terbaik.

“Ahsan! Bagus sekali untuk pemula,” puji kiainya setelah presentasi selesai. Meski begitu, Azhar tahu ia masih harus banyak belajar.

Di asrama, kehidupan sederhana tetapi penuh kebersamaan. Ia mulai dekat dengan teman sekamarnya, terutama Farhan, seorang santri dari Bone yang cerdas dan humoris. Farhan sering membantu Azhar memahami materi yang sulit.

“Tenang saja, harap-harap cemas itu biasa di awal. Nanti kau akan terbiasa dengan keadaan di sini,” kata Farhan sambil tersenyum.

Momen Kesadaran

Suatu malam, setelah selesai pengajian tafsir, Azhar duduk sendirian di depan masjid. Ia menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit. Dalam keheningan itu, ia merenung.

Hidup di Ma’had Aly tidaklah mudah. Jadwal yang padat, disiplin yang ketat, dan ekspektasi tinggi sering kali membuatnya merasa lelah. Namun, ia juga menyadari betapa berharganya kesempatan ini.

“Ini bukan sekadar tempat belajar,” dalam hatinya Azhar berkata: “Ini adalah tempat menempa diri, menjadikan aku lebih dekat dengan Allah.”

Langkah Baru

Hari-hari berlalu, Azhar mulai terbiasa dengan rutinitasnya. Ia menemukan perasaan baru dalam hidupnya—perasaan seorang mahasantri yang berdedikasi. Ia tidak lagi merasa canggung dalam diskusi, bahkan mulai menikmati kajian-kajian yang awalnya terasa berat.

Di akhir semester pertama, Azhar diberi kesempatan menyampaikan pidato dalam sebuah acara maulid nabi di Ma’had. Dengan percaya diri, ia berbicara tentang pentingnya meneladani akhlak Rasulullah.

Tepuk tangan memenuhi aula setelah pidatonya selesai. Dalam hati, Azhar merasa bersyukur. Ia tidak hanya belajar ilmu di Ma’had Aly, tetapi juga menemukan jati dirinya sebagai seorang calon ulama.

Penutup

Permulaan kehidupan Azhar di Ma’had Aly As’adiyah adalah awal dari perjalanan panjangnya. Ia tahu, jalan menuju ilmu dan pengabdian masih penuh liku. Namun, dengan niat yang tulus dan usaha yang keras, ia yakin akan mampu menjalaninya.

Terima kasih.


CssmaaSengkang Ma’hadAly As’adiyah – Asril Basri

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *